beritabernas.com – Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) kembali mengadakan Walking Marathon de Sendangsono (WMSS) pada bulan Pebruari 2026. Namun, pelaksanaan WMSS yang ke-8 ini berbeda dengan peyelenggaraan sebelumnya. Kali ini, WMSS sangat spesial.
Mengapa disebut spesial? Menurut Ketua Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) Roni Romel, selain karena jumlah peserta sangat selektif dan terbatas hanya 64 orang dari biasanya di atas 200 orang bahkan sempat di atas 400 orang, juga karena rute yang dilalui sangat menantang dan berbeda dibanding WMSS sebelumnya. Selain itu, WMSS spesial berlangsung dua hari dan para peserta akan menginap di Sendangsono.
Baca juga:
- Mlampah Ziarah di Malang, dari Keramaian Menuju Keheningan
- Komunitas Mlampah Ziarah Menjadi Inspirasi yang Menggerakkan Umat untuk Berpartisipasi
- Tiada Hari Tanpa Mlampah Ziarah, Kurang Gawean?
Dalam WMSS spesial atau WMSS#8 yang dilaksanakan pada 14-15 Pebruari 2026, menurut Roni Romel, peserta akan menapaki jejak misionaris di Tanah Jawa yakni napak tilas rute misionaris romo Van Lith, Bernabas Sarikromo dan Romo Prennthaler, mulai atau start dari Gereja Muntilan lalu lewat Mendut, Borobudur, Puncak Majaksingi, Kapel Kerug, Boro dan finish di Sendangsono. Jarak yang ditempuh sejauh 32 kilometer dengan target waktu sekitar 10 jam.
Sekadar informasi, Romo Frans van Lith SJ (1863–1926) merupakan misionaris Yesuit asal Belanda yang dikenal sebagai pelopor misi Katolik di Jawa Tengah dan pejuang pendidikan pribumi. Ia mendirikan pusat pendidikan di Muntilan, membaptis orang Jawa pertama di Sendangsono (1904) bernama Bernabas Sarikromo dan menyelaraskan ajaran Katolik dengan budaya.
Sementara Romo JB Prennthaler SJ (1885-1946) adalah misionaris Jesuit asal Austria yang berperan penting sebagai perintis agama Katolik di wilayah Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, DIY. Ia juga dikenal sebagai Pedibus Apostolorum (Rasul pejalan kaki) karena melayani umat di medan perbukitan yang sulit dengan berjalan kaki. Romo Prennthaler juga berjasa membangun gereja (termasuk Paroki Boro), sekolah dan meningkatkan kesejahteraan warga setempat serta mengembangkan iman Katolik di wilayah Kalibawang dan sekitarnya, menindaklanjuti pembaptisan awal oleh Romo van Lith.
Karena jarak yang cukup jauh dan elevasi yang cukup tinggi sehingga peserta yang mengikuti WMSS spesial benar-benar selektif. Dari sekian ratus yang mendaftar pada tahap pertama, kemudian dipilih 64 orang yang mengikuti WMSS spesial. Mereka yang terpilih dinilai sudah teruji dan diyakini mampu melewati rute spesial kali ini. Di antara kriteria penilaian peserta WMSS spesial adalah sudah mengikuti minimal 3 kali WMSS reguler/rutin setiap bulan dan sampai finish tanpa evakuasi.

Dalam briefing WMSS spesial yang disampaikan AM Kuncoro, Sekjen Komunitas Mlampah Ziarah, disebutkan bahwa rute yang dilalui pada WMSS spesial sejauh 32 kilometer dengan elevation gain mencapai 1.000 meter atau 1 kilometer, elevasi uphill (total tanjakan) 8 kilometer, elevation loss atau total jalan menurun 8 kilometer dan downhill (lereng) sejauh 12,5 kilometer.
Meski para peserta WMSS spesial sudah teruji ketangguhannya selama mengikuti WMSS reguler, namun panitia tetap menyediakan team support dengan standar WMSS, kecuali tanpa sign dan tanjakan km 12-17 tidak ada tim evakuasi.
“GPX adalah satu-satunya alat bantu penunjuk arah utama untuk semua peserta. Karena itu, pastikan sudahdownload aplikasi GPX viewer dan bisa menggunakannya,” kata Kuncoro.
Sementara mandatory gear yang wajib dimiliki peserta adalah sepasang trekking pole, salonpas spray dan oxigen portable. “Apabila peserta tidak membawa semua mandatory gear tersebut maka yang bersangkutan wajib menandatangani form “Pelepasan Tanggung Jawab” yang akan disiapkan oleh relawan di CP#2,” tegas AM Kuncoro.

Selanjutnya semua peserta WMSS spesial akan beristirahat malam di penginapan “Ibu Kita” & penginapan “Berkah Ibu” Sendangsono dengan biaya “suka rela” dengan mengisi kotak donasi penginapan dan akomodasi di CP#6 Gasebo Sendangsono.
Rangkaian acara pun sudah disiapkan oleh panitia. Pada Sabtu 14 Februari 2026 pukul 04.30 peserta sudah berada di Gereja Muntilan untuk registrasi lalu pada pukul 05.00 start di Gereja Muntilan dan pukul 15.00 ditargetkan sampai finish di Sendangsono. Selanjutnya pada pukul 18.45- 21.30 ada serangkaian acara di Sendangsono antara lain sharing pengalaman dan pukul 21.00-05.00 istirahat malam.
Selanjutnya pada Minggu 15 Februari 2026 pukul 06.00 coffee break (disiapkan oleh relawan) dan sarapan (mandiri) lalu pukul 09.00 Misa Kudus & perutusan Mlampah Ziarah kota-koa dan pukul 10.30 pulang
menggunakan shuttle dengan 2 pilihan tujuan pulang, Muntilan atau Tugu Jogja. (phj)
There is no ads to display, Please add some