Prof Suparman Marzuki: Tiga Cara Ini Perlu Dilakukan UII Menghadapi The Great Transition

beritabernas.com – Mantan Ketua Komisi Yudisial (KY) RI yang saat ini menjabat Ketua Yayasan Badan Wakaf UII Prof Dr Suparman Marzuki SH MH mengatakan, dunia saat ini sedang mengalami apa yang sering disebut sebagai The Great Transition (tantangan hebat). Untuk itu, sebagai lembaga pendidikan tinggi, UII perlu menjawab tantangan tersebut.

“Kita menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks daripada sepuluh tahun lalu yakni disrupsi teknologi (AI dan otomasi). Mesin kini bisa mengolah data, namun mesin tidak memiliki hikmah (wisdom). Selain itu, krisis Integritas. Sebagaimana dikhawatirkan oleh Ernst Fraenkel, tantangan terbesar kita adalah “Negara Ganda” (dual state) di mana institusi demokrasi tampak berdiri namun kultur hukum dan etikanya kerap tergerus. Dan fragmentasi sosial yakni kbenaran seringkali tertutup oleh narasi-narasi yang memecah belah,” Prof Suparman Marzuki dalam sambutan pada Rapat Terbuka Senat dalam rangka Milad ke-83 UII di Auditorium KH Abdulkahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Senin 19 Januari 2026.

Menurut Prof Suparman Marzuki, UII tidak boleh hanya sekadar beradaptasi (surviving), namun harus memimpin (leading). Lalu, bagaimana UII menjawab tantangan tersebut? Menurut Suparman Marzuki, ada 3 hal yang perlu dilakukan UII. Pertama, rekonstruksi kurikulum berbasis Ulil Albab. UII harus memastikan lulusannya tidak hanya mahir dalam literasi digital, tetapi memiliki “imun” etis yang kuat. Pendidikan kita harus mampu menghasilkan manusia yang berani berkata benar di tengah kerumunan yang salah.

Baca juga:

​Kedua, riset yang berdampak (high impact research). “Penelitian di UII harus turun ke bumi. Riset kita harus menjawab persoalan kemiskinan, ketidakadilan hukum dan krisis lingkungan. Kita ingin ilmu pengetahuan yang lahir dari rahim UII adalah ilmu yang nafi’ (bermanfaat),” kata Suparman.

​Ketiga, aoliditas kolektif-kolegial. Menurut Suparma Marzuki, kekuatan UII ada pada kebersamaannya. Di usia ke-83 ini, sinergi antara yayasan, universitas dan alumni harus semakin erat. “Kita adalah satu tubuh,” katanya.

Menurut Suparman Marzuki, hari ini UII berdiri di atas fondasi sejarah yang amat kokoh. Delapan puluh tiga tahun yang lalu, para pendiri bangsa ini, di antaranya Bung Hatta, Mas Mansyur hingga Kahar Muzakkir, membangun institusi ini bukan sekadar sebagai tempat transfer ilmu, melainkan sebagai “Laboratorium Kader Bangsa”.

“UII lahir dari rahim perjuangan kemerdekaan, dengan mandat suci: memadukan antara kecerdasan intelektual dan keluhuran akhlak Islam,” kata Suparman.

Dikatakan, delapan dekade telah berlalu dan UII telah membuktikan ketangguhannya. Kita patut bersyukur atas capaian akreditasi berbagai program studi, rekognisi dalam pemeringkatan nasional dan global, serta kontribusi nyata para alumni kita di berbagai lini strategis bangsa.

Rapat terbuka Senat UII dalam rangka Milad ke-83. Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

Namun, pencapaian akademik kita yang paling hakiki bukanlah sekadar angka di atas kertas atau sertifikat akreditasi. Prestasi terbesar UII adalah kemampuannya menjaga independensi akademik. Di tengah tarikan arus politik dan komersialisasi pendidikan, UII tetap konsisten menjadi suara kritis yang objektif, menjadi oase bagi akal sehat dan menjadi benteng bagi nilai-nilai kebenaran.

Selanjutnya, menjelang satu abad usia UII, mari kita renungkan kembali pesan para pendiri. UII bukan milik satu golongan, tapi milik bangsa. Tantangan boleh membesar, badai disrupsi boleh menerjang, namun selama kita memegang teguh tali agama Allah dan nilai-nilai integritas akademik, UII akan tetap berdiri tegak sebagai mercusuar peradaban.

​ “Mari kita jadikan Milad ke-83 UII sebagai momentum untuk melakukan muhasabah dan akselerasi. Jangan biarkan kultur kita dihinggapi bayang-bayang pragmatisme yang sempit. Tetaplah menjadi pembelajar, tetaplah menjadi pembela keadilan,” pesan Suparman Marzuki. (phj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *