Mlampah Ziarah di Malang, dari Keramaian Menuju Keheningan

beritabernas.com – Kegiatan mlampah ziarah (ziarah dengan jalan kaki) di Malang, Jawa Timur pada Minggu 25 Januari 2026 memiliki makna simbolik yang sangat kuat. Hal ini tergambar dari lokasi start di Tugu Singo yang berada persis di depan Stasiun Kereta Api Malang Baru dan finish di Pertapaan Karmel di Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo (wilayah Tumpang), Kabupaten Malang.

Suasana lokasi Tugu Singo yang begitu ramai dan penuh hiruk pikuk kendaraan berbanding terbalik dengan suasana lokasi tujuan mlampah ziarah yakni Pertapaan Karmel Ngadireso yang tenang dan hening. Perjalanan dari tempat yang ramai menuju tempat yang hening ini dimaknai bukan sekadar perpindahan tempat tetapi perubahan sikap, dari serba tergesa-gesa dan tanpa arah menuju ketenangan jiwa, dari kegelapan hati menuju kesadaran baru akan sesuatu yang baik.

Baca juga:

Hal ini digambarkan Romo Andik Darmawanto OCarm dalam homili pada misa yang diikuti peserta mlampah ziarah Tugu Singo-Pertapaan Karmel Ngadireso. Menurut Romo Andik, stasiun identik dengan tempat orang yang bingung kehilangan arah dan mencari arah, tempat semua orang/penumpang berjalan dengan cepat dan serba tergesa-gesa, ramai dan hiruk pikuk, tempat orang datang dan pergi, berpisah. Sementara Pertapaan Karmel merupakan tempat yang hening, tenang, tidak ada orang yang tergesa-gesa.

Di antara lokasi start dan finish itu, kita saling mendengarkan, ada yang mendapatkan kesadaran baru ketika melewati 6 makam sepanjang perjalanan, ada yang merasakan sapaan Tuhan melalui keramahan mereka yang ada di sepanjang perjalanan. Itulah sebenarnya perjalanan peziarahan, peziarahan iman.

Peserta mlampah ziarah foto bersama di lokasi starf depan Patung Singo Malang. Foto: Dok KMZ

Perjalanan dari tempat yang sibuk ke tempat yang tenang, kata Romo Andik, Tuhan hadir dalam perjalanan kita. Sebagai contoh, ketika kita mulai capai dan lelah ada yang menyapa, memberi semangat. Kita pun merasa kembali bersemangat, terus melampah sampai tujuan. “Jadi, Tuhan tidak hanya ada di tempat tujuan, tapi Tuhan berjalan bersama kita,” kata Romo Andik.

Perjalanan ziarah, kata Romo Andik, bukan sekadar berpindah tempat dari lokasi start ke tempat tujuan/ finish, tapi kita meninggalkan kenyamanan dan ego selama dalam perjalanan. Ketika kita lelah maka di situ kita ditantang untuk melihat diri kita sendiri, untuk terus melangkah dan mengarahkan pikiran untuk terus berjalan sampai tujuan. Kita melihat teman yang lelah lalu bergenti, lalu kita mendampingi ikut memberi semangat.

“Perjalanan hari ini kita jadikan sebuah bekal untuk perjalanan pertobatan, perjalanan iman menuju yang lebih baik, menuju iman yang sungguh terang. Meski menyisakan rasa lelah secara fisik badan kita, tapi juga menyisakan sebuah tantangan bagi kita untuk berkembang dan betumbuh dalam iman serta menumbuhkan semangat pertobatan dalam hidup kita,” harap Romo Andik.

Berlangsung sukses

Kegiatan mlampah ziarah yang diadakan Komunitas Mlampah Ziarah chapter Malang ini berlangsung sukses. Hampir 100 peserta yang berasal dari beberapa daerah, seperti Surabaya dan sekitarnya, Jogja, Solo dan Malang benar-benar menikmati perjalanan ziarah menempuh jarak sekitar 24 kilometer itu dengan penuh sukacita.

Orang Muda Katolik (OMK) Malang yang ikut mendukung kesuksesan kegiatan mlampah ziarah di Malang, Minggu 25 Januari 2026. Foto: Dok KMZ

Tim Mlampah Ziarah chapter Malang benar-benar menyiapkan kegiatan ini dengan matang sehingga hampir tidak ada kendala apapun, termasuk tidak ada yang tersesat atau keblasuk. Semua bisa berjalan di rute yang ditentukan.

Hal ini terjadi karena tim menyiapkan kegiatan dengan matang dan rapih. Sebagai contoh, di setiap persimpangan selalu ada relawan bermotor yang mengarahkan peserta ke rute yang ditentukan. Kalau pun tidak ada relawan yang standby di persimpangan, tim sudah menuliskan panah di aspal jalan yang memudahkan peserta mengetahui rute yang ditentukan.

“Terima kasih kepada AH Hendrawanto⁩ dan tim yang Malang yang sangat luar biasa. Tim kecil tapi kerja seperti event berkelas,” puji Roni Romel, Ketua Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ), setinggi langit atas keberhasilan Tim Malang mengadakan kegiatan mlampah ziarah untuk pertama kalinya atau yang kedua di luar Jogja setelah Solo.

Roni Romel yang datang full team dalam satu keluarga juga berterima k kasih kepada semua peserta mlampah ziarah yang dengan sukarela dan penuh pengobarnan datang jauh-jauh dari berbagai daerah untuk mengikuti mlampah ziarah di Malang.

Peserta mlampah ziarah foto bersama di depan Gua Maria Pertapaan Karmel Ngadireso, Minggu 25 Januari 2026. Foto: Dok KMZ

“Tim kecil tapi kerja seperti event berkelas” yang digambarkan Roni Romel tentang apa yang dilakukan tim Malang memang sangat tepat. Betapa tidak, tim yang hanya terdiri beberapa anggota, termasuk OMK, itu bisa menyelenggakan kegiatan dengan begitu rapih, lancar dan sukses. Mulai dari start, selama perjalanan, sampai finisih hingga kembali/pulang, sudah disiapkan dengan matang.

Ketika start semua peserta diberikan snack dan minum, dalam perjalanan di beberapa CP disediakan minuman, di persiampangan ada OMK yang standby, di tempat finish disedikan makan siang yang enak dengan tempat yang nyaman dan ketika pulang sudah disediakan shuttle. Semua berjalan lancar.

“Luar biasa tim Malang,” puji Agnes, salah seorang peserta mlampah ziarah. “Ya, tim Malang hebat. Semua disiapkan secara matang sehingga kegiatan berlangsung sukses tanpa kurang suatu apapun,” imbuh Nia, peserta lainnya.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua peserta mlampah ziarah yang telah berpartisipasi dalam kegiatan kali ini. Kami juga berterima kasih kepada Ketua Komunitas Mlampah Ziarah atas dukungannya sehingga kegiatan ini bisa berjalan dengan baik. Bila ada hal-hal yang kurang berkenan, atas nama tim saya mohon maaf,” kata AH Hendrawanto yang biasa disapa Pak Hogy usai acara berlangsung. (phj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *