Transformasi FTSP Menjadi FTDI UII Harus Diikuti dengan Pembukaan Prodi Baru yang Kekinian

beritabernas.com – Rektor UII Prof Dr Ir Hari Purnomo mengatakan, perubahan atau transformasi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ((FTSP) menjadi Fakultas Teknik Desain Inovasi (FTDI) UII harus segera diikuti dengan pembukaan program studi (prodi) baru yang kekinian.

Program studi baru kekinian yang dimaksud, menurut Rektor UII Prof Hari Purnomo, adalah yang berdampingan dengan kerja Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan bukan program studi yang bisa dikerjakan oleh AI. Sebab, peminat prodi yang bisa dikerjakan oleh AI makin menurun bahkan makin lama akan ditinggalkan.

“Transformasi FTSP menjadi FTDI harus diikuti dengan pembukaan prodi baru. Sebab, salah satu alasan perubahan nomenklatur fakultas adalah agar bisa membuka prodi baru yang sesuai dengan kebutuhan keilmuan dan dunia kerja masa kini maupun di masa-masa mendatang. Kalau Rektornya sudah bilang begitu tentu Dekannya harus segera merespon,” kata Rektor UII Prof Hari Purnomo dalam acara launching Fakultas Teknik Disain Inovasi (FTDI) UII di Gedung Moh Natsir Kampus FTDI UII, Rabu 12 Agustus 2026 pagi.

Rektor UII menyebut beberapa program studi yang dulu peminatnya sangat banyak namun sekarang makin menurun karena prodi tersebut bisa dikerjakan oleh AI. Bahkan bukan tidak mungkin suatu saat prodi-prodi yang bisa dikerjakan AI akan ditinggalkan atau tidak ada peminatnya.

Rektor UII Prof Hari Purnomo saat menyampaikan sambutan pada acara launching FTDI UII di Gedung Moh Natsir Kampus FTDI UII, Rabu 12 Agustus 2026. Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

“Seperti roda pedati, dulu di atas karena peminatnya banyak, namun setelah ada AI kini menurun bahkan lama-lama akan ditinggalkan. Sementara prodi yang baru bisa di atas bila tidak bisa digantikan dengan AI tapi tetap bersentuhan dengan AI,” kata Prof Hari Purnomo.

Prof Hari menyebut beberapa prodi baru yang bisa dibuka seperti Teknik Material, Teknik Perminyakan dan Teknik Pertambangan. Prodi baru dengan kurikulum kekinian itu penting ​agar tetap relevan dan diminati masyarakat.

“Pembentukan prodi baru harus cermat, difokuskan pada bidang yang berdampingan dengan AI atau yang memanfaatkan AI sekadar sebagai alat (tool) bantu. Sebab, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memengaruhi daya tarik beberapa prodi tradisional, seperti Arsitektur, Informatika dan Desain Komunikasi Visual/DKV),” kata Prof Hari.

Menjawab tantangan zaman

Sementaran Dekan FTDI UII Ir Miftahul Fauziah ST MT PhD mengatakan, transformasi FTSP menjadi FTDI bukan untuk menghilangkan sejarah, namun untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan para pendahulu. Selain itu, transformasi dilakukan untuk menjawab tantangan zaman yang sudah jauh berbeda dengan saat FTSP didirikan tahun 1993 atau 33 tahun lalu.

Baca juga:

“Kita menghormati akar yang kuat seraya berupaya untuk menumbuhkan dahan dan ranting baru untuk menjangkau masa depan yang lebih luas,” kata Miftahul Fauziah menganalogikan perubahan nama fakultas yang tanpa meninggalkan jejak sejarah pendiriannya.

Menurut Miftahul Fauziah, ​dunia berubah sangat cepat. Tantangan zaman menuntut lebih dari sekadar responsif. Kita diminta untuk menjadi pionir, pemimpin di garis depan perubahan. Interaksi antara teknologi, rancang bangun, kebutuhan lingkungan dan kehidupan manusia saat ini memerlukan pendekatan yang jauh lebih kolaboratif, lintas dan multidisiplin. Karena itu, kita tidak hanya dituntut merancang sistem fisik yang kuat, tetapi juga menciptakan solusi yang inovatif, adaptif, dan humanistis.

Dikatakan, transformasi nama Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan menjadi Fakultas Teknik, Desain, dan Inovasi untuk menjawab tantangan tersebut. Teknik atau engineering menjadi fondasi kepakaran, core keilmuan yang presisi dan berbasis pada ketepatan dan standar-standar keunggulan. Sementara desain menjadi ruh kreativitas, estetika, integrasi keilmuan dan pendekatan human-centered solution.

Suasana acara launching Fakultas Teknik Disain Inovasi (FTDI) UII di Gedung Moh Natsir Kampus FTDI UII, Rabu 12 Agustus 2026 pagi. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

“Inovasi menjadi penggerak atau engine growth agar setiap karya yang lahir dari fakultas ini senantiasa menambahkan nilai tambah baru dan kebermanfaatan yang relevan bagi masyarakat. ​Transformasi ini adalah ruang akselerasi bagi prodi untuk terus berkembang dan menjadi wadah untuk siap menyambut disiplin ilmu atau prodi-prodi baru di fakultas ini,” kata Miftahul Fauziah.

Meskipun wujud atau nama mengalami penyesuaian atau transformasi, namun menurut Miftahul Fauziah, nilai dasar tetap tidak bergeming. “FTDI insyaallah akan terus memegang nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Inovasi yang kita usung adalah inovasi yang bernilai ibadah, karya yang membawa manfaat bagi kemanusiaan dan umat, dan menjadi rahmatan lil ‘alamin,” kata Miftahul Fauziah.

Acara launching FTDI UII ditandai dengan pembukaan kain selubung logo FTDI oleh Prof Drs Allwar MSc PhD, Ketua Pengembangan Pendidikan Yayasan Badan Wakaf UII, Prof Riyanto SPd MSi PhD (Wakil Rektor Bidang Akademik) dan Dekan FTDI Miftahul Fauziah. (phj)



There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *