beritabernas.com – Rektor UII Prof Fathul Wahid ST MSc PhD meminta para wisudawan/wisudawati agar terus mengasah empati dan kepekaan sosial. Sebab, bukan tidak mungkin pada suatu saat para wisudawan/ wisudawati akan memegang posisi yang menentukan kebijakan.
Empati adalah kemampuan untuk berhenti sejenak, lalu bertanya: siapa yang paling terdampak oleh keputusan ini? Apakah ada kelompok yang tertinggal? Apakah ada suara yang tidak terdengar? Sedangkan kepekaan sosial membuat kita tidak cepat puas dengan angka pertumbuhan, jika masih ada anak yang putus sekolah. Tidak cepat bangga dengan gedung-gedung tinggi, jika masih ada keluarga yang tidak mampu membeli alat tulis. Tidak mudah berkata “itu bukan urusan saya”, ketika ketidakadilan terjadi di depan mata.
Baca juga:
- FTSP UII Kembali Mewisuda Lulusan Program Pendidikan Profesi Arsitektur
- Wisuda 673 lulusan, Rektor UII Menguraikan Manfaat Humor Secara Ilmiah
“Ilmu yang saudara peroleh di kampus ini sangat penting. Keterampilan profesional saudara akan menentukan kualitas kerja. Tetapi tanpa empati, semua itu bisa kehilangan arah. Tanpa kepekaan sosial, kecerdasan bisa menjadi dingin. Kebijakan bisa menjadi kaku. Sistem bisa berjalan rapi di atas kertas, tetapi melukai manusia di lapangan,” kata Rektor UII Prof Fathul Wahid dalam acara wisuda 416 lulusan UII periode III Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium Prof KH Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII, Sabtu 14 Februari 2026.
Kali ini, sebanyak 416 lulusan dari berbagai jenjang mengikuti wisuda. Mereka terdiri dari 2 dari program ahli madya, 7 dari program sarjana terapan, 327 dari program sarjana, 72 dari program magister dan 8 dari program doktor. Dengan demikian, hingga saat ini UII telah melahirkan lebih dari 136.206 lulusan. Mereka menebar manfaat di berbagai penjuru negeri, bahkan hingga ke mancanegara. Setiap dari mereka membawa semangat UII: semangat untuk berilmu, berbuat baik dan memberi makna bagi sesama.

Menurut Fathul Wahid, para wisudawan/wisudawati nantinya tidak hanya bekerja tapi juga akan memengaruhi keputusan. Setiap keputusan selalu punya wajah manusia di baliknya. Karena itu, izinkan saya menitipkan satu pesan utama yakni asahlah empati, jagalah kepekaan sosial.
Hal itu disampaikan Rektor UII terkait adanya berita yang mengguncang nurani, dimana seorang siswa SD di NTT mengakhiri hidupnya karena orangtuanya belum sanggup membelikan buku dan pensil. Rasa kemanusiaan kita sebagai bangsa seperti terkoyak. Kok bisa? Sebab, setelah Indonesia merdeka lebih dari 80 tahun, masih ada saudara-saudara kita yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Tentu ini bukan soal budaya, ada andil besar isu struktural di baliknya. Padahal salah satu tujuan negara yang tertulis jelas dalam konstitusi adalah menghadirkan kesejahteraan umum.
Ia mengatakan, berita seperti ini bukan sekadar angka statistik, namun cermin tentang jarak antara cita-cita dan kenyataan. Cermin tentang pekerjaan rumah besar yang belum selesai. Para wisudawan/wati merupakan orang-orang terdidik yang kelak akan berada di berbagai posisi penting di kantor pemerintahan, di perusahaan, di kampus, di rumah sakit, di lembaga keuangan atau di organisasi masyarakat.
Dikatakan, beberapa tahun ke depan, mungkin para wisudawan akan duduk di ruang rapat ber-AC, membahas anggaran, strategi atau target kinerja. Di saat seperti itu, ingatlah wajah-wajah yang jarang hadir di ruangan tersebut: petani kecil, buruh harian, anak-anak di pelosok, keluarga yang hidup pas-pasan. Keputusan yang saudara tanda tangani bisa menentukan apakah mereka semakin terbantu, atau justru semakin terpinggirkan.

Ia mengatakan, menjaga empati bukan berarti menjadi lemah, tapi justru sebaliknya. Empati membuat keputusan kita lebih kuat secara moral. Lebih kokoh secara kemanusiaan dan lebih berkelanjutan dampaknya. Profesional yang unggul bukan hanya yang mumpuni, tetapi yang peduli.
Fathul Wahid mengatakan, pemimpin yang hebat bukan hanya yang cerdas, tetapi juga yang hatinya tetap lembut. Karena itu, seorang pemimpin perlu terus melatih diri untuk membuka telinga dan melapangkan dada. Ia bersedia mendengar kritik tanpa tergesa melihat para pengkritiknya sebagai lawan. Sebab pemimpin bukan malaikat yang kebal dari kesalahan, melainkan manusia yang justru tumbuh melalui kesediaan untuk belajar dan memperbaiki diri.
Empati juga serupa. Ia juga perlu dilatih. Ia tidak tumbuh otomatis bersama gelar akademik. Ia tumbuh ketika saudara mau mendengar cerita orang lain tanpa menghakimi. “Ketika saudara mau turun melihat kenyataan, bukan hanya membaca laporan. Ketika saudara berani bertanya, “apa yang bisa saya lakukan, sekecil apa pun, agar keadaan sedikit lebih baik?” katanya. (phj)
There is no ads to display, Please add some