beritabernas.com – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Unggulan Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII menginisiasi program pengolahan jelantah menjadi produk bernilai guna. Mereka melatih Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Blekik di Masjid Al Huda, Dusun Blekik, Kalurahan Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Sabtu 14 Pebruari 2026 mengolah jelantah menjadi sabun.
Dalam melaksanakan programtersebut, tim yang beranggotakan 8 dosen dan mahasiswa dari Jurusan Farmasi Fakultas MIPA ini bekerja sama dengan Jurusan Teknik Lingkungan FTSP UII. Puluhan ibu sangat antusias mengikuti pelatihan bertajuk Dari Jelantah Jadi Berkah, Ubah Limbah Jadi Sabun untuk Ekonomi Berdaya tersebut.
Menurut Dr.apt. Viviane Annisa, salah satu anggota Tim PKM Unggulan YBW UII, selama ini minyak goreng bekas atau jelantah masih menjadi persoalan yang kerap ditemui di masyarakat. Jika dibuang sembarangan, limbah ini dapat mencemari tanah dan saluran air. Sementara di sisi lain, penggunaan minyak goreng secara berulang juga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.
Baca juga:
- Mahasiswa KKN Kelompok 17 UMBY Adakan Pelatihan Ekoprint di Dusun Sendangsari
- Mahasiswa KKN-PPM XLV UMBY Mengadakan Pelatihan Pembuatan Pakan Fermentasi dan Pengolahan Limbah Ternak
- Bank Sampah Go Green Cupuwatu Berhasil Mengolah 787 Kg Sampah Plastik jadi 699 Liter BBM
Dalam pelatihan itu, peserta tidak hanya memperoleh materi edukatif, tetapi juga praktik langsung membuat sabun cuci berbahan dasar jelantah. Kegiatan ini didukung hibah YBW UII Tahun Anggaran 2025 senilai Rp 21 juta untuk kolaborasi Jurusan Farmasi FMIPA dan Teknik Lingkungan FTSP.
Dikatakan, rangkaian kegiatan meliputi workshop pembuatan sabun dari jelantah serta penyampaian materi mengenai pengelolaan limbah rumah tangga yang aman dan ramah lingkungan. “Sebelumnya tim kami melakukan percobaan membuat jelantah jadi sabun cair dan padat. Prosesnya didokumentasikan dalam bentuk video yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk bahan pembelajaran,” kata Viviane.
Proses pengolahan jelantah jadi sabun
Dalam sesi demonstrasi, Apt.Siti Zahliyatul Munawiroh PhD selaku ketua pelaksana hibah mempraktikkan secara langsung tahapan pembuatan sabun. Ia menjelaskan bahwa proses tersebut menggunakan reaksi saponifikasi, yakni reaksi antara asam lemak dan basa kuat yang menghasilkan sabun.
Untuk sabun cair digunakan Kalium Hidroksida, sedangkan sabun padat dibuat dengan Natrium Hidroksida. Dari satu liter jelantah dapat dihasilkan sekitar dua hingga tiga liter sabun cair. “Proses untuk membuat sabun cair, setelah dapat bibit sabun kemudian diencerkan. Kalau sabun padat, dicetak dulu lalu diangin-anginkan selama dua sampai empat minggu,” kata Siti Zahliyatul.

Sebelum masuk tahap produksi, jelantah direndam semalaman menggunakan arang aktif guna menyaring kotoran. Untuk mengurangi bau, saat pemanasan dapat ditambahkan sereh, jahe atau daun jeruk. Sabun yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mencuci peralatan dapur, pakaian, hingga membersihkan lantai.
“Jika ingin membuat sabun untuk mandi, bahan yang dipakai adalah minyak yang baru agar lebih lembut di kulit,” kata Siti.
Selain pelatihan teknis, kegiatan ini juga diisi tausiah oleh Dosen Farmasi UII Romo Sukir, yang membahas pentingnya pemberdayaan perempuan sebagai pilar keluarga dan bangsa. Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta mampu mengembangkan keterampilan yang berdampak pada peningkatan ekonomi keluarga. “Selain dipakai sendiri, sabun juga bisa dijual sehingga bisa membantu ekonomi keluarga,” kata Siti.
Perwakilan KUBE Blekik Sugiyah mengapresiasi pelatihan tersebut. “Ilmunya sangat bermanfaat. Selama ini jelantah cuma dibuang, ternyata bisa diolah jadi barang yang berguna,” kata Sugiyah. (phj)
There is no ads to display, Please add some