beritabernas.com – Anggota DPRD DIY Dr Raden Stevanus Christian Handoko S.Kom MM melakukan sosialisasi Strategi Relawan dan Masyarakat dalam Manajemen Bencana Gempa Bumi di Kantor Kelurahan Kricak dan Kelurahan Bener, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta, Jumat 20 Pebruari 2026.
Kegiatan yang merupakan kerja sama Dr Raden Stevanus dengan BPBD DIY dengan menghadirkan narasumber dari BMKG ini selain untuk memberikan pemahaman teknis terkait mitigasi bencana, potensi gempa dan sistem peringatan dini gempa juga sebagai salah satu upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi.
Para peserta terdiri dari Anggota Relawan Kampung Tangguh Bencana (KTB) Kricak, Bener, Lurah Kricak, Lurah Bener, Ketua LPMK, Ketua RW, Ketua RT, tokoh masyarakat, Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi lintas unsur masyarakat dan pemerintah dalam membangun ketahanan berbasis komunitas.

Pada kesempatan itu, Dr Raden Stevanus menegaskan bahwa DIY berada di wilayah rawan gempa akibat aktivitas Sesar Opak dan Zona Subduksi Selatan Jawa serta efek dari aktivitas Gunung Merapi.
“Kita tidak boleh lupa pengalaman Gempa Yogyakarta 2006 yang menewaskan sekitar 5.700 orang dan merusak lebih dari 150 ribu rumah. Sebagian besar korban terjadi karena bangunan non-standar tahan gempa. Ini menjadi pelajaran penting bahwa mitigasi adalah keharusan,” kata Dr Raden Stevanus.
Ia menambahkan, kepadatan penduduk di wilayah perkotaan seperti Yogyakarta meningkatkan risiko korban saat gempa terjadi. Minimnya ruang terbuka dan bangunan berhimpitan membuat evakuasi menjadi lebih sulit.
Menurut Dr Raden Stevanus, relawan memiliki peran strategis dalam siklus manajemen bencana, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi.
Baca juga:
- Prof Sarwidi Mengidentifikasi Faktor Utama di Balik Skala Bencana Banjir Sumatera 2025
- Ini Pelajaran dari Peristiwa Gempabumi di Bandung dan Garut Menurut Prof Sarwidi
- SIMUTAGA, Karya Inovasi yang Dikembangkan oleh Prof Sarwidi Selama Lebih dari 25 Tahun
“Relawan harus memiliki pembagian peran yang jelas, mulai dari tim evakuasi, medis, logistik, hingga informasi dan komunikasi. Koordinasi yang baik akan menentukan cepat tidaknya respons saat bencana,” ujar Dr Raden Stevanus.
Dalam kesempatanitu, peserta juga mendapat edukasi mengenai teknik penyelamatan diri saat gempa melalui metode “Drop, Cover, Hold On”, standar internasional dalam respon awal Ketika terjadi gempa.
“Langkah sederhana ini terbukti efektif menyelamatkan nyawa. Edukasi seperti ini harus menjadi kebiasaan di rumah, sekolah, maupun lingkungan kerja,” ungkap Dr Raden Stevanus.
“hal penting lainnya masyarakat juga didorong melakukan pemetaan risiko partisipatif, termasuk identifikasi jalur evakuasi, titik kumpul aman, serta pendataan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas,” kata Dr Raden Stevanus.

Sebagai anggota dewan, DPRD DIY memiliki fungsi pembentukan regulasi, penganggaran dan pengawasan kebijakan kebencanaan. Dr Raden Stevanus menegaskan pentingnya penguatan implementasi Perda Nomor 13 tahun 2015 tentang Penanggulangan Kebencanaan sebagai landasan hukum perlindungan masyarakat.
“Kita ingin DIY menjadi daerah yang tangguh. Kuncinya ada pada sinergi antara pemerintah, relawan, aparat kewilayahan, dan masyarakat. Mitigasi bukan sekadar program, melainkan investasi keselamatan,” demikian Dr Raden Stevanus.
Melalui kegiatan ini, diharapkan relawan dan masyarakat umum di wilayah Kelurahan Kricak dan Kelurahan Bener semakin siap dan tangguh dalam menghadapi potensi gempa bumi, dengan relawan yang terlatih dan masyarakat yang sadar risiko. (phj)
There is no ads to display, Please add some