beritabernas.com – Pelukis Gunawan Rahardjo akan menggelar pameran tunggal untuk keempat kalinya di Gg Puntadewa Sorosutan UH VI/967/Yogyakarta. Kali ini, ia akan menggelar pameran 100 karya ekspresi visual yang tidak sekadar untuk dipajang, dinikmati dan dilihat, tapi semua karya ekspresi tersebut dilelang untuk siapa saja yang berminat mengoleksi dengan buka penawaran 280.000 dollar AS.
Hasil lelang 100 karya lukisan tersebut akan digunakan untuk membantu para korban bencana alam Sumatera. Bagi penawar tertinggi medapat hadiah atau bonus tanah sertifikat hak milik, dengan luas 6,759 meter persegi di Dsn Blok Ngelo, Girimulyo, Panggang, Gunungkidul, DIY dekat dengan pantai selatan.
“Untuk proses balik nama tanah tersebut kepada penerima, saya bantu. Semoga jadi berkah bagi anda,” kata Gunawan Rahardjo dalam rilis yang diterima beritabernas.com, Jumat 9 Januari 2026.
Gunawan Rahardjo S.Sn kelahiran Solo pada 23 Maret 1951 merupakan lulusan Sarjana Muda STRI ASRI Yogyakarta dan Sarjana FSRD ISI Yogyakarta. Ia telah melakukan pemeran di berbagai tempat sejak tahun 1976 yakni Pameran Seni Rupa Taman Siswa di Pendopo Taman Siswa Yogyakarta.

Menurut Ki Prijo Mustiko, Ki Gunawan Raharjo merupakan alumni Taman Indria dan Taman Muda Ibupawiyatan, tahun 1957 sampai dengan 1963. Sejak kecil bakat menggambarnya sudah nampak. Pada waktu Ratu Sirikit dari Thailand berkunjung di Tamansiswa, Gunawan kecil mendemonstasikan bakatnya menggambar di depan Ratu Sirikit dengan media kapur di atas papan tulis.
Konsep berkarya
Dalam mencipta dipengaruhi oleh faktor dalam diri dan adanya persentuhan dengan pengaruh di luar dirinya. Pengaruh timbulnya rasa kejenuhan terhadap bentuk-bentuk yang tampak di sekitar merupakan suatu dorongan untuk tidak sekedar meniru dan menangkap secara alamiah apa adanya bentuk itu.
Baca juga:
- Pameran Tunggal Karya Budiyanto Bagong Bertajuk Ngombyongi di Museum Sonobudoyo
- Jagongan Budaya: Pemangku Kepentingan Harus Peduli Seni dan Budaya
Dari hal tersebut ia mulal tertarik untuk berusaha menangkap sisi lain dari setiap pengamatan yang dalam, karena ia yakin ada sesuatu yang lain, yang tidak nampak secara kasat mata pada obyek atau momen yang mengobsesi dirinya. Sesuatu yang dirasakan dari hubungan pribadi yang dipengaruhi unsur dari dalam dengan obyek atau momen yang berasal dari luar, bahkan adanya persentuhan dengan di luar penalaran, yakni adanya mimpi-mimpi yang juga mengobsesi dirinya.
Karya cipataannya juga merupakan manifestasi konflik batin dalam dirinya. Persentuhan dalam berbangsa dan bernegara, misalnya, adanya penindasan, perampasan hak, anarkisme dan fenomena yang terjadi di masyarakat juga mengganggu pikirannya dalam berekspresi dana pesan-pesan mimpi yang kadang berupa firasat.
Dalam berekspresi ia menggunakan media-media yang tidak hanya konvensional tetapi juga menggunakan media-media lain. Untuk mewujudkan ide berbahasa rupa, pengungkapan bukan dalam bentuk-bentuk yang realistik, tetapi bentuk khas secara pribadi.

Demikian juga ia memprotes dan mengembangkan secara bertahap sambil meraba-raba dan memberi bentuk pada suatu yang berasal dari alam sadar. Dalam hal ini, ia juga menganut kebebasan menjelajahi pengalaman hidup yang demikian komplek, berpindah-pindah satu dengan yang lainnya.
“Melalui pengamatan, penurunan dan pengendapan dan dengan teknik pengungkapan spontanitas yang saya rasakan bisa menampung totalitas saya dalam berkarya. Pada saat berekspresi sering mengalami sesuatu yang tiba-tiba juga akan berpengaruh pada bentuk-bentuk pada ekspresi saya. Karya-karya saya merupakan wujud dari pengarahan bentuk-bentuk yang muncul dari ide yang menjadi obsesi pada saat berekspresi,” katanya.
Menurut Gunawan Rahardjo, fase lukisannya kali ini merupakan wujud kepedulian dalam mengekspose keadaan dalam fenomena kehidupan sosial yang terus terjadi pada dekade 1,5 abad Kebangkitan Nasional. Dimana kawula cilik selalu tertindas oleh hegemoni elit politik dan wong rakus kaum kapitalis yang hijrah di negara kita.
“Wujud ketertindasan ini saya hadirkan dalam bingkai ekspresi dengan luapan kesederhanaan irama, gerak, warna, dan sapuan namun mengutamakan eksploitasi keunikan pencahayaan yang bertolak dari fase figurative yang kemudian saya ungkapkan dalam media luapan emosi non objektif,” kata Gunawan Rahardjo. (*/phj)

