beritabernas.com – Ratusan umat Katolik Gereja Santo Yohanes Pembaptis Payak, Dusun Bintaran Wetan, Kelurahan Srimulyo, Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti perarakan Minggu Palma. Perarakan dimulai dari pendopo kelurahan menuju gereja.
Peristiwa Minggu Palma merujuk pada kisah masuknya Yesus ke Kota Yerusalem. Dalam narasi Injil, Yesus menunggang keledai muda. Tindakan tersebut adalah wujud sikap rendah hati dan menjadi simbol bahwa Dia hadir sebagai pembawa damai.
Romo Yustinus Joko Wahyu Yuniarto dalam pengantarnya mengatakan, “Kita hendak mengawali misteri Paskah Tuhan kita Yesus Kristus, peristiwa sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Untuk menggenapi misteri inilah, Yesus memasuki Kota Yerusalem. Oleh karena itu marilah dengan penuh iman, penuh bakti, kita memiliki Tuhan sambil mengenangkan peristiwa yang menyelamatkan itu. Dengan demikian, kita memetik buah salib suci yaitu kebangkitan dan kehidupan.”

“Kalau kita menempatkan bacaan Injil pertama yang kita dengar sebelum perarakan, kalau kita membacanya hanya dari konteks bacaan hari ini, mungkin tidak akan cukup banyak dan tidak cukup memberi inspirasi. Tetapi kalau kita memberinya konteks yang lebih luas, pembicaraan yang senantiasa menjadi keprihatinan gereja-gereja di Asia, maka bacaan hari ini memberi kesempatan untuk mengembangkan hal yang perlu kita lakukan.”
“Di gereja Asia ditemukan satu persoalan yang penting digarap sebagai orang-orang beriman Katolik. Iman Katolik di Asia tidak cukup berkembang. Salah satu alasannya, karena orang-orang Katolik sedikit melakukan ritual-ritual keagamaannya secara visual. Orang-orang Katolik malu atau merasa bingung bagaimana supaya ritualnya bisa dilakukan di hadapan publik.”
“Kalau kita berpikir tentang tradisi visualisasi ritual gereja Katolik, maka kita yang ada di DIY ini sudah kehilangan dua tradisi yang cukup lama dihidupi oleh orang-orang Katolik yang tinggal di kampung-kampung Katolik.”
Romo Yustinus berharap, perarakan setiap Minggu Palma dari pendopo kelurahan dibuat menjadi semakin khas gereja Payak yang bekerjasama dengan kelurahan. Kita perlu menunjukkan ada ritual-ritual Katolik yang bagus, yang bisa menggugah orang.”

Sementara, Ketua Panitia Paskah 2026 Wilayah Santo Yohanes Pembaptis Payak, Margareta Rina Anjarwati menuturkan, jumlah umat yang mengikuti jalannya perarakan ada sekitar 260 orang. Perarakan Minggu Palma ini untuk ke-empat kali dilaksanakan di luar gereja (pendopo kelurahan). Pertama kali dilaksanakan tahun 2023.
Ia berharap, perarakan Minggu Palma ini dapat membangkitkan kesadaran umat akan pentingnya meneladani Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari; seperti kasih, pengampunan, dan kerendahan hati. Sehingga, semua orang dapat menjadi saksi-saksi kebangkitan Tuhan Yesus di dunia.
“Proses dalam mempersiapkan Minggu Palma merupakan wujud dari Lungguh bareng, Rembugan bareng, mutuske bareng, nandangi bareng,” ungkapnya. (Clementine Roesiani)

