beritabernas.com – Sejak dibuka Juli 2025 lalu, anggota Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) terus bertambah. Hingga Selasa 20 Januari 2026, tercatat ada 2.012 anggota. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Bekasi, Surabaya, Bali, Medan, Semarang, Solo, Jogja, Pacitan, Purbalingga dan sebagainya.
Beragam alasan dan motivasi mereka untuk bergabung dalam Komunitas Mlampah Ziarah yang diinisiasi sekaligus diketuai oleh Roni Romel bersama AM Kuncoro, Stevanus Hening dan Anastasia Meilani ini. Selain karena penasaran, sebagian mengaku karena ada yang “menggerakkan” sehingga mereka tertarik untuk bergabung dan mau mengikuti mlampah ziarah dengan jarak yang cukup jauh (29 kilometer-32 kilomeer) dari dari Tugu Jogja sampai Gua Maria Lourdes Sedangsono, Kalibawang, Kulonprogo, DIY.
“Kelompok ini menjadi inspirasi bagi panjenengan semua karena sudah dilakukan sejak Juli 2025. Anggotanya bukan menyusut tapi malah terus bertambah karena menarik dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ini terjadi karena ada sesuatu yang menggerakan dan adanya kesadaran diri tiap peserta/ anggota komunitas untuk bergabung. Ini sebuah kesadaran diri yang menuntun kalian mengikuti mlampah ziarah,” kata Romo Iswahyudi Pr dalam homili pada misa yang diikuti peserta Walking Marathon de Sendangsono edisi ketujuh (WMSS#7) di Kapel Santa Maria Sendangsono, Minggu 18 Januari 2026.

Seorang peserta WMSS#7 yang mengaku berasal dari Paroki Kumetiran mengaku tertarik bergabung dengan komunitas ini dan mengikuti mlampah ziarah karena ada yang “menggerakkan” dalam dirinya setelah melihat postingan di media sosial. Karena ada yang “menggerakkan” dalam dirinya maka meski dengan jarak yang jauh dan usianya sudah lansia, ia pun berusaha mengikuti mlampah ziarah dengan jarak 29 kilometer dari Tugu Jogja sampai Sendangsono. Meski baru pertama kali mencoba, namun ia berhasil sampai finish.
“Saya penasaran dengan kelompok ini sehingga tertarik untuk bergabung. Saya melihat di medsos kok begitu banyak orang yang mengikuti mlampah ziarah dari Tugu Jogja hingga Sendangsono. Siapa yang menggerakkan mereka dan apa yang menarik dari komunitas ini. Karena penasaran maka saya pun mau bergabung,” kata Bu Eeng yang baru pertama kali mengikuti WMSS dan berhasil sampai finish dengan selamat tanpa evakuasi.
Sementara seorang peserta asal Paroki Tebet, Jakarta mengaku tertarik mengikuti mlampah ziarah dari Tugu Jogja sampai Sendangsono karena terpinspirasi dari kedua orangtuanya yang dulu ziarah ke Sendangsono dengan jalan kaki. Ia pun ingin mengenang apa yang dilakukan kedua orangtuanya itu dengan bergabung dengan Komunitas Mlampa Ziarah yang menadakan ziarah dengan jalan kaki setiap bulan.
Baca juga:
- Dengan Cuaca yang Bersahabat, Kegiatan WMSS#7 yang Diikuti 300 Peserta Berlangsung Sukses
- Di Bawah Guyuran Hujan, 410 Peserta Mlampah Ziarah Tetap Semangat dan Sukses Sampai Finish di Sendangsono
Sedangkan seorang peserta lain mengaku tertarik ikut ziarah dengan jalan kaki ke Sendangsono karena ingin mengatasi masalah yang dihadapi. Ternyata masalah bisa diselesaikan setelah mengikuti mlampah ziarah.
Menurut Romo Iswahyudi, komunitas ini menjadi inspirasi bagi banyak orang karena memang sudah dilakukan dan sudah dijalankan. Tentu ada sesuatu yang menggerakkan. Hal ini sesuai dengan bacaan kedua yang dikutip dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Korintus bahwa oleh kehendak Allah dipanggil untuk menjadi Rasul Yesus Kristus. Ini karena ada kesadaran diri bahwa dia itu Rasul yang dipilih oleh Allah.
“Ini bukan karena sombong tapi sebuah kesadaran diri bahwa dia (Paulus) dipilih oleh Allah menjadi Rasul Kristus Yesus. Ini adalah sebuah kesadaran diri yang akan menuntun Rasul Paulus memproduksi renungan-renungan yang sangat mendalam, memproduksi hasil teologi yang sangat luar biasa dan membuat karya-karya yang luar biasa. Bukan lagi aku yang hidup tapi Kristus hidup dalam aku,” kata Romo Iswahyudi.

Dikatakan, penyadaran diri sunggu sangat luat biasa. Peserta mlampah ziarah juga mau mengikuti ziarah dengan jalan kaki karena adanya kesadaran dari dalam diri sendiri, bukan karena terpaksa apalagi dipaksa. “Penyadaran diri menjadi penting sehingga kita bisa mengontrol diri kita, bisa berjalan setapak demi setapak, langkah demi langkah menuju sebuah perutusan panggilan hidup kita,” kata Romo Iswahyudi.
Para anggota Komunitas Mlampah Ziarah juga mengikuti mlampah ziarah dengan jarak yang cukup jauh karena adanya kesadaran diri, ada yang menggerakkan dari dalam dirinya dan terinspirasi dari kegiatan yang dilakukan komunitas.
“Siapa aku ini, siapakah diriku sebenarnya. Aku mau melangkah kemana dan langkah-langkahku itu berdasarkan panggilan dan perutusanku. Itu jauh lebih enak, lebih menyegarkan dan lebih mendamaikan daripada keluar dari rel, bukan panggilanku dan bukan perutusanku,” kata Romo Iswahyudi mengakhiri homilinya seraya mengingatkan agar menjadi pribadi yang selalu melangkah seturut dirinya, bukan karena orang lain. (phj)

