beritabernas.com – Telehealth terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta Bantuan Hidup Dasar (BHD) dengan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 10,65 (pre-test) menjadi 26,58 (post-test).
Kualitas sistem yang stabil (90% setuju), informasi yang relevan (95% setuju) dan dukungan Dinas Kesehatan Kota Pontianak (93,06% setuju) berkontribusi signifikan terhadap kepuasan pengguna (91,67% setuju). Bahkan sebanyak 95% responden melaporkan peningkatan kesiapan mereka dalam menghadapi situasi darurat seperti henti jantung.
“Implementasi telehealth efektif meningkatkan aksesibilitas dan pengetahuan masyarakat dalam pelatihan BHD di Kota Pontianak. Namun, hambatan seperti literasi digital rendah dan kurangnya regulasi lokal perlu diatasi melalui sosialisasi, penguatan infrastruktur dan penyusunan kebijakan pendukung untuk memastikan keberlanjutan program,” kata Ruhil Iswara M.Kom, Alumni Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII dengan konsentrasi Informatika Medis, dalam jumpa pers secara daring, Senin 12 Januari 2026.

Dalam penelitian berjudul Analisis Implementasi Telehealth dalam Pelatihan Bantuan Hidup Dasar Henti Jantung di Kota Pontianak, Ruhil Iswara M.Kom yang didampingi Prof Dr Sri Kusumadewi S.Si MT, Dosen Pembimbing/ Dosen Jurusan Informatika FTI UII dan Dr Ahmad Luthfi (Dosen Informatika FTI UII), mengatakan, latar belakang dilakukan penelitian ini adalah karena banyak kejadian henti jantung mendadak sebagai penyebab utama kematian.
“Kasus henti jantung sebagai penyebab utama kematian ini dapat dicegah melalui Bantuan Hidup Dasar (BHD). Namun, karena akses terbatas terhadap pelatihan kesehatan darurat di Kota Pontianak memerlukan solusi inovatif seperti telehealth, yang memungkinkan pelatihan daring yang fleksibel dan menjangkau lebih banyak peserta,” kata Ruhil Iswara.
Menurut Ruhil Iswara, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi telehealth dalam pelatihan BHD henti jantung di Kota Pontianak dan mengevaluasi efektivitasnya dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner dari 60 responden masyarakat umum di Kota Pontianak, dianalisis menggunakan model HOT-Fit untuk menilai kualitas sistem, informasi, dukungan layanan, kepuasan pengguna, dan manfaat bersih.
Dari hasil penelitian ini, Ruhil Iswara menyimpulkan penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan BHD berbasis telehealth efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat di Kota Pontianak. Analisis data dari 60 responden menunjukkan peningkatan signifikan dalam skor pengetahuan, dari rata-rata 10,65 (pre-test) menjadi 26,58 (post test), dengan nilai p< 0,001 dan ukuran efek besar (Cohen’s d = -1,921).
Baca juga:
- Sistem Pendukung Keputusan Klinis Bantu Dokter Membuat Keputusan Medis yang Tepat
- Aplikasi Elder Care Monitor Memudahkan Pengguna Memantau Kesehatan Orang Lansia
- Kunjungan Rumah bagi Lansia Harus Menjadi Gerakan Sosial Bersama
Sebanyak 95% responden melaporkan peningkatan kesiapan menghadapi situasi darurat henti jantung, menandakan adanya peningkatan keterampilan praktis. Hal ini mengkonfirmasi bahwa telehealth menyediakan platform aksesibel untuk memperluas pelatihan BHD, mengatasi keterbatasan geografis dan anggaran yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kota Pontianak.
Sementara faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas telehealth mencakup aspek teknologi, pengguna, dan organisasi. Dari aspek teknologi, Kualitas Sistem (koefisien 0,611, p=0,000) dan Kualitas Layanan (koefisien 0,568, p=0,000) berpengaruh signifikan terhadap Penggunaan Sistem dan Kepuasan Pengguna, menunjukkan peran penting desain platform dan dukungan teknis.
Namun, Kualitas Informasi (koefisien 0,167, p=0,055) tidak signifikan memengaruhi Penggunaan Sistem, kemungkinan akibat literasi digital rendah di kalangan responden. Dari aspek pengguna, Kepuasan Pengguna (koefisien 0,114, p=0,600 untuk H7; 0,089, p=0,581 untuk H8) tidak mendorong Penggunaan Sistem atau Manfaat Bersih secara signifikan, diduga karena sifat penggunaan yang situasional. Dari aspek organisasi, Dukungan Dinas Kesehatan (koefisien 0,250, diasumsikan p<0,05) berkontribusi positif terhadap Manfaat Bersih, menegaskan peran institusi lokal. Hambatan seperti stabilitas internet dan kurangnya regulasi lokal juga teridentifikasi sebagai faktor yang membatasi efektivitas.
Menurut Ruhil Iswara, penelitian ini menganalisis efektivitas implementasi telehealth dalam pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk penanganan henti jantung di Kota Pontianak menggunakan model Human, Organization, Technology and Benefit (HOT-Fit), dengan fokus pada dua rumusan masalah utama.
Ruhil Iswara mengatakan ada 3 hipotesis yang ditolak, pertama, H3 (Kualitas informasi→ enggunaan sistem): ditolak karena meskipun informasi yang diberikan akurat dan relevan, peserta cenderung hanya mengikuti instruksi tanpa banyak melakukan eksplorasi lebih lanjut terhadap sistem.
Kedua, H5 (kualitas layanan→penggunaan sistem): ditolak karena layanan teknis bukan faktor utama dalam mendorong penggunaan sistem; responden lebih fokus pada kemudahan akses materi dan dukungan dari Dinas Kesehatan.
Ketiga, H7 (kepuasan pengguna→penggunaan sistem): ditolak karena meskipun responden merasa puas, hal tersebut tidak serta-merta meningkatkan intensitas penggunaan sistem tanpa adanya dorongan dari program resmi.

Menurut Ruhil, temuan ini mengindikasikan bahwa faktor dukungan organisasi dan stabilitas sistem lebih dominan dibandingkan kualitas layanan maupun kepuasan pengguna dalam memengaruhi keberhasilan implementasi telehealth.
Ketika ditanya apakah ini merupakan penelitian baru atau lanjutan dari penelitian yang sudah ada, Ruhil Iswara mengatakan bahwa tesis ini merupakan penelitian baru. Hal baru (inovasi) dari penelitian ini adalah pemanfaatan telehealth sebagai media pelatihan Bantuan Hidup Hasar (BHD) bagi masyarakat umum yang selama ini hanya dilaksanakan secara luring.
Penelitian dilakukan sekitar 6 bulan meliputi persiapan, pengumpulan data (wawancara & kuesioner), analisis, dan pelaporan. Hasil yang imanfaatkan adalah edukasi/pelatihan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada henti jantung oleh iInstruktur pelatihan BHD dan masyarakat umum.
Prof Dr Sri Kusumadewi S.Si MT mengapresiasi penilitian yang dilakukan Ruhil Iswara karena sangat membatu para peserta BDH untuk mencegah kematian akibat serangan/henti janjung mendadak. Dengan pengetahuan yang dimiliki atau diperoleh dari pelatihan telehealth, peserta BHD bisa dengan cepat membantu mereka yang mengalami serangan/henti jantung mendadak. (phj)

