Hujan Deras Tak Menghalangi Niat Anggota KMZ Berziarah ke Taman Doa Maria Bunda Penuh Kasih

beritabernas.com – Meski diguyur hujan deras tak menghalangi niata anggota Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) berziarah ke Taman Doa Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih yang berada di kompleks Pemkamakan Sukma Sinukarta di Dusun Salam Kenalan, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Minggu 11 Januari 2026.

Sejak memasuki ring road selatan, hujan deras mengguyur. Meski sempat berteduh namun para peserta mlampah ziarah yang berjumlah hampir 50 orang itu kemudian nekad tetap berjalan dengan mengenakan mantol plastik. “Ayo mari kita jalan pelan karena kita tidak tahu kapan hujan mereda,” kata seorang peserta menyemangati rekan-rekannya.

Perlahan tapi pasti, para peserta mlampah ziarah terus berjalan di bawah guyuran hujan dan jalan yang penuh air mirip kubangan. Karena hujan dan sempat salah jalur, jarak yang hanya 22 kilometer lebih dari tempat start Tugu Jogja hingga kompleks Pemkamaan Sukma Sinukarta di Dusun Salam Kenalan, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, itu harus ditempuh dalam waktu hampir 6 jam.

“Baru kali ini mlampah ziarah di luar kegiatan utama Walking Marathon de Sendangsono (WMSS) jarak yang hanya 22 kilometer lebih ditempuh dalam waktu hampir 6 jam bahkan 7 jam. Biasanya cuma maksimal 5 jam,” kata Roni Romel, Ketua Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) dalam acara sharing di joglo kompleks Makam Sukma Sinukarta.

Sebagian peserta mlampah ziarah saat tiba di kompleks makam Sukma Sinukarta, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Minggu 11 Januari 2026. Foto: Dok KMZ

Kegiatan mlamah ziarah ke Taman Doa Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih yang berada di kompleks Pemamaman Sukma Sinukarta ini merupakan pemanasan sebelum mengikuti Walking Marathon de Sendangsono ke-7 (WMSS#7) pada 18 Januari 2026. Mlampah ziarah sebagai pemanasan menjelang WMSS sebagai kegiatan utama setiap bulan ini biasa dilakukan dengan tujuan berbeda-beda, seperti ke Gua Maria Jatingningsih Godean, Gua Maria Sriningsih Prambanan, Klaten, Taman Doa Hati Kudus Tuhan Yesus (KTY) Ganjuran, Gua Maria Pojok Turi, Sleman dan sebagainya.

Kegiatan mlampah ziarah ke Taman Doa Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih, Minggu 11 Januari 2026, memang kondisinya sangat berbeda dibanding ke tempat-tempat lainnya. Selain cuaca yang kurang mendukung (hujan deras hampir sepanjang jalan), juga karena peserta sering kehilangan rute yang ditentukan panitia. Hal ini terjadi karena tidak adanya penunjuk arah di setiap persimpangan.

Karena itu, dalam sharing pengalaman, seorang peserta, Antonia, meminta peserta yang berada di depan untuk menunjukkan solidaritas kepada peserta yang masih jauh di belakang dengan berhenti sejenak di setiap persimpangan sebagai petunjuk arah. Karena ketika tidak melihat peserta yang ada di depan, peserta yang jauh di belakang pun bingung harus belok kiri-kanan atau lurus. Hal ini membuat sebagian peserta salah jalur sehingga harus mengontak kepada penentu rute untuk menanyakan arah atau jalur yang benar. “Kami mohon maaf, ini kesalahan kami. Ke depan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi,” janji Roni Romel.

Ketika sampai di tempat tujuan, para peserta istirahat sejenak dengan makan dan minum yang disediakan orang-orang yang baik hati. Setelah makan siang bersama, peserta mengadakan doa rosaria lalu doa pribadi di depan Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih dan foto bersama lalu pulang ke rumah masing-masing dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun ojek online.

Makam Sukma Sinukarta

Kompleks pemakaman Sukma Sinukarta yang merupakam makam khusus bagi umat Katolik ini berada di Dusun Salam Kenalan, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Kompleks pemakaman ini dilengkapi dengan Columbarium yakni sejenis laci kecil untuk menyimpan abu dan tulang belulang jazad yang sudah dimakamkan minimal delapan tahun.

Para peserta mlampah ziarah foto bersama di depan Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih, Minggu 11 Januari 2026. Foto: Dok KMZ

Dari catatan beritabernas.com, peletakan batu pertama pembangunan Columbarium dilakukan Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko pada hari Jumat 10 September 2021. Ketika itu, beritabernas.com juga hadir langsung.

Di kompleks pemakaman Sukma Sinukarta yang dikelola oleh Paguyuban Sukma Sinukarta Jogjakarta (PSSJ) dengan luas lahan hampir 9.000 meter persegi ini juga terdapat Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih.

Seperti dikutip dari bernasnews.com, Dr FA Joko Siswanto selaku pengelola Kompleks Pemakaman dan Columbarium Sukma Sinukarta mengemukakan, makam Sinukarto berawal dari keprihatinan dimana satu umat Katolik yang dimakamkan pukul 16.00 WIB di suatu pemakaman umum harus dipindah malam itu juga. Selain itu, banyak umat Katolik yang tinggal di kota dan perumahan mengalami kesulitan untuk mendapatkan tempat pemakaman yang layak, baik karena mahalnya biaya pemakaman atau karena lahan pemakaman yang terbatas.

Menurut Joko Siswanto, visi dari Yayasan Sukma Sinukarto adalah membantu mereka yang mengalami kesulitan dan tidak berorientasi pada bisnis, dengan motto Mikul Duwur Mendem Jero atau mengharumkan, meluhurkan dan memuliakan para jiwa saudara-saudara yang telah dipanggil Tuhan.

Candi Bunda Maria

Ide pembangunan Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih yang berada satu kompleks dengan area pemakaman berawal dari keinginan pengurus untuk menghadirkan suasana makam yang bersih, indah dan memberikan kenyamanan bagi para peziarah atau ahli waris yang akan berdoa untuk keluarga yang dimakamkan di sana.

Arsitektur dari Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih merupakan inkulturasi dari budaya setempat, mengikuti pendahulunya, yakni Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran, Bantul yang merupakan pelopor tempat ziarah yang memadukan kearifan lokal.

Bahan utama yang digunakan untuk pembangunan candi berasal dari bata merah, dan bukan batu andesit. Tinggi candi sekitar 9 meter, fasat bangunan terdiri dari tiga bangunan utama, yakni kaki, badan dan kepala. Hal ini melambangkan Tri Tunggal Mahakudus, bermakna Allah yang mewujud dalam tiga pribadi yaitu Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus.

Baca juga:

Ruangan utama dalam candi mempunyai luas sekitar 16 meter dan berlantai kayu parqet, dan di sinilah Patung Ibu Maria Bunda Penuh Kasih ditahtakan. Patung Ibu Maria yang dalam kondisi mengandung tanpa noda, memberi pengingat kepada umat akan ketaatan, kepercayaan Bunda Maria, keimanan yang dalam akan kuasa Roh Kudus.

Menurut Joko Siswanto, Makam Sukma Sinukarta, Columbarium dan Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih dapat terwujud karena adanya kuasa Roh Kudus, melalui tangan tangan para donatur. Pada awal masa pendirian, Paguyuban Sukma Sinukarto tidak mempunyai modal sama sekali, atau sangat minim.

Namun percaya akan belas kasih Allah dan kuasa Roh kudus, pengurus terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan diperkuat dengan Doa Novena sejak 17 Agustus 2004, dan terwujudlah apa yang menjadi harapan. Doa Novena masih dijalankan sampai sekarang setiap bulan ada misa pada minggu pertama pukul 10.00 -11.30 WIB di Columbarium.

Di depan area halaman candi, terdapat beberapa bangku panjang, dimana umat dapat berdoa dengan nyaman, ditemani hembusan angin sepoi dan suara kicau burung yang terbang di antara pepohonan. Pada bagian belakang Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih terdapat ruang doa yang bernama Panti Semedi, dengan patung Santo Yusuf dan kanak kanak Tuhan Yesus dalam gendongannya.

Para peserta mlampah ziarah foto bersama di Tugu Jogja sebelum berjalan menuju Taman Doa Ibu Maria Bunda Penuh Kasih di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Minggu 11 Januari 2026. Foto: Dok KMZ

Ruangan berlantai kayu parqet ini sangat sejuk dan hening, membawa ketenangan bagi siapapun yang berdoa di ruangan tersebut. Hal ini sangat cocok dengan nama yang diberikan, yaitu Panti Semedi, tempat di mana orang dapat berdoa dengan khusyuk, mengarah dan berserah kepada Sang Pemilik Hidup, Tuhan Yang Maha Pemurah dan Pengasih.

Di sisi belakang candi juga terdapat beberapa kran air, dimana umat dapat mengambil air suci. Air ini berasal dari sumber mata air, berupa sumur tua yang ada di sekitar candi, dan dapat dikonsumsi secara langsung, karena sudah melalui proses filterisasi.

Lokasi ini terbuka 24 jam untuk para peziarah, tersedia juga area parkir yang cukup luas. Namun bagi peziarah yang hendak berkunjung secara berombongan atau menggunakan bus besar, ada baiknya menghubungi pengelola, agar dapat diarahkan untuk lokasi parkir kendaraannya.

Toilet bersih juga tersedia bagi pengunjung, bahkan saat ini sedang dibangun juga toilet yang baru untuk para lansia (difable). Pada bulan November 2025 mulai dibangun juga fasilitas berupa pemandian Santa Ana dan Santo. Yoakim, mengadopsi pemandian serupa yang ada di Lourdes, yang penggunaannya disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia.

Joko Siswanto menambahkan, ke depan akan dibangun beberapa fasilitas tambahan di lingkungan tempat ziarah ini, termasuk rumah duka. (phj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *