beritabernas.com – Himpunan Mahasiswa Program Studi Agama-Agama ((HMPS SAA) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar Sekolah Toleransi 2026 di Omah Lurah Lawas Balong, Bimomartani, Ngemplak, Sleman, pada Sabtu 19 September 2026.
Sekolah Toleransi 2026 yang diikuti oleh para mahasiswa baru (Maba) SAA angkatan 2026 ini diharapkan menjadi bekal awal bagi mahasiswa baru SAA UIN Sunan Kalijaga untuk menjadi pribadi yang terbuka, inklusif, dan berkomitmen menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk.
Baca juga:
- Srawung Orang Muda Lintas Agama Dorong Kaum Muda Mewujudkan Persaudaraan Sejati
- Srawung Orang Muda Lintas Iman Mendorong Kaum Muda Berani Bergaul dan Berperan
- Srawung Orang Muda Lintas Agama, Momen Belajar jadi Pejuang Persaudaraan dan Pembawa Damai
- Program Srawung Orang Muda Lintas Iman, Cara KAS Merawat Persaudaraan
- Kaum Muda Lintas Iman Memaknai Tradisi Puasa dalam Agama-Agama
- Silaturahmi 7 Pimpinan Pemuda Lintas Iman, RM Gustilantika Marrel Suryokusumo Sampaikan Pesan Sultan HB X Terkait Keberagaman
Sekolah Toleransi 2026 yang mengusung tema Merangkul Keindahan dalam Cinta dan Toleransi ini menghadirkan dua pemateri, yakni Romo Dr Martinus Joko Lelono Pr dan Aulia Abdurrahman Sholeh dari Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan Gusdurian Yogyakarta.
Aulia Abdurrahman Sholeh yang menguraikan berbagai prinsip dan dasar bertoleransi di dalam Islam menekankan bahwa toleransi bukan sekadar tahu atau kenal secara permukaan, melainkan keberanian untuk saling memahami dan terlibat dalam suka maupun duka pengalaman manusiawi sesama, termasuk mereka yang berbeda keyakinan.

Sementara Romo Dr Martinus Joko Lelono Pr melengkapi ruang belajar tersebut dengan memaparkan penjelasan umum seputar agama Katolik, konsep toleransi dan tantangan menjaga empati di era 5.0.
Dinamika diskusi semakin hangat pada sesi tanya jawab ketika salah seorang mahasiswa mempertanyakan rasionalisasi atas dialog di tengah banyaknya perbedaan doktrin dan pandangan yang ada.
Menjawab pertanyaan tersebut, dijelaskan bahwa kenyataan pluralitas membuat manusia tidak mungkin hidup sendiri. Salah satu jalan paling aman dan rasional dalam merespons perbedaan adalah bersama-sama membawa kebaikan. Langkah ini juga yang terus diupayakan oleh para pemimpin agama dunia, sebagaimana dicontohkan melalui persaudaraan kemanusiaan antara Paus Fransiskus dan Grand Sheikh Al-Azhar Ahmed Al-Tayyeb. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some