Oleh: Ben Senang Galus, Dosen Universitas Cendekia Mitra Indonesia, Yogyakarta
beritabernas.com – Menjelang hari raya keagamaan, keluarga telah dikonstruksi untuk melakukan tindakan semisal hobi berbelanja (shopaholic). Shopping itu sendiri merupakan gaya hidup (life style) keluarga yang didukung dengan bertebarannya pusat-pusat perbelanjaan di mana-mana.
Shopping tak selamanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi untuk keinginan dan kesenangan, dengan merasakan kenikmatan hanya pada saat membeli. Sindrom shopping ini banyak menggejala pada keluarga karena keluarga telah menjadi potensi besar produk global. Rasionalitas keluarga seakan tergiring dalam pasar global.
Memang perilaku konsumtif yang semula hanya dimonopoli oleh kaum kelas menengah ke atas, lama kelamaan telah merambah ke kelas menengah ke bawah yang cenderung dipaksakan. Strategi yang acap kali digunakan yaitu menghadirkan model-model terbaru, selain dengan berbagai tipe, ukuran, warna, kemasan, content, strategi discount, cuci gudang, limited production dan masih banyak lagi.
Pembedaan kelas
Secara teoritis kondisi ini dijelaskan melalui konsep habitus berbelanja menurut Pierre Bourdieu dalam bukunya Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Harvard University Press (1984). Bourdieu menggunakan istilah habitus untuk menjelaskan pola pikir, selera dan kebiasaan yang terbentuk dari pengalaman sosial seseorang.
Menurut Pierre Bourdieu, hobi berbelanja bukan sekadar pemenuhan kebutuhan, melainkan praktik sosial untuk menegaskan status, membentuk identitas dan menunjukkan perbedaan kelas (distinction). Aktivitas ini dipengaruhi oleh habitus (kebiasaan/selera yang tertanam) dan kapital (ekonomi/budaya), di mana konsumsi barang mewah sering digunakan untuk meniru kelas atas atau memperkuat posisi sosial. Tindakan individu, termasuk dalam hal konsumsi dan berbelanja, dipengaruhi oleh kebiasaan sosial yang terbentuk melalui proses sosialisasi dalam lingkungan tertentu. Dengan kata lain, cara seseorang berbelanja sering kali mencerminkan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang dimilikinya (p.121).
Baca juga:
- Menyelamatkan Masa Depan Kehidupan di DIY
- Menghidupkan Wisata yang Mensejahterakan Masyarakat Yogyakarta
Gaya hidup konsumtif dalam masyarakat kontemporer mencerminkan bagaimana individu mengekspresikan identitas melalui barang dan aktivitas yang mereka konsumsi. Dalam buku Distinction, Pierre Bourdieu mengkaji konsumsi sebagai mekanisme untuk mempertahankan pembedaan sosial (kelas) dengan memanfaatkan modal budaya, modal sosial, dan modal ekonomi. Konsumsi berperan sebagai arena perjuangan kelas, di mana individu dan kelompok memanfaatkan pola konsumsi untuk menunjukkan dan mempertahankan status mereka dalam hierarki sosial. Dalam perspektif Bourdieu, konsumsi tidak hanya menjadi ekspresi individu, tetapi juga alat untuk memperkuat pembedaan sosial dan mereproduksi struktur kelas.
Kritik Bourdieu terhadap penilaian selera menyoroti bagaimana kelas dominan memvalidasi kekuasaan sosial mereka dengan memaksakan selera kelas atas sebagai standar universal. Hal ini memperkuat hierarki sosial sekaligus menyamarkan ketimpangan ekonomi di balik perbedaan budaya yang diakui. Preferensi kelas atas tidak hanya mencerminkan status, tetapi juga menjadi sarana dominasi budaya.
Dimensi sosial dan simbolik
Perilaku berbelanja merupakan aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia. Setiap individu melakukan aktivitas konsumsi untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik kebutuhan dasar maupun kebutuhan simbolik. Namun, dalam perspektif habitus, perilaku berbelanja tidak semata-mata merupakan tindakan ekonomi yang rasional. Pilihan konsumsi seseorang juga dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, serta posisi individu dalam struktur masyarakat (p.125)
Habitus dapat dipahami sebagai sistem disposisi atau kecenderungan yang tertanam dalam diri individu melalui pengalaman hidup dan proses sosialisasi yang berlangsung lama. Disposisi tersebut memengaruhi cara individu berpikir, merasakan, dan bertindak dalam berbagai situasi sosial.
Habitus tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui interaksi yang terus-menerus antara individu dengan lingkungan sosialnya. Keluarga, pendidikan, lingkungan pergaulan, serta kondisi ekonomi merupakan faktor penting yang membentuk habitus seseorang. Melalui proses tersebut, individu menginternalisasi nilai, norma, dan pola perilaku tertentu yang kemudian menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Dalam konteks konsumsi, habitus memengaruhi cara individu memilih barang, tempat berbelanja, serta gaya hidup yang ingin ditampilkan. Misalnya, seseorang yang tumbuh dalam keluarga kelas menengah atas mungkin terbiasa berbelanja di pusat perbelanjaan modern atau membeli produk bermerek. Sebaliknya, individu yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas mungkin lebih terbiasa berbelanja di pasar tradisional atau mencari barang loakan yang dipajang dipinggir jalan dengan harga yang lebih terjangkau. Bahkan mungkin ada yang menunggu belas kasihan orang lain. Dengan demikian, habitus berperan penting dalam membentuk preferensi konsumsi individu sekaligus mereproduksi perbedaan sosial dalam masyarakat.
Dalam pandangan Bourdieu, praktik berbelanja tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan simbolik. Konsumsi sering kali menjadi sarana bagi individu untuk mengekspresikan identitas, gaya hidup, serta posisi sosial mereka.
- Genderuwo Ekologi Mengancam Indonesia
- Mengatasi Pengangguran, Menggenjot Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi
Sebagai contoh, pilihan seseorang untuk membeli pakaian dari merek tertentu dapat menunjukkan selera estetika sekaligus status sosial yang ingin ditampilkan. Produk yang dianggap eksklusif atau mahal sering kali memiliki nilai simbolik yang lebih tinggi dibandingkan produk biasa. Oleh karena itu, konsumsi tidak hanya berkaitan dengan fungsi barang, tetapi juga dengan makna sosial yang melekat pada barang tersebut.
Dalam masyarakat modern, praktik berbelanja juga semakin dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti media, iklan, dan budaya populer. Media massa dan media sosial memainkan peran penting dalam membentuk persepsi masyarakat tentang gaya hidup yang dianggap ideal. Akibatnya, banyak individu yang menyesuaikan kebiasaan berbelanja mereka dengan tren yang sedang berkembang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa praktik konsumsi tidak sepenuhnya bersifat rasional, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan budaya yang membentuk habitus individu.
Peran kapital
Selain konsep habitus, Bourdieu juga memperkenalkan konsep kapital yang menjelaskan sumber daya yang dimiliki individu dalam masyarakat. Kapital memiliki berbagai bentuk yang dapat memengaruhi posisi sosial seseorang. Dalam konteks konsumsi, beberapa bentuk kapital yang relevan antara lain kapital ekonomi, kapital budaya, dan kapital sosial.
Kapital ekonomi berkaitan dengan sumber daya material seperti uang dan aset yang memungkinkan individu untuk membeli barang atau jasa. Individu dengan kapital ekonomi yang tinggi memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan pola konsumsi mereka.
Kapital budaya mencakup pengetahuan, pendidikan, serta kemampuan memahami nilai estetika tertentu. Dalam praktik berbelanja, kapital budaya dapat memengaruhi cara individu menilai kualitas suatu produk atau menentukan selera konsumsi yang dianggap lebih “berkelas”.
Sementara itu, kapital sosial berkaitan dengan jaringan relasi yang dimiliki individu. Lingkungan pergaulan dapat memengaruhi kebiasaan konsumsi seseorang karena individu sering kali menyesuaikan gaya hidup mereka dengan kelompok sosial tempat mereka berada.
Interaksi antara berbagai bentuk kapital ini memainkan peran penting dalam membentuk habitus berbelanja. Individu yang memiliki kapital ekonomi dan budaya yang tinggi cenderung memiliki pola konsumsi yang berbeda dibandingkan individu dengan sumber daya yang lebih terbatas.
Perkembangan teknologi dan globalisasi telah membawa perubahan besar dalam praktik konsumsi masyarakat. Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah munculnya belanja daring (online shopping) melalui berbagai platform digital. Kemudahan akses internet memungkinkan individu untuk membeli berbagai produk tanpa harus datang langsung ke toko fisik.
Perubahan ini menunjukkan bahwa habitus berbelanja juga bersifat dinamis dan dapat beradaptasi dengan perkembangan sosial. Generasi muda yang tumbuh dalam era digital cenderung memiliki kebiasaan konsumsi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka lebih terbiasa menggunakan aplikasi belanja daring, memanfaatkan promosi digital, serta mencari informasi produk melalui media sosial.
Namun demikian, perubahan tersebut tidak sepenuhnya menghapus pengaruh faktor sosial dalam praktik konsumsi. Bahkan dalam dunia digital, preferensi konsumsi masih dipengaruhi oleh kelas sosial, gaya hidup, serta lingkungan pergaulan. Misalnya, produk tertentu sering dipromosikan sebagai simbol gaya hidup modern atau status sosial tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi mengubah cara berbelanja, struktur sosial tetap memainkan peran penting dalam membentuk pola konsumsi masyarakat.
Pendekatan Bourdieu memberikan pemahaman yang mendalam mengenai hubungan antara konsumsi dan struktur sosial. Dengan menggunakan konsep habitus dan kapital, teori ini mampu menjelaskan mengapa pola konsumsi masyarakat sering kali mencerminkan perbedaan kelas sosial.
Namun demikian, teori ini juga memiliki beberapa keterbatasan. Salah satu kritik yang sering diajukan adalah bahwa pendekatan Bourdieu cenderung terlalu menekankan peran struktur sosial dalam membentuk perilaku individu. Dalam kenyataannya, individu juga memiliki kemampuan untuk melakukan refleksi dan mengubah kebiasaan mereka.
Selain itu, perkembangan masyarakat modern yang semakin kompleks membuat batas antara kelas sosial menjadi lebih fleksibel. Globalisasi, teknologi digital, serta mobilitas sosial yang lebih tinggi memungkinkan individu untuk mengakses berbagai gaya hidup yang sebelumnya terbatas pada kelompok tertentu.
Kritik lainnya berkaitan dengan pengaruh media dan industri budaya dalam membentuk pola konsumsi masyarakat. Dalam banyak kasus, preferensi konsumsi tidak hanya dipengaruhi oleh habitus yang terbentuk melalui sosialisasi, tetapi juga oleh strategi pemasaran yang dirancang untuk memengaruhi perilaku konsumen.
Oleh karena itu, analisis terhadap habitus berbelanja perlu mempertimbangkan berbagai faktor tambahan seperti peran media, teknologi, serta dinamika ekonomi global.
Habitus berbelanja merupakan konsep yang penting untuk memahami praktik konsumsi dalam masyarakat. Melalui perspektif teori yang dikembangkan oleh Pierre Bourdieu, perilaku berbelanja dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara kebiasaan sosial, sumber daya yang dimiliki individu, serta struktur sosial tempat mereka berada.
Habitus yang terbentuk melalui proses sosialisasi memengaruhi cara individu memilih barang, tempat berbelanja, serta gaya hidup yang mereka tampilkan. Selain itu, berbagai bentuk kapital seperti kapital ekonomi, budaya, dan sosial juga memainkan peran penting dalam membentuk pola konsumsi masyarakat.
Meskipun teori Bourdieu memberikan kerangka analisis yang kuat, perubahan sosial yang terjadi dalam era modern menunjukkan bahwa praktik konsumsi terus mengalami transformasi. Perkembangan teknologi digital, media sosial, dan globalisasi telah memperluas pilihan konsumsi sekaligus mengubah cara individu berbelanja.
Habitus terbentuk melalui proses sosialisasi yang berlangsung dalam jangka waktu panjang. Sejak masa kanak-kanak, individu belajar berbagai nilai, norma, dan praktik sosial dari keluarga serta lingkungan sekitarnya. Nilai dan pengalaman tersebut kemudian tertanam dalam diri seseorang dan memengaruhi perilakunya secara tidak selalu disadari.
Meskipun cenderung stabil, habitus bukanlah sesuatu yang sepenuhnya tetap. Perubahan lingkungan sosial, pendidikan, maupun pengalaman hidup baru dapat memengaruhi dan mengubah kebiasaan yang telah terbentuk sebelumnya.
Habitus juga berkaitan erat dengan posisi seseorang dalam struktur sosial. Individu dengan latar belakang sosial yang berbeda akan memiliki kebiasaan, selera, dan cara bertindak yang berbeda pula. Oleh karena itu, perbedaan kelas sosial sering kali tercermin dalam gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat.
Melalui konsep habitus, Bourdieu menunjukkan bahwa praktik sosial sehari-hari tidak hanya dipengaruhi oleh pilihan individu, tetapi juga oleh struktur sosial yang membentuk pengalaman hidup seseorang. Dengan demikian, habitus menjadi kunci penting untuk memahami hubungan antara individu dan masyarakat dalam kehidupan sosial. Habitus berbelanja tidak hanya membantu memahami perilaku konsumsi masyarakat, tetapi juga memberikan gambaran yang lebih luas mengenai hubungan antara individu, budaya, dan struktur sosial dalam kehidupan modern.
Habitus, Perbedaan Kelas, dan Kapital Belanja, berupaya menerangkan hubungan antara individu dan struktur sosial. Ia menunjukkan bahwa praktik sosial yang dilakukan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh keputusan pribadi, tetapi juga oleh kondisi sosial yang membentuk pengalaman hidupnya. Dengan demikian, habitus menjadi salah satu konsep penting dalam memahami bagaimana struktur sosial tercermin dalam perilaku dan gaya hidup masyarakat. (*)
There is no ads to display, Please add some