Kirab Budaya dan Gunungan Meriahkan Ruwahan Ageng Kyai Ageng Wonosegoro di Dusun Segaran Kedulan

beritabernas.com – Warga Dusun Segaran, Kedulan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman menggelar Ruwahan Ageng Kyai Wonosegoro dengan kirab budaya dan gunungan hasil bumi di Umbul Wonosegoro pada Jumat 13 Februari 2026. Acara ini sebagai bentuk nguri-uri budaya dan wujud rasa syukur masyarakat. Gunungan hasil bumi diarak bersama-sama di jalanan kampung dan menjadi gelaran budaya yang menarik.

Sehari sebelumnya, Ruwahan Ageng Kyai Wonosegoro yang mengusung tema “Nyawiji Ngupadi Raharjaning Kedulan” melaksanakan kegiatan gotong royong nguras umbul, ziarah makam Kyai Wonosegoro, tirakatan, doa bersama, dan sarasehan sejarah Umbul Wonosegoro.

Baca juga:

Lurah Tirtomartani Kalasan, Sleman, Indra Gunawan, melepas ruwahan yang dikemas kirab budaya di halaman Masjid Al Ikhlas Segaran. Prosesi didahului Bregada Wonosegoro, disusul Bregada Sekar Pangawikan dan tiga gunungan, serta bregada warga memakai baju adat serta kesenian.

Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, Ishadi Zayid dalam sambutannya secara pribadi menyatakan bangga dan berterima kasih karena warga di Pedukuhan Segaran sudah melaksanakan jalannya nyadran ageng yang pertama kali dilaksanakan dan terlihat meriah.

“Nyadran itu salah satu tradisi yang harus kita lestarikan, karena pelaksanaan nyadran itu tidak bisa kita lihat dari wujud lahiriah, tapi harus kita lihat sebagai salah satu wujud dari doa puji syukur pada Yang Maha Kuasa. Kita berdoa karena diberi keberkahan, kesejahteraan, kesehatan, dan lain-lainnya. Ini berkah dari Tuhan yang harus kita syukuri. Nyadran ini juga salah satu permohonan dari kita kepada Tuhan–semoga di masa mendatang keadaan masyarakat Pedukuhan Segaran selalu dilindungi dan mendapatkan kesejahteraan, kemuliaan, kesehatan, dan ekonomi yang berkecukupan. Nyadran harus kita pahami filosofinya. Nyadran adalah tradisi adi luhung dan harus kita lestarikan bersama.”

Lurah Kalasan, Indra Gunawan melepas kirab budaya. Foto: Clementine Roesiani

Ishadi juga membacakan sambutan tertulis dari Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa yang mendukung jalannya kirab budaya Ruwahan Ageng Kyai Wonosegoro di Segaran. Danang berharap acara ini dapat menjadi sarana mengembangkan potensi di Kalurahan Tirtomartani, karena Ruwahan Ageng ini salah satu tradisi luhur masyarakat Jawa yang penuh makna spiritual, historis, dan sosial. Tradisi ini mengingatkan kita pada leluhur. Ruwah adalah bulan muhasabah. Selain ke makam leluhur, kita juga mengingat kematian. Kita bisa bermuhasabah, kemudian saling menjaga silaturahmi.

“Kirab budaya yang kita laksanakan ini menggambarkan banyaknya tradisi lokal, termasuk di Segaran Kedulan. Bukan sekadar tradisi, namun juga memiliki makna supaya kita menjaga kelestarian alam lingkungan di sekitar kita dan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena diberi tanah yang subur, rejeki yang melimpah, termasuk permohonan untuk harmoni dan keutamaan hidup. Kita berupaya menjaga keindahan yang diciptakan dengan menjaga keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam sekitar,” katanya.

“Falsafah Jawa ini masih selaras dengan tantangan zaman saat ini. Ketika kemajuan zaman dan teknologi berkembang pesat, Pemerintah Kabupaten Sleman memiliki komitmen menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya adi luhung ini sebagai jati diri masyarakat Jawa,” tambahnya.

“Kemajuan teknologi kita terima dengan bijak, tanpa meninggalkan jati diri kita. Karena tradisi budaya sebagai salah satu dasar membangun karakter dan jati diri untuk andhap asor, hormat pada sesepuh, dan mencintai budayanya sendiri,” tulis Danang.

Sementara dalam wawancara terpisah, Panewu Kalasan, Samino menuturkan, Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya, memiliki ciri khas bentuk kirab bregada. Ini identitas lokal yang bersumber dari kekhasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman.

Dukuh Kedulan, Hari Susanto berharap tahun depan Ruwahan Ageng bisa lebih meriah. Foto: Clementine Roesiani

Dukuh Kedulan, Hari Susanto, berharap tahun depan acara ruwahan bisa lebih meriah. Ia menjelaskan, ruwahan digelar di Umbul Wonosegoro, karena Umbul Wonosegoro adalah cikal bakal Dusun Segaran dan ada kaitan erat dengan makam Kyai Wonosegoro yang lokasinya berdekatan, sekaligus untuk pelestarian mata air.

“Tahun-tahun sebelumnya kita hanya kenduri biasa. Kalau sekarang dikemas dengan sedekahan gunungan hasil bumi. Gunungan ini hasil murni petani Segaran Kedulan. Hasil pertanian kita sedekahkan, dengan harapan panen berikutnya melimpah ruah. Saya ingin tahun depan bukan hanya 2 RT yang terlibat dalam ruwahan, tapi kita kolaborasikan 8 RT sepedukuhan.”

Hal senada dituturkan oleh Ketua RW Kedulan sekaligus ketua pengelola Umbul Wonosegoro, Hartono. Ia mengungkapkan, tahun depan acara ini bisa melibatkan 8 RT sepedukuhan. Persiapan gelaran acara ini dimulai sejak awal Desember tahun lalu.

“Acara ini tidak hanya menjadi acara tradisional, tetapi juga sebagai sarana untuk melestarikan budaya, memperkuat persaudaraan, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga tradisi dan budaya lokal, “ujarnya mengakhiri.

Ruwahan Ageng Kyai Wonosegoro dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Panewu Kalasan, Lurah Tirtomartani, Kamituwo Tirtomartani, dan Kapolsek Kalasan yang diwakili Panit Lantas Polsek Kalasan. (Clementine Roesiani)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *