Oleh: Laurensius Ndunggoma, Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Hima PMD 2025/2026
beritabernas.com – Rapat pastoral umat Katolik Kame yang diselenggarakan pada Senin 19 Januari 2025 menarik perhatian banyak umat. Pertemuan yang pada hakikatnya dimaksudkan sebagai wadah refleksi pelayanan dan penguatan iman tersebut dibawa oleh beredarnya informasi mengenai perubahan status pelayanan Pastor Pius Manu Pr, yang disebut telah memasuki masa pensiun.
Informasi ini menimbulkan berbagai tanggapan, mengingat sebelumnya Pastor Pius telah dinonaktifkan dari tugas pelayanan dan kemudian ditugaskan sebagai pastor pembantu di Paroki Kristus Raja Mopah Lama, Merauke, tanpa penjelasan resmi yang disampaikan secara terbuka kepada umat.
Peristiwa ini dipahami umat tidak semata-mata sebagai persoalan administratif Gereja. Bagi umat Katolik Kame, Pastor Pius dikenal sebagai gembala yang dekat dengan umat, mendengarkan aspirasi mereka DAN terlibat dalam dinamika sosial yang dihadapi oleh Orang Asli Papua (OAP) di Papua Selatan. Oleh karena itu, perubahan status dan pengugasan tersebut menimbulkan pertanyaan dan harapan akan adanya kejelasan mengenai dasar pertimbangan pastoral yang melatar.
Baca juga:
- Ini Alasan Mgr Paskalis B Syukur Mundur dari Uskup Bogor dan Klarifikasi Terkait Sejumlah Isu
- Uskup KAS: Biara Santa Maria Degli Angeli Klepu Harus jadi Rumah yang Nyaman bagi Para Suster
Gereja Katolik memiliki struktur hierarki yang menjadi bagian penting dalam kehidupan menggereja dan patut dihormati. Ketaatan terhadap struktur tersebut merupakan nilai yang dijunjung tinggi. Namun demikian, dalam tradisi Gereja, ketaatan selalu berjalan disertai dengan kepekaan terhadap suara hati nurani dan panggilan kenabian.
Para imam dipanggil tidak hanya untuk melayani sakramen, tetapi juga untuk hadir dan bersuara bagi mereka yang berada dalam situasi lemah dan terpinggirkan. Dalam konteks Papua Selatan, perhatian terhadap hak dan martabat Orang Asli Papua merupakan bagian dari tanggung jawab pastor
Sebagian umat memandang bahwa kepedulian dan sikap kritis Pastor Pius bersama para pendeta di wilayah Kame terhadap berbagai persoalan sosial, khususnya yang berkaitan dengan hak-hak OAP, turut mewarnai dinamika yang terjadi. Pandangan ini mendorong umat untuk mengajak seluruh pihak dalam Gereja melakukan refleksi bersama. Pembelaan martabat terhadap manusia dipahami bukan sebagai kepentingan tertentu, melainkan sebagai wujud nyata dari nilai-nilai Injil
Dalam situasi ini, perhatian umat juga bertemu dengan Uskup Agung Merauke, Monsinyur Kanisius Mandagi, sebagai pemimpin Gereja setempat. Umat berharap agar setiap keputusan pastoral yang diambil selamanya dilandasi oleh kebijaksanaan, semangat dialog dan kepedulian terhadap keutuhan dan persatuan Gereja. Harapan ini muncul sebagai ungkapan kerinduan agar kepemimpinan Gereja semakin peka terhadap suara umat di tingkat akar rumput.
Pandangan tersebut tidak dimaksudkan sebagai penilaian pribadi, melainkan sebagai ajakan untuk memperkuat pendekatan pastoral yang mengedepankan dialog dan kebijaksanaan. Seorang uskup tidak hanya menjalankan otoritas struktural, tetapi juga berperan sebagai pendeta yang merangkul umatnya.
Papua Selatan memiliki konteks sosial yang kompleks dan penuh tantangan. Ketidakadilan struktural, persoalan tanah adat dan marginalisasi Orang Asli Papua masih menjadi kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi demikian, Gereja diharapkan tidak bersikap netral. Sikap netral sering kali membiarkan ketidakadilan terus berlangsung. Gereja dipanggil untuk hadir secara nyata, menyuarakan.
Pendapat ini tidak dimaksudkan untuk memungkinkan umat menentang hierarki Gereja. Sebaliknya, tulisan ini merupakan ajakan untuk kembali pada hakikat Gereja sebagai persekutuan umat Allah. Gereja yang sehat adalah Gereja yang terbuka terhadap dialog, mampu menerima masukan dan berani melakukan refleksi serta pembaruan diri. Kesatuan Gereja tidak dibangun atas rasa takut atau kenyamanan semu, melainkan atas kejujuran, saling percaya, dan kasih.
Umat Katolik Kame berharap agar permasalahan ini dapat disikapi dan diselesaikan secara terbuka dan terfokus ke depan. Klarifikasi yang jujur dan jelas mengenai status serta pegugasan Pater Pius Manu Pr dipandang sebagai langkah awal untuk memulihkan kepercayaan umat. Lebih dari itu, umat berharap agar Gereja di Papua Selatan tetap setia pada panggilannya untuk membela martabat Orang Asli Papua dan seluruh umat Katolik.

