Kerusakan Akibat Gempa Sulut Membuktikan Ketahanan Rapuh dan Budaya Kesiapsiagaan Belum Mengakar

beritabernas.com – Gempa dahsyat bermagnitudo 7,6 yang mengguncang Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), pada 2 April 2026 kembali mengetuk kesadaran kita sebagai bangsa. Sistem peringatan dini tsunami dari BMKG memang berjalan, menandakan sistem deteksi bekerja, namun nyawa tetap bergantung pada seberapa cepat masyarakat dan pemerintah daerah merespons.

“Kenyataan bahwa rumah warga hancur, fasilitas publik rusak dan korban jiwa berjatuhan menunjukkan bahwa ketahanan kita masih rapuh dan budaya kesiapsiagaan belum sepenuhnya mengakar,” kata Prof Ir H Sarwidi MSCE PhD IP-U ASEAN Eng APEC Eng, Guru Besar UII dan pengarah BNPB RI 2009–2025.

Baca juga:

Menurut Prof Sarwidi, peristiwa ini mengingatkan dengan tegas bahwa peristiwa ini harus menjadi titik balik. Kebijakan pengurangan risiko bencana sesuai amanat UU Nomor 24/2007 tidak boleh berhenti di atas kertas. Edukasi publik, pengawasan pembangunan dan kerja sama lintas sektor adalah kunci agar peringatan dini benar-benar menyelamatkan nyawa. Pesan ini bukan sekadar seruan akademis, melainkan panggilan moral untuk seluruh pemangku kepentingan.

Dikatakan, bencana gempa bumi Sulawesi Utara harus dibaca sebagai peringatan penting bahwa kesiapsiagaan bukan slogan yang diulang saat bencana datang, melainkan budaya hidup yang ditanamkan sejak dini. Jika sistem peringatan dini diperkuat dan masyarakat memahami langkah evakuasi dengan benar, maka setiap alarm yang berbunyi akan menjadi penyelamat, bukan sekadar bunyi sirene. Inilah saatnya bangsa Indonesia menjadikan kesiapsiagaan sebagai bagian dari identitas, demi masa depan yang lebih aman bagi generasi mendatang.

Prof Ir H Sarwidi (kanan) memeberikan kenang-kenangan kepada wakil dari Malaysia Green Technology Society (MGTS). Foto: Istimewa

Sejalan dengan urgensi tersebut, pada 27 Februari 2026, Museum Gempa Prof Dr Sarwidi (MUGESA) Indonesia meresmikan kerja sama strategis dengan Malaysia Green Technology Society (MGTS) melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Yogyakarta. Kesepakatan ini mencakup pertukaran pakar, seminar, lokakarya, pelatihan teknis, penelitian kolaboratif dan program pengabdian masyarakat.

Prof Sarwidi menekankan melalui kolaborasi ini, kita ingin membangun jembatan pengetahuan dan inovasi yang bermanfaat bagi Indonesia, Malaysia, dan dunia.

Dengan demikian, gempa Sulut menjadi momentum refleksi kebijakan nasional, sementara MoU MUGESA–MGTS meneguhkan langkah nyata menuju kolaborasi internasional. Keduanya saling melengkapi, di satu sisi sebagai alarm evaluasi untuk memperkuat sistem peringatan dini dan mitigasi nasional, dan di sisi lain sebagai jawaban strategis untuk membangun masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan melalui kerja sama lintas negara. (phj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *