Terkait Konten Tanpa Malu, Sutanto Tekankan Pentingnya Akhlakul Karimah

beritabernas.com – Kemajuan teknologi dan maraknya media sosial menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga akhlak generasi muda. Demi mengejar popularitas dan jumlah penonton, tak sedikit orang rela mengabaikan rasa malu dan norma kesopanan. Fenomena inilah yang menjadi salah satu perhatian Guru MTsN 3 Bantul, Sutanto, saat mengupas pentingnya akhlakul karimah di hadapan keluarga besar SD Negeri Bonggalan.

Dalam pengajian rutin orangtua/wali murid yang digelar di halaman SD Negeri Bonggalan, Minggu Pon 18 Oktober 2026), Sutanto mengajak peserta menjadikan akhlak mulia sebagai fondasi kehidupan, baik dalam keluarga, lingkungan sekolah, maupun masyarakat.

Mengawali pemaparannya, Sutanto mengutip pemikiran pujangga besar Mesir, Ahmad Syauqi Bey, yang menegaskan bahwa kejayaan suatu bangsa bergantung pada keluhuran akhlaknya. Ketika akhlak hilang, kehormatan dan kejayaan bangsa pun terancam runtuh.

Baca juga:

“Di media sosial kita sering menyaksikan, demi sebuah konten untuk mendapatkan banyak penonton, ada orang yang tanpa beban mempertontonkan auratnya,” ungkap Sutanto seraya mengingatkan bahwa popularitas semestinya tidak diraih dengan mengorbankan nilai agama dan norma kesopanan.

Sembilan pilar akhlak mulia

Dalam paparannya, Sutanto menguraikan sembilan sikap yang menjadi bagian penting dari akhlakul karimah. Pertama, memiliki rasa malu. Menurutnya, malu merupakan salah satu cerminan keimanan yang membentengi seseorang dari perbuatan tercela. Ia mengutip hadis Rasulullah saw. tentang hubungan antara rasa malu dan iman.

Kedua, tidak menyakiti orang lain. Setiap orang hendaknya menjaga ucapan dan perbuatannya agar tidak melukai orang tua, saudara, sahabat, tetangga, maupun orang lain. Menghormati dan menjaga perasaan sesama merupakan bagian penting dari akhlak seorang muslim.

Ketiga, gemar berbuat baik. Kebaikan tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada binatang dan lingkungan. Menjaga alam serta memperlakukan makhluk hidup dengan baik merupakan wujud nyata kepedulian dan tanggung jawab.

Keempat, bersikap jujur. Sutanto mengingatkan bahwa kejujuran merupakan landasan kepercayaan dalam kehidupan. Perkataan dan tindakan yang jujur mencerminkan kesungguhan seseorang dalam menjalankan nilai-nilai agama.

Kelima, berkata baik dan bersikap ramah. Keramahan dan kesantunan merupakan karakter yang perlu terus dijaga. Ia mengajak masyarakat membiasakan diri bertutur kata baik, menampilkan wajah ramah, serta mengucapkan salam ketika bertemu sesama.

Keenam, bersikap wara. Sikap ini berarti berhati-hati dalam menjalani kehidupan dengan menjauhi perbuatan dosa dan hal-hal yang dilarang agama, termasuk tidak sengaja memamerkan keburukan demi memperoleh perhatian orang lain.

Ketujuh, sabar, tawakal, dan bersyukur. Sutanto mengajak umat Islam bersabar ketika menghadapi musibah, bertawakal kepada Allah Swt. saat menghadapi persoalan, serta senantiasa bersyukur atas nikmat yang diterima. Rasa syukur menjadi pengingat agar manusia tidak mudah mengeluh dan tetap menghargai karunia Allah.

Sutanto menyerahkan buku kepada Kepala SD Bonggalan Subinah. Foto: Istimewa

Kedelapan, tawadhu. Sikap rendah hati perlu ditanamkan agar seseorang tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain. Kerendahan hati bukan tanda kelemahan, melainkan cerminan kematangan akhlak.
Kesembilan, bertakwa kepada Allah Swt. Takwa diwujudkan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Nilai ini menjadi landasan bagi seorang muslim dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan sehari-hari.

Melalui sembilan pilar tersebut, Sutanto berharap nilai-nilai akhlak tidak berhenti sebagai materi pengajian, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan akhlak, menurut pesan yang disampaikannya, perlu dimulai dari diri sendiri dan keluarga, kemudian diperkuat melalui lingkungan sekolah serta masyarakat.

Di penghujung acara, Sutanto yang juga dikenal sebagai pegiat literasi menyerahkan buku antologi terbitan Komunitas Yuk Menulis (KYM) berjudul Rahasia Hebat Tubuhku kepada Kepala SD Negeri Bonggalan Subinah MPd.

Penyerahan buku tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan budaya baca di lingkungan sekolah. Buku diharapkan dapat menambah bahan bacaan sekaligus memperluas wawasan peserta didik.
Subinah menyampaikan terima kasih atas sedekah buku yang diberikan kepada sekolahnya.

“Atas nama warga SD Negeri Bonggalan, kami mengucapkan terima kasih atas sedekah buku ini. Semoga dapat menambah referensi dan pengetahuan anak-anak kami,” katanya seraya menambahkan bahwa pesan akhlak dan sedekah buku itu menjadi dua bentuk ikhtiar yang saling melengkapi: menumbuhkan keluhuran budi sekaligus memperkaya wawasan generasi muda. (*/phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *