Warga Desa Sidobunder Mendukung Herman Yoseph Fernandez jadi Pahlawan Nasional

beritabernas.com – Warga Desa Sidobunder, Gombong, Jawa Tengah mendukung penuh pejuang Herman Yoseph Fernandez, salah satu Tentara Pelajar yang gugur dieksekusi tentara Belanda, untuk menerima gelar Pahlawan Nasional. Dengan terangkatnya Herman Yoseph Fernandez menjadi Pahlawan Nasional maka nama tempat perjuangannya, yakni Desa Sidobunder, juga akan ikut terangkat.

“Kami mendukung penuh Herman Yoseph Fernandez diangkat jadi Pahlawan Nasional karena perjuangannya nyata dan jenasahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta,” kata Bambang Priyambodo, Ketua Tunas Patria Putra Putri TP Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, saat menerima Tim/Panitia Pengusul Kepahlawanan Nasional Herman Yoseph Fernandez, Kamis 5 Pebruari 2026.

Pada kesempatan itu, Bambang Priyambodo mengungkapkan cerita sejarah terjadinya Pertempuran Sidobunder dan beberapa tokoh sejarah pertempuran di Sidobunder. Bambang juga menunjukkan keberadaan bunga di plafon pendopo yang mewakili jumlah para pejuang Tentara Pelajar dan warga yang gugur dalam pertempuran Sidobunder.

Herman Yoseph Fernandez, putra asal Lamaholot, Flores Timur, NTT, adalah penjuang Tentara Pelajar (TP) yang meninggal pada 31 Desember 1948 akibat dieksekusi tentara Belanda. Jenasahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara Yogyakarta.

Tim/Panitia Pengusul Kepahlawanan Nasional Herman Fernandez melakukan napak tilas perjuangan Tentara Pelajar tersebut. Foto: Istimewa

Selain Bambang Priyambodo, beberapa sesepuh desa yang merupakan saksi sejarah pertempuran di Sidobunder juga bersaksi dan menceritakan pengalaman mereka saat pecahnya pertempuran Sidobunder. Di Desa Sidobunder–tempat terjadinya pertempuran Sidobunder, 2 September 1947- terdapat dua monumen peringatan dan penghormatan untuk para pahlawan Tentara Pelajar serta penduduk desa yang gugur dalam pertempuran tersebut.

Tugu pertama yang sangat sederhana, pendek dan berwarna hitam bergaris putih dibangun tahun 1959 di pertigaan jalan Sidobunder tepat di depan Kantor Desa Sidobunder. Pada tahun 1984, dibangunlah monumen Balai Desa berbentuk joglo di sebelah utara tugu pertama, yang diresmikan oleh Menteri Transmigrasi Martono saat itu.

Pada masa kepemimpinan Bupati Kebumen Rustriningsih, 23 Maret 2000-1 Agustus 2008, dibangun pula tugu baru Sidobunder yang semula dimaksudkan untuk menggantikan tugu pertama yang posisinya dirasa mengganggu lalu lintas.

“Namun percaya atau tidak, satu hal misterius terjadi, niat untuk merobohkan tugu pertama tidak pernah dapat terlaksana, sehingga kemudian tugu pertama tetap dipertahankan sampai sekarang,” kata Bambang Priyambodo.

Pada Tugu yang baru Sidobunder dipasang tiga prasasti yang kondisinya sudah memprihatinkan dengan huruf yang nyaris tak terbaca. Salah satu prasasti mengabadikan nama para Tentara Pelajar dan warga desa yang gugur, termasuk nama Herman Yoseph Frenandez yang tercatat pada nomor urut 82.

Dalam silaturahmi tersebut, secara umum warga Desa Sidobunder mendukung penuh usulan Herman Yoseph Fernandez menerima gelar Pahlawan Nasional. “Kami dari pemerintah Desa dan masyarakat Sidobunder sangat mendukung dan sangat berharap agar usulan atau pengajuan gelar pahlawan untuk Herman Yoseph Fernandez bisa disetujui Presiden Prabowo Subianto. Demikian juga tokoh-tokoh masyarakat Desa Sidobunder yang dulu mengenal dan tahu persis perjuangan dan peristiwa pertempuran Sidobunder,” ujar Sarno, Kepala Desa Sidobunder.

Napak tilas

Napak tilas jejak perjuangan Herman Yoseph Fernandez yang dilakukan Tim/ Panitia Pengusul Kepahlawanan Nasional Herman Yoseph Fernandez berawal dari palagan Sidobunder, Gombong, Jateng pada 5 Pebruari dan 2026 dan berakhir di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta, pada Minggu 8 Pebruari 2026.

Prasasti yang mencantumkan nama-nama Tentara Pelajar dan warga desa yang gugur, termasuk nama Herman Yoseph Frenandez yang tercatat pada nomor 82. Foto: Putut Prabantoro

Menurut AM Putut Prabantoro, Pendiri sekaligus Penasihat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) yang ikut mendampingi Tim/ Panitia Pengusul Kepahlawanan Nasional Herman Yoseph Fernandez dalam melakukan napak tilas, mengungkapkan, bahwa napak tilas berawal dari palagan Sidobunder. Pertempuran di Sidobunder pada 1947 itu sendiri menegaskan kepahlawanan pemuda asal Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut.

Ia berjuang selama 21 hari bersama 23 rekan Tentara Pelajar lainnya. Keberanian, keuletan, daya juang dan nasionalisme Herman Fernandez sangat pantas dianugerahi Pahlawan Nasional. Karena perjuangan dan perlawanan Herman Yoseph Fernandez, tentara Belanda yang datang dari arah barat untuk menyerang Yogyakarta, perjalanannya terhambat. Pria kelahiran Flores 3 Juni 1925 itu menunjukan kesetiakawanan yang amat tinggi saat menyelamatkan Alex Rumambi yang terluka oleh peluru Belanda.

Tim Pengusul terdiri dari Letjen (Purn) Kiki Syahnakri, Brigjen (Purn) Andreas Mere, Rikard Mosa Dhae, serta kerabat Herman Yoseph Fernandez yakni pasangan suami-istri Jacob Riberu-Susi Riberu, Grace Siahaan Njo dan Icha Lamury. Mereka melakukan napak tilas selama tiga hari ke sejumlah tempat yang merupakan jejak perjuangan Herman Yoseph Fernandez, di Gombong, Kebumen, Muntilan hingga Yogyakarta pada 5-8 Februari 2026.

Grace Siahaan Njo, keponakan kandung Herman Yoseph Fernandez, mengungkapkan napak tilas dilakukan untuk menyempurnakan dokumen primer yang diminta pihak Kementerian Sosial (Kemensos) terkait pengusulan Herman Fernandez sebagai pahlawan nasional.

Baca juga:

”Dalam tiga hari ini kami melakukan napak tilas untuk menyempurnakan dokumentasi dan data-data primer yang diperlukan. Kami ingin Herman Yoseph Fernandez dapat ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 2026 ini,” ujar Grace, dalam pertemuan dengan media di Yogyakarta, Sabtu 6 Februari 2026.

Monumen Sidobunder dan misteri tugu hitam bergaris putih

Setibanya di Stasiun Gombong, Jumat 5 Februari 2026 siang, rombongan tim pengusul disambut oleh Kepala Desa Sidobunder Sarno dan sejumlah pengurus Tunas Patria Putera Puteri Tentara Pelajar (TP) Kabupaten Kebumen, antara lain Ketua Bambang Priyambodo, Sigit, Tri Nugroho, Eko dan Bayu. Sejak itu, perjalanan napak tilas dimulai.

Setelah makan siang bersama, rombongan bergerak menuju Pendopo Balai Desa Sidobunder. Di sini, Tim Pengusul melakukan silahturahmi dengan para tokoh masyarakat saksi sejarah Palagan Sidobunder. Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam ini dihadiri juga oleh anggota Tunas Patria Putera-Puteri Tentara Pelajar (TP), Kepala Desa Sidobunder, Camat Puring, Danramil Puring, Kapolsek Puring dan lain-lain.

Pada hari ke-2, napak tilas dilakukan ke sejumlah tempat bersejarah terkait jejak perjuangan Herman Fernandez dimulai dari Benteng Van der Wijck dan bekas Markas CPM- tempat Herman Fernandez dipenjara dan dieksekusi Belanda.

Di depan bekas Markas CPM, Bambang Priyambodo menjelaskan bahwa Herman Fernandez sempat dipenjara dan kemudian dieksekusi mati oleh Belanda di tempat itu. “Markas CPM terakhir berfungsi sekitar tahun 1985, setelah itu dibiarkan terbengkalai seperti ini,” katanya.

Menurut Bambang, Benteng Van der Wijck secara fungsional bukanlah benteng pertahanan melainkan kantor administrasi dan tempat pendidikan bagi tentara. “Pak Harto (mantan Presiden Soeharto, red) pernah sekolah di sini saat menjadi Tentara KNIL,” katanya.

Sebuah tugu yang sangat sederhana, pendek dan berwarna hitam bergaris putih dibangun tahun 1959 di pertigaan jalan Sidobunder tepat di depan Kantor Desa Sidobunder. Foto: Putut Prabantoro

Dari Benteng Van der Wijck, rombogan Napak Tilas mampir ke Monumen Kermit di Desa Grenggeng-awal pecahnya pertempuran Sidobunder. Tak banyak cerita di monumen ini, sebab tidak berkaitan langsung dengan kisah pertempuran Herman Yoseph Fernandez.

Napak tilas di sekitar Gombong dan Kebumen tuntas, setelah rehat makan siang, Kepala Desa Sidobunder Sarno dan Bambang Priyambodo cs dari Tunas Patria melepas Tim Pengusul untuk melanjutkan perjalanan ke Muntilan.

Di SMA Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan-di samping meminta data dan dokumen yang diperlukan terkait masa-masa Herman Fernandez menimba ilmu bersama Yos Sudarso, Alex Rumambi, Cornel Simanjuntak, Liberty Manik, Binsar Sitompul, Suwandi, dan lain-lain, Tim Pengusul menyempatkan diri untuk tur keliling sekolah, termasuk melihat patung alumni Van Lith yang menjadi tokoh dan Pahlawan Nasional.

Pada hari terakhir napak tilas, Tim Pengusul bergeser ke kota Yogyakarta dengan agenda berziarah atau nyekar ke makam mendiang Herman Fernandez di TMP Kusumanegara dan ditutup dengan kunjungan ke Monumen Jogja Kembali (Monjali)-tempat nama Herman Yoseph Fernandez dipahat di tembok memorabilia. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *