beritabernas.com – Romo FX Murti Hadi SJ mengatakan, para pengikut kristus, terutama orang-orang Katolik, sering dianggap sebagai pemuja salib, orang-orang yang suka dengan penderitaan. Bahkan tidak sedikit orang yang meninggalkan Gereja Katolik karena ibadat-ibadat dianggap terlalu gloomy, terlalu sedih, terlalu suram dan tidak terlalu banyak sukacita.
“Saya kira pendapat seperti ini tidak terlalu salah. Hanya saja orang-orang yang beranggapan seperti ini tidak tahu bahwa umat Katolik juga mendapat kekuatan dari salib Kristus ketika kita sedang bersedih dan ketika sedang menderita,” kata Romo FX Murti Hadi SJ dalam homili singkat pada ibadah pertama peringatan wafat Yesus Kristus di Gereja Katolik Paroki St Petrus dan Paulus Babadan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, pada Jumat 3 April 2026 mulai pukul 15.00 WIB.

Menurut Romo FX Murti Hadi SJ, kita bisa merasakan betapa hancurnya hati kita ketika ditinggal oleh orang yang kita kasihi. Tetapi ketika memandang salib Kristus maka penghiburan itu segera datang. “Hati kita tidak dihancurkan oleh kematian tapi iman kita dikuatkan bahwa orang yang kita cintai sudah bahagia bersama Bapa sendiri di rumah keabadian. Hati kita tidak hancur tapi kekuatan itu kita dapat dari salib Kristus,” kata Romo Murti Hadi.
Romo Murti menceritakan pada pandemi Covid-16, seorang bapak ditinggal mati istrinya karena Covid-19. Namun, sang bapak tidak larut dalam kesedihan. Ia justru dengan semangat membantu tetangga dan warga lainya yang juga menderita karena covid.
Ia mengaku mendapat kekuatan saat berdoa untuk istri dan anaknya di depan salib Kristus. Ketika berdoa di depan salib, dan salib Kristus seolah berbicara kepadanya bahwa harus menolong sesama yang menderita. Setelah mendengar itu, ia merasa mendapat kekuatan.
Baca juga:
- Hujan Deras Mengiringi Ibadah Peringatan Wafat Yesus Kristus di Gereja Katolik Babadan
- Wujud Iman dan Toleransi, Ribuan Umat Katolik Ikuti Kirab Salib di Kota Magelang
“Kekuatan gereja didapat karena kita semua pemuja salib. Kita sudah terbiasa memuja salib dan menimba kekuatan dari salib Kristus. Kalau saat ini sedang menberita maka tataplah salib maka rasakan bahwa bukan kita yang menemani Kristus yang tersalib, tapi Kristus yang tersalib itulah yang menemani kita di dalam penderitaan kita. Kita bersyukur atas salib Kristus yang menguatkan dan menyelamatkan,” ajak Romo Murti.
Sementara Yosef Endro, seorang petugas yang membacakan pengantar ibadah, mengungkapkan, inti dari misteri Jumat Agung adalah mengenang kembali sengsara dan wafat Yesus Kristus. Motif sengsara Yesus bahwa Allah mengasihi kita sepenuhnya sampai akhir dan Yesus, Sang Anak Domba Allah, telah dikorbankan untuk menebus dosa manusia.

Menurut Yosef Endro, menghayati ibadat Jumat Agung berarti juga belajar untuk mengampuni dan tidak menyimpan dendam serta kita belajar tentang kesetiaan Yesus seperti mengikuti kehendak BapaNya. Bila dalam ibadat Jumat Agung tidak ada nyanyian, bukan hanya menyatakan perkabungan tapi juga mengingatkan bahwa dalam hirup pikuk keriuhan dan hingar bingar dunia dewasa ini, para murid Kristus harus menciptakan keheningan untuk mendengarkan kehendak Allah dalam menapaki panggilan hidupnya sehingga dapat menentukan sikap secara tepat untuk menghadapi dunia yang terus berubah.
Ibadah pertama peringatan wafat Yesus Kristus di Gereja Katolik Babadan diiringi hujan deras. Padahal sebelum ibadah yang dipimpin Romo FX Murti Hadi SJ itu, cuaca tampak cerah. Sekitar 2.000 umat Katolik yang mengikuti ibadah pertama peringatan wafat Yesus Kristus di Gereja Katolik Babadan berdatangan sejak pukul 13.30 wib dalam cuaca yang cerah. Mereka pun dengan tertib menempati kursi-kursi yang tersedia baik di dalam maupun di luar gereja, seperti sayap utara, sayap selatan, basesment, aula dan di depan gereja.
Setelah ibadah selesai sekitar pukul 17.00, cuaca kembali cerah. Umat Katolik yang mengikuti ibadah pertama peringatan wafat Yesus pun pulang dalam cuaca cerah. Pada saat bersamaan, umat yang mengikuti ibadat kedua peringatan wafat Yesus Kristus pada pukul 18.00 mulai berdatangan. (phj)

