Meski Rute WMSS Special Sangat Menantang, Semua Peserta Tetap Merasa Senang

beritabernas.com – Kegiatan Walking Marathon de Sendangsono (WMSS) Special yang berlangsung Sabtu 14 Pebruari 2026 berjalan sukses. Meski rute yang dilalui sangat menantang dengan medan yang naik dan turun sangat tajam, semua peserta tetap merasa senang.

WMSS Special yang hanya diikuti 64 peserta hasil seleksi ketat dari sekian ratus anggota Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) yang mendaftar, ditambah 45 relawan jalan kaki dan bermotor, start dari Susteran Muntilan, Sabtu 14 Pebruari 2026 tepat pukul 05.00 pagi. Perjalanan sejauh hampir 33 kilometer itu peserta hingga finish di Gua Maria Lourdes Sendangsono, Kalibawang, Kulonprogo, DIY, paling cepat pukul 12.30 siang.

Baca juga:

“Meski rutenya sangat menantang karena beberapa tanjakan maupun turunan yang tajam dan panjang, saya tetap merasa senang. Karena sepanjang perjalanan ada pemandangan yang indah, udara yang segar dan ada kebersamaan yang sangat kental di antara peserta,” kata seorang peserta WMSS Special saat tiba di Gua Maria Lourdes Sendangsono.

Para peserta semakin merasa aman dan nyaman karena didampingi 45 relawan, baik berjalan kaki maupun yang bermotor, ditambah dua mobil ambulans masing-masing dari RS Bethesda dan KSU Gereja Paroki Pringgolayan yang selalu siap membantu bila ada peserta WMSS Special yang tak mampu melanjutkan perjalanan dengan berbagai alasan.

Romo Hari Suparwito SJ (kiri) bersama sejumlah peserta WMSS Special. Foto: Dok KMZ

Rasa senang dan bahagia semakin membuncah ketika malam hari atau Sabtu malam, semua peserta menyaksikan penampilan seni tradisional dari paguyuban Slaka pimpinan Kasimun yang sangat menghibur. “Benar-benar sangat menghibur. Rasa lelah setelah mengikuti perjalanan sejauh hampir 33 kilometer langsung sirna setelah menyaksikan penampilan kelompok Slaka ini,” kata salah seorang peserta WMSS Special.

Di sela penampilan paguyuban Slaka, Romo Hari Suparwito SJ selaku Romo Moderator Komunitas Mlampah Ziarah, Romo Andik Darmawanto O.Carm, AM Kuncoro (Sekjen Komunitas Mlampah Ziarah) dan Roni Romel memberikan renungan dan makna perjalanan ziarah dengan rute spesial Muntilan-Sendangsono.

Romo Andik Darmawanto mengungkapkan, rute yang dipilih sesungguhnya bukan rute baru tapi mengingjak jejak lama yang dihidupkan kembali. Jejak lama itu adalah jejak tiga nama besar yang membentuk wajah iman Katolik di Tanah Jawa bahkan Indonesia yakni jejak Romo Johannes Baptist Prennthaler SJ, Romo Frans van Lith SJ dan jejak Barnabas Sarikrama merupakan salah satu dari 4 orang di Menoreh yang dibaptis menjadi Katolik.

Sementara Romo Hari Suparwito SJ mengatakan, Romo van Lith meletakkan dasar iman Katolik di Tanah Jawa, Romo Prennthaler SJ melanjutkan/meneruskan dan mengembangkannya serta Barnabas Sarikrama dan kawan-kawan merupakan buah dari semua proses itu.

Menurut AM Kuncoro, Sekjen Komunitas Mlampah Ziarah, Barnabas Sarikromo menjadi jembatan pertama penyebaran misi di perbukitan Menoreh. Dengan bahasa Jawa halus, dengan cara tutur yang membumi, ia menceritakan Injil kepada tetangga, kepada para petani, kepada keluarga-keluarga di lereng Menoreh. Ia bukan berkhotbah dengan suara lantang, melainkan bersaksi lewat hidup: kejujuran, kerendahan hati dan keberanian untuk berbeda.

Peserta MWSS Special foto bersama di titik start Muntilan. Foto: Dok KMZ

Meski lelah, namun para peserta WMSS Special menyimak serius renungan dan sejarah perjalanan misi di buki Menoreh yang disampaikan ketiga narasumber. Mereja juga merasa terhibur dengan penampilan paguyuban Slaka dengan lagu-lagu rohani berbahasa Jawa.

Setelah mengikuti rekoleksi singkat dan sangat bermakna itu, para peserta pun bersitirahat di tempat-tempat yang sudah disediakan. Ada yang langsung tidur, namun tidak sedikit yang melek sampai pagi menikmati keheningan malam dan udara sejuk di Sendangsono.

Pada Minggu 15 Pebruari 2026 pagi setelah sarapan, peserta mengikuti doa rosario dilanjutkan misa yang dipimpin Romo Hari Suparwito SJ dan Romo Andik Darmawanto O.Carm. Di sela misa, dilakukan pengukuhan beberapa ketua Komunitas Mlampah Ziarah chapter Surabaya, Solo, Malang, Cirebon, Bali dan sebagainya.

Sekitar pukul 11.00, para peserta meninggalkan Sendangsono dan kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan sehat dan selamat. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *