beritabernas.com – Sore itu di Cianjur, Jawa Barat, suasana paroki tempat Romo Martin Harun tinggal terasa tenang. Di kediamannya yang sederhana, Guru Besar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta itu menerima kunjungan penulis, Yustinus Ade dan Erirura Batubara. Ditemani secangkir kopi, wawancara pun dimulai dalam suasana santai, tetapi serius.
Sebagai teolog dan pengajar Kitab Suci, Romo Martin telah lama memberi perhatian pada persoalan lingkungan hidup dalam terang iman Kristen. Ia berbicara tentang dosa ekologis, pertobatan ekologis dan keselamatan ekologis serta tanggung jawab Gereja di tengah krisis bumi yang kian nyata. Berikut petikan hasil wawancara dengan Romo Martin Harun:
Apa yang dimaksud dengan dosa ekologis dalam teologi Kristen?
Dosa ekologis adalah setiap tindakan manusia, baik secara pribadi maupun kolektif, yang tidak selaras dengan alam ciptaan sebagaimana dikehendaki Allah. Allah menciptakan dunia dengan keteraturan: ada keseimbangan, regenerasi dan saling ketergantungan. Alam memiliki hukum dan ritmenya sendiri. Ketika manusia merusak keteraturan itu, misalnya melalui eksploitasi berlebihan atau penghancuran ekosistem, kita bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga melanggar kehendak Allah.
Dosa adalah pelanggaran terhadap maksud Allah. Dan maksud Allah tidak hanya menyangkut manusia, tetapi seluruh ciptaan. Contohnya sederhana. Jika kita menangkap burung liar dan mengurungnya dalam sangkar demi kesenangan, kita membatasi makhluk yang diciptakan untuk terbang bebas. Itu bentuk ketidakselarasan dengan tujuan penciptaannya.
Contoh lain adalah praktik monokultur besar-besaran, seperti perkebunan sawit yang menggantikan hutan alami. Hutan hidup dalam keanekaragaman hayati yang saling menopang. Ketika diganti dengan satu jenis tanaman dalam skala luas, keseimbangan itu hilang. Di situ terjadi pelanggaran terhadap tata ciptaan.
Kerusakan lingkungan lebih disebabkan oleh faktor pribadi, budaya atau struktural? Ketiganya terlibat. Pertama, faktor pribadi. Misalnya, saya membeli burung hasil tangkapan liar. Itu keputusan pribadi dan saya ikut bertanggung jawab.
Kedua, faktor sosial dan budaya. Ada kebiasaan memelihara burung sebagai simbol keindahan atau status. Karena sudah menjadi budaya, orang sering tidak merasa bersalah. Begitu juga gaya hidup konsumtif-membeli produk tanpa memikirkan dampak ekologisnya. Ketiga, faktor struktural. Persoalan sampah adalah contoh nyata.
Baca juga:
- 101 Peserta Ikuti Retret Tentang Merawat Ibu Bumi dengan Semangat Laudato Si’
- Sebuah Aksi Laudato ‘Si, Mengubah Krisis Sampah Plastik Menjadi Potensi Waste to Energy
- Menyelamatkan Masa Depan Kehidupan di DIY
Sistem produksi modern menghasilkan banyak bahan yang sulit terurai, terutama plastik. Tidak adil jika seluruh beban ditimpakan pada keluarga, sementara sistem produksi dan distribusi tidak diatur dengan baik. Negara dan pemerintah daerah seharusnya menyediakan sistem pengelolaan sampah yang terpadu. Jika sistem tidak berjalan, itu menjadi persoalan struktural.
Bagaimana teologi Kristen memandang relasi manusia dan ciptaan dalam kerangka keselamatan?
Kita perlu meninjau kembali cara berpikir kita. Teologi sering terlalu berpusat pada manusia, seolah-olah hanya manusia yang diselamatkan dan bumi ini sekadar tempat sementara. Padahal Kitab Suci berbicara tentang “langit baru dan bumi baru”. Artinya, keselamatan mencakup pembaruan seluruh ciptaan.
Dalam kisah penciptaan, manusia ditempatkan untuk mengolah dan memelihara bumi. Relasi ini mendasar. Ketika relasi itu rusak, muncul penderitaan dan ketidakharmonisan.
Dalam Injil Yohanes disebutkan bahwa segala sesuatu diciptakan melalui Firman. Firman itu menjadi manusia. Artinya, karya Kristus tidak hanya terkait dengan manusia, tetapi juga dengan seluruh ciptaan. Rasul Paulus pun menegaskan bahwa Allah memperdamaikan segala sesuatu dalam Kristus. Jadi keselamatan bersifat menyeluruh, bukan hanya individual.
Apakah pertobatan ekologis memiliki dasar kuat dalam tradisi Gereja?
Istilah “pertobatan ekologis” memang relatif baru. Gagasan tentang dosa ekologis banyak ditegaskan oleh Patriark Bartolomeus dan kemudian dipertegas oleh Paus Yohanes Paulus II. Namun dasarnya tidak baru. Pertobatan dalam iman Kristen selalu berarti perubahan hidup agar selaras dengan kehendak Allah. Jika kehendak Allah mencakup seluruh ciptaan, maka pertobatan juga harus mencakup cara kita memperlakukan alam.
Pertobatan ekologis berarti mengubah cara berpikir, gaya hidup, dan juga sistem sosial agar kembali selaras dengan tata ciptaan Allah. Ini bukan tambahan opsional dalam iman, melainkan konsekuensi dari iman kepada Allah Pencipta dan Kristus Penebus seluruh ciptaan.
Bagaimana implementasi konkret kepedulian ekologis dalam pelayanan Gereja?
Saya mulai dari hal yang sederhana. Dalam homili atau perayaan Ekaristi, jika teks Kitab Suci memungkinkan, saya berusaha memperluas refleksi pada relasi manusia dengan alam. Sejak mengajar Kitab Suci pada 1990-an, saya sudah merasa penting menegaskan bahwa Alkitab bukan hanya berbicara tentang manusia, tetapi tentang seluruh karya Allah.
Selain di mimbar, saya juga menyampaikan tema ini dalam konferensi dan rekoleksi. Banyak bahan yang saya siapkan selalu saya kaitkan dengan tanggung jawab ekologis. Di tempat ini, kami mencoba menerapkannya secara konkret. Anak-anak didampingi untuk menjaga kebersihan lingkungan. Mereka dilatih memilah sampah dari rumah masing-masing agar siap diangkut dalam keadaan terpisah. Mereka juga belajar menanam sayuran dan berkebun secara ekologis.
Kami sering mengadakan penanaman pohon. Banyak pohon kopi ditanam di sini, tetapi tidak secara monokultur-tetap bercampur dengan pohon lain. Bagi saya, pendidikan praktis seperti ini penting, karena kesadaran tidak cukup hanya lewat ceramah. Saya juga melihat beberapa paroki berusaha menjadikan lingkungan gereja dan pastoran sebagai contoh kebersihan dan penghijauan. Itu langkah baik, meski masih perlu diperluas dampaknya ke masyarakat sekitar.
Bagaimana respons umat terhadap ajakan pertobatan ekologis?
Responsnya beragam. Di tempat seperti ini, di mana pendidikan ekologis sudah lama dibiasakan, umat cenderung positif. Hubungan antaragama juga sangat baik. Sebagian besar karyawan di sini beragama Islam. Kami hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar yang mayoritas Muslim. Bahkan dua tahun lalu lingkungan ini mendapat penghargaan sebagai kampung inklusif dan toleran di tingkat kabupaten.
Namun secara umum, ketika berbicara tentang “pertobatan ekologis”, banyak umat masih heran. Mereka bertanya, bagaimana mungkin kita berdosa terhadap alam?
Dalam Sakramen Tobat, hampir tidak pernah ada orang yang mengaku dosa karena merusak lingkungan atau memperlakukan hewan secara tidak pantas. Artinya, kesadaran ini belum sungguh menjadi bagian dari hidup iman. Ada juga kelompok yang secara terang-terangan menolak. Terutama mereka yang berkecimpung dalam bisnis yang mengeksploitasi sumber daya alam.
Saya pernah memberi rekoleksi kepada kelompok pengusaha Katolik. Ketika saya berbicara tentang tanggung jawab terhadap lingkungan, langsung muncul perlawanan. Ada yang menyebut isu krisis iklim sebagai “hoaks”. Jadi memang ada resistensi. Tetapi tetap ada harapan. Semakin banyak orang mulai sadar, walaupun masih minoritas.

Sejauh mana iman memengaruhi perilaku ekologis umat, khususnya terkait sampah?
Pertama-tama kita harus jujur: persoalannya lebih luas daripada sekadar sampah. Ini menyangkut relasi antara iman dan perilaku. Iman seseorang bisa sangat kuat secara devosional, tetapi belum tentu tercermin dalam tindakannya. Kita tahu ada orang yang rajin ke gereja, tetapi tetap hidup konsumtif atau bahkan korup. Dalam soal lingkungan juga demikian.
Banyak orang setuju bahwa kita harus menjaga ciptaan Tuhan. Tetapi ketika itu menuntut perubahan gaya hidup-mengurangi konsumsi, memilah sampah, tidak boros-tidak mudah dilakukan. Karena itu diperlukan proses pendidikan. Pendidikan yang konkret dan praktis. Anak-anak perlu dilatih menanam, mengelola sampah, dan hidup sederhana. Tanpa pembiasaan, perubahan tidak akan terjadi.
Apakah Gereja memiliki peran strategis dalam pendidikan ekologis?
Peluang Gereja sebenarnya besar. Tidak banyak lembaga yang bisa mengumpulkan begitu banyak orang secara rutin seperti Gereja. Setiap Minggu ada kesempatan untuk membina umat. Namun peluang ini belum selalu dimanfaatkan. Bagi banyak pastor, isu lingkungan belum menjadi prioritas pastoral. Akibatnya, tema ini jarang disentuh.
Sekolah-sekolah Katolik menurut saya lebih maju. Banyak yang sudah memasukkan pendidikan lingkungan dalam kurikulum dan praktik harian. Di situ ada harapan munculnya generasi yang bukan hanya sadar, tetapi juga terampil. Tetapi kita juga realistis. Gereja tidak bisa menggantikan peran pemerintah dalam menyediakan infrastruktur pengelolaan sampah. Paroki bisa menjadi pusat kesadaran dan contoh, tetapi tidak mungkin menyelesaikan persoalan struktural sendirian. Jika semua orang membawa sampah ke gereja, gereja bisa berubah menjadi tempat penampungan sementara saja.
Masalah sampah terlalu besar untuk ditangani tanpa kebijakan publik dan sistem yang kuat.
Apa hambatan terbesar dalam mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam pelayanan pastoral?
Pertama, kualitas sumber daya manusia. Para gembala perlu memiliki pemahaman dan kepekaan ekologis. Tanpa formasi yang memadai, sulit mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam pastoral.
Kedua, resistensi dari kelompok yang sudah diuntungkan oleh sistem eksploitasi. Dalam skala global ada lobi industri besar. Dalam skala lokal pun ada umat yang merasa kepentingannya terganggu jika isu ini dibicarakan.
Baca juga:
- Workshop 10 Tahun Ensiklik Laudato ‘Si, Umat Diajak untuk Semakin Peduli Marawat Bumi
- Membumikan Laudato Si’: Dari Seruan Pastoral Menuju Gerakan Nyata Merawat Bumi
- Krisis Sampah Yogyakarta, Kevikepan Jogja Ajak Umat Katolik Mengolah Sampah secara Bertanggung Jawab
- Seruan Pastoral Vikep Jogja Timur dan Barat Terkait Situasi Krisis Sampah Yogyakarta
Ketiga, polarisasi komunikasi. Kita hidup dalam apa yang bisa disebut “silo komunikasi”. Kelompok peduli lingkungan berbicara di antara mereka sendiri. Kelompok penyangkal perubahan iklim juga demikian. Media sosial sering memperkuat polarisasi ini. Sulit menembus batas-batas itu dan membangun dialog yang sungguh terbuka.
Bagaimana Romo melihat relasi antara misi keselamatan Gereja dan tanggung jawab merawat ciptaan?
Bagi saya, krisis bumi adalah persoalan mendesak. Bahkan harus menjadi prioritas. Misi Gereja bukan hanya menyelamatkan jiwa manusia secara individual. Kehidupan kekal dimulai dari kehidupan di bumi ini. Jika bumi rusak, dasar kehidupan ikut hancur.
Kita harus mencegah bumi melewati apa yang disebut “tipping point”-titik balik yang sulit dipulihkan. Masalah plastik, misalnya, sudah masuk ke rantai makanan dan tubuh manusia. Itu sangat berbahaya.
Karena itu diperlukan kebijakan yang kuat, bahkan di tingkat internasional, untuk membatasi produksi bahan yang merusak dan mendorong alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Gereja harus terlibat bersama semua pihak mencari jalan keluar. Bukan hanya berbicara, tetapi membentuk umat yang sadar dan mampu memengaruhi arah kebijakan publik melalui pilihan politik dan gaya hidup mereka. Jika kita gagal menjaga bumi, akibatnya bukan hanya ekologis, tetapi juga moral dan spiritual. (Yustinus Ade dan Erirura Batubara)
There is no ads to display, Please add some