beritabernas.com – Sebagai upaya mengabadikan rekam jejaknya dalam menulis berita terkait dengan kegiatan di Komunitas Yuk Menulis (KYM) yang diikuti sejak tahun 2020, Guru MTsN 3 Bantul Sutanto menulis 2 buku. Kedua buku tersebut masing-masing berjudul Jejak Waktu di Antara Kata Jilid 1 dan Jejak Waktu di Antara Kata Jilid 2. Buku jilid 1 merupakan rangkuman berita yang ditulis kurun waktu tahun 2020-2023, sedangkan jilid 2 berisi rangkuman berita yang ditulis kurun waktu tahun 2024-2025.
“Buku jilid 1 setebal 152 halaman, sedangkan jilid 2 setebal 166 halaman. Keduanya diberi pengantar langsung oleh Mbak Vitriya Mardiyati selaku pimpinan KYM,” kata Sutanto di kediamannya Celep RT.07 Srigading Sanden Bantul, Selasa 17 Pebruari 2026.
Baca juga:
Pengalaman menjadi bagian dari Komunitas Yuk Menulis sejak tahun 2020 meneguhkan rasa untuk tetap yakin bahwa itu adalah jalan yang benar ditempuh. Berbagai pengalaman dalam kurun waktu 2020-2025 mengikuti workshop, menulis buku solo, mengikuti even antologi, menjadi narasumber, bersilaturahmi kepada pejabat publik semua terdokumentasikan menjadi sebuah karya jurnalistik.
“Karya tersebut sayang jika terceraiberai, sehingga saya kumpulkan menjadi sebuah buku kumpulan berita. Selain menjadi arsip pribadi, semoga dapat bermanfaat untuk dibaca para anggota KYM lain dan masyarakat pada umumnya,” tandasnya.
Vitriya Mardiyati menilai, Jejak Waktu di Antara Kata bukan sekadar kumpulan berita. Namu rekaman napas, denyut, dan kesungguhan sebuah komunitas yang percaya bahwa menulis bukan hanya soal teks, melainkan tentang merawat harapan. Setiap berita di dalam buku ini adalah saksi, bahwa kata dapat menjadi jembatan, bahwa literasi dapat menjadi rumah, dan bahwa kerja sunyi tetap layak dicatat.

“Sebagai pendiri Komunitas Yuk Menulis, saya memandang buku ini seperti cermin perjalanan, kadang bening, kadang berdebu, namun jujur. Ada lelah yang tak dituliskan, ada doa yang diselipkan, ada kegembiraan kecil yang tumbuh dari pertemuan dengan anak-anak, guru, dan para pegiat literasi di berbagai daerah. Semua itu kini berjejak, tidak untuk dibanggakan, melainkan untuk diingat: bahwa perjalanan ini nyata pernah ada,” kata Vitriya.
Di tangan Sutanto, buku ini disusun dengan ketekunan seorang pencatat zaman. Peristiwa demi peristiwa dirajut menjadi bingkai, agar kerja literasi tidak hilang ditelan waktu. Berita-berita yang semula hadir sebagai kabar harian, di buku ini menemukan tempatnya sebagai ingatan kolektif. Di antara berita dan baris kalimat, waktu berhenti sejenak. Ia membaca, lalu melanjutkan perjalanan. Dan kata-kata pun tinggal, menjadi saksi bahwa kami pernah menulis, dan pernah percaya.
“Semoga buku ini dapat menjadi pengingat bahwa literasi tumbuh dari kesetiaan, bukan dari sorak. Bahwa menulis adalah kerja panjang yang membutuhkan cinta, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah, meski perlahan. Semoga Jejak Waktu di Antara Kata dapat dibaca bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati, sebagai bagian dari perjalanan bersama, menjaga nyala literasi agar tetap hidup dari waktu ke waktu,” kata Vitriya. (phj)
There is no ads to display, Please add some