beritabernas.com – Untuk pertama kali dalam empat tahun terakhir, umat Wilayah Santa Agatha Paroki St Petrus dan Paulus Babadan mengadakan misa pesta nama wilayah di Joglo Sambiroto, Kamis 5 Pebruari 2026. Perayaan Ekaristi yang dipimpin Romo Antonius Saptana Hadi Pr, Pastor Paroki St Petrus dan Paulus Babadan, dihadiri lebih dari 140 umat dari 6 lingkungan yang ada di Wilayah St Agatha.
Baca juga:
- Membumikan Laudato Si’: Dari Seruan Pastoral Menuju Gerakan Nyata Merawat Bumi
- Krisis Sampah Yogyakarta, Kevikepan Jogja Ajak Umat Katolik Mengolah Sampah secara Bertanggung Jawab
- Seruan Pastoral Vikep Jogja Timur dan Barat Terkait Situasi Krisis Sampah Yogyakarta
Misa pesta nama Wilayah Agatha ini menjadi ajang pertemuan dan perkenalan di antara umat yang ada di wilayah St Agatha sekaligus menggerakkan umat untuk menjadi semakin militan dalam menjalankan tugas pelayanan dan pewartaan. Hal ini sesuai dengan pribadi Santa Agatha yang militan, pelindung wilayah.
“Dia adalah orang kudus militan. Dalam usia 20 tahun, masih muda belia, ia menolak dijodohkan. Karena pilihannya adalah mau hidup murni selibat dengan tujuan untuk memuliakan Allah. Meski mati dibunuh, ia tidak takut. Maka kita perlu mengambil ketokohan, niat dan semangat Santa Agatha yakni semangat yang militan. Karena itu, seluruh umat wilayah Agatha tanpa kecuali untuk menjadi umat Katolik yang militan dengan mendalami rohani kekatolikan,” ajak Romo Sapto-sapaan Romo Antonius Saptana Hadi Pr dalam homilinya.

Pada kesempatan itu, Romo Sapto kembali mendorong umat wilayah Agatha untuk dimekarkan menjadi dua wilayah karena wilayah Agatha yan saat ini terdiri dari 6 lingkungan sudah terlalu gede/luas. Hal ini sesuai permintaan Tim Supervisi Keuskupan Agung Semarang pada Agustus 2025 lalu. Sesuai ketentuan, satu wilayah terdiri dari minimal 3 lingkungan dan maksimal 5 lingkungan. Dengan demikian, Wilayah Agatha sudah memenuhi syarat untuk dimekarkan menjadi dua wilayah dengan masing-masing wilayah terdiri dari 3 lingkungan.
“Kita akan merayakan tumbuk agung 64 tahun Gereja Babadan maka kiranya wilayah Agatha memberikan hadiah yakni pemekaran wilayah. Saya memberikan waktu sampai dengan akhir Juli 2026. Karena akan ‘diproklamasikan’ pada saat misa tumbuk agung Gereja Babadan pada Agustus 2026,” kata Romo Sapto.

Menurut Romo Sapto, pemekaran wilayah maupun lingkungan dimaksudkan untuk memaksimalkan potensi umat dengan semakin banyak umat yang terlibat dalam kegiatan pelayanan. Karena itu, ia meminta pengurus wilayah dan pengurus lingkungan untuk mulai memikirkan dan mempersiapkan pemekaran.
Ketua Wilayah Santa Agatha Sudarto pun mengajak para ketua lingkungan di wilayah St Agatha untuk bersama-sama memikirkan dan mempersiapkan rencana pemekaran tersebut. Saat ini Wilayah Agatha terdiri dari 6 lingkungan yakni Lingkungan St Antonius dengan ketua Purwaji, Lingkungan Santa Maria Ratu Rosari yang diketuai Philipus Jehamun, Lingkungan St Robertus diketuai Dwi, Lingkungan Santa Sisilia dketuai Antang, Lingkungan Santo Emanuel diketuai Stevanus Widodo dan Lingkungan Santa Helena dengan ketua Arin. (phj)
There is no ads to display, Please add some