beritabernas.com – Paus Leo XIV menutup Pintu Suci (Holly Door/Porta Sancta) Basilika Santo Petrus di Vatikan pada Hari Raya Efifani, Selasa 6 Januari 2026. Dengan demikian, Tahun Jubelium Pengharapan 2025 secara resmi berakhir.
Selama Tahun Pengharapan 2025 sebanyak 33,6 juta peziarah datang ke Vatikan dan melewati Pintu Suci (Porta Sancta) di Basilika Santo Petrus. Para peziarah berasal dari 185 negara, termasuk dari Indonesia.
Tahun Pengharapan Jubelium 2025 membangkitkan antusiasme iman umat Katolik di seluruh dunia, termasuk umat Katolik di Indonesia yang merupakan bagian dari umat Katolik universal. Diperkirakan ribuan umat Katolik dari Indonesia berziarah ke Vatikan sepanjang Tahun 2025. Mereka berangkat secara pribadi atau kelompok menggunakan biro-biro perjalanan wisata ziarah (pilgrim tour) yang ada, salah satunya menggunakan Christour, yang merupakan penyelenggara wisata ziarah yang telah berusia lebih dari 10 tahun yang berpusat di Depok, Jawa Barat.

Ibu Cathy Christoper, owner Christour merasakan, sepanjang tahun Jubelium 2025 ini, antusiasme umat Katolik untuk berziarah ke Vatikan sangat tinggi. Lebih-lebih pada Desember 2025 yang bertepatan dengan perayaan Natal, Tahun Baru, dan penutupan Pintu Suci di Basilika Santo Petrus, dan basilika lainnya di Vatikan. “Pada bulan Desember 2025 ini, kami memberangkatkan sebelas grup ziarah ke Vatikan,” tutur Ibu Cathy.
Ibu Cathy menjelaskan, satu grup rata-rata terdiri dari 22 orang. Grup pertama di bulan Desember ini berangkat 21 Desember dan kembali ke Indonesia pada 3 Januari 2026, dengan rute Roma, Assisi, Milan, Lourdes dan Barcelona. Grup ini didampingi Romo Daniel Lau OFM sebagai pembimbing Rohani.
Sepuluh grup lain berangkat pada waktu yang hampir bersamaan, di minggu ketiga Desember, dan kembali ke Tanah Air pada minggu pertama Januari 2026. Setiap grup didampingi pastor sebagai pembimbing Rohani para peziarah.
Menanggapi antusiasme umat yang tinggi ini, menurut Ibu Cathy, Christour benar-benar mempersiapkan fasilitas yang cukup untuk menampung para peziarah. Yaitu, menambah pesanan kursi pesawat, bus, serta hotel-hotel di semua kota sesuai itinerary. “Kami juga mengadakan briefing untuk semua peserta melalui zoom minimal dua minggu sebelum berangkat,” kata Ibu Cathy.
Baca juga:
- Paus Leo XIV Tutup Pintu Suci Basilika St Petrus Menandai Berakhirnya Tahun Jubelium 2025
- Uskup KAS: Biara Santa Maria Degli Angeli Klepu Harus jadi Rumah yang Nyaman bagi Para Suster
Ibu Cathy mengakui, dengan meningkatnya peserta ziarah yang pergi ke Roma memberikan efek positif ke pertumbuhan profit. Dan, dari sisi pelayanan, ia bersyukur Christour dapat melayani para peziarah dengan baik. “”Kami sangat bersyukur bisa menjadi penyelenggara serta jembatan bagi umat-umat Tuhan yang ingin lebih dekat dan lebih khusyuk berdoa di tempat suci bagi agama Katolik,” kata Ibu Cathy.
Dengan demikian, Christour berharap dapat terus melayani umat Katolik yang ingin berziarah ke Vatikan dan mengalami belas kasih Allah.
Opium rakyat
Bagi Penulis, fenomena membludaknya jumlah peziarah ke Vatikan ini hampir sejalan dengan teori dari Karl Marx. Pemikir sosialis dari Jerman ini menyatakan, bahwa agama adalah sebuah ideologi. Bahkan, Karl Marx menyebut agama sebagai “opium rakyat” (opium of the people), dalam pengertian bahwa agama menawarkan penghiburan di tengah penderitaan manusia.

Puluhan juta peziarah merasakan buah Rohani dari peziarahan mereka di tempat-tempat suci di Eropa. Sebuah penghiburan iman yang kian mendekatkan diri mereka pada Sang Pencipta.
Menurut Marx, penghiburan ini bersifat ilusi, karena agama tidak mengatasi akar penyebab penderitaan tersebut, yaitu ketidakadilan ekonomi dan eksploitasi yang muncul dari sistem kapitalisme. Perlu dipahami bahwa agama adalah Ideologi dalam kerangka teori struktur basis dan suprastruktur. Agama merupakan bagian dari suprastruktur ideologis yang mendukung dan membenarkan tatanan ekonomi yang ada.
Tahun Yubilium 2025 telah menjadi momentum besar bagi umat Katolik di seluruh dunia, terutama bagi mereka yang berziarah ke Vatikan. Jumlah peziarah yang mencapai 33,6 juta orang, membuktikan antusiasme yang tinggi dari umat Katolik untuk mengunjungi Vatikan dan menerima pengampunan dosa di tahun Jubelium ini. (Ima Kulata, Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie Jakarta)

