beritabernas.com – Meski informasi kegiatan jalan sehat yang juga disebut mlampah ziarah (ziarah dengan jalan kaki) dari Gereja Babadan ke Gereja Cangkringan, Sabtu 28 Pebruari 2026, hanya getok tular alias dari mulut ke mulut, namun sambutan umat sangat luar biasa. Banyak umat Katolik, baik dari Paroki Babadan maupun dari luar paroki, sangat antusias mengikuti mlampah ziarah yang baru pertama kali diadakan itu.
Namun, karena baru pertama kali diadakan sebagai ajang uji coba, jumlah peserta dibatasi hanya maksimal 50 orang dan itu terpenuhi, meski ada beberapa orang yang membatalkan sehari sebelumnya dengan berbagai alasan yang jelas dan bisa diterima, seperti ada orangtua yang meninggal dunia pada malam sebelum hari H, ada panggilan tugas yang mendadak dan sebagainya.

Kegiatan jalan sehat atau mlampah ziarah yang diinisiasi oleh beberapa anggota Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) asal Paroki St Petrus dan Paulus Babadan, antara lain Josef Pantas, Thomas Yoelianto dan Philipus Jehamun ini, menempuh jarak sejauh 11 kilometer dengan jangka waktu hampir 3 jam (termasuk berhenti foto-foto, video dan istirahat). Start dari Gereja Babadan pukul 05.30 tepat dan finish di Gereja Cangkringan jam 08.30 wib.
Dalam perjalanan para peserta benar-benar menikmati pemandangan alam yang indah, hamparan sawah yang luas membentang, dengan padi yang hijau dan menguning serta aneka tanaman palawija yang tumbuh subur. Pemandangan semakin tampak indah saat cuaca cerah sehingga Gunung Merapi tampak jelas berdiri megah dari kejauhan.
Baca juga:
- Komunitas Mlampah Ziarah Menjadi Inspirasi yang Menggerakkan Umat untuk Berpartisipasi
- Kegiatan Mlampah Ziarah Menyebar “Virus” Kebaikan
- Gua Maria Bunda Gereja Jurang Metes, Salah Satu Tujuan Favorit Komunitas Mlampah Ziarah
- Tiada Hari Tanpa Mlampah Ziarah, Kurang Gawean?
“Amazing,” komentar Maria Dewi Hardianti spontan saat melihat hamparan sawah yang luas dengan latar belakang Gunung Merapi yang tampak jelas di bawah cuaca yang cerah pada Sabtu 28 Pebruari 2026 pagi.
Rute yang dilalui memang sangat aman dan nyaman melewati perkampungan dan tepi sawah yang sangat minim dilalui kendaraan bermotor, terutama mobil. Para peserta pun jalan dengan santai sambil menikmati pemandangan alam yang indah dengan cuaca yang sangat cerah.
Pastor Paroki St Petrus dan Paulus Babadan Romo Antonius Saptana Hadi Pr yang dengan penuh semangat ikut serta dalam kegiatan mlampah ziarah ini sangat mendukung bahkan menginginkan kegiatan ini diadakan secara rutin dengan mengajak semakin banyak umat.

“Saya sangat senang ada inisiatif dari umat untuk mengadakan kegiatan mlampah ziarah ini. Selain menyehatkan raga/badan, kegiatan ini juga menyegarkan jiwa/rohani karena kita berjalan dalam suasana kebersamaan dan penuh persaaudaraan. Tidak ada yang jalan cepat-cepatan. Kalau ada yang tertinggal, ditunggu, lalu kemudian kembali berjalan bersama. Ini sangat menyenangkan,” kata Romo Sapto-sapaan Romo Antonius Saptana Hadir Pr.
Karena itu, Romo Sapto pun berharap kegiatan jalan sehat atau mlampah ziarah dari Gereja Babadan ke Gereja Cangkringan ini dadakan secara rutin, entah sekali sebulan atau sekali dua bulan, dengan mengajak sebanyak mungkin umat, baik dari Paroki Babadan maupun dari luar paroki.
Josef Pantas, salah satu inisiator kegiatan mlampah ziarah Gereja Babadan-Cangkringan yang juga salah satu Anggota Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) asal Paroki Babadan, mengatakan, kegiatan ini terinspirasi dari kegiatan Walking Marathon de Sendang Sono (WMSS) yang diadakan rutin setiap bulan dari Tugu Jogja ke Gua Maria Lourdes Sendang Sono, Kalibawang, Kulonprogo, DIY.

“Bedanya cuma soal jarak. Kalau mlampah ziarah dari Tugu Jogja ke Sendang Sono sejauh 29 kilometer, sedangkan dari Gereja Babadan ke Gereja Cangkringan cuma 11 kilometer. Namun, konsep dan tujuannya sama. Selain untuk menyehatkan jiwa dan raga, kegiatan ini juga untuk membudayakan kembali ziarah dengan jalan kaki, memupuk rasa kebersama dan persaudaraan,” kata Josef Pantas yang sukses mengikuti WMSS Special dari Muntilan ke Sendang Sono sejauh 33 kilometer dengan waktu tempuh 8,5 jam dan finish di urutan 10 dari 64 peserta pada 114-15 Pebruari 2026.
Pada kegiatan jalan sehat Sabtu 28 Pebruari 2026, para peserta disambut dengan hangat oleh umat Gereja Cangkringan. Setelah menikmati teh panas dan gorengan hangat yang disediakan umat Gereja Cangkringan, para peserta mengikuti doa Rosario bersama di depan Gua Maria Imaculata yang ada di depan Gereja Cangkringan. Setelah doa Rosaria, para peserta kembali ke Gereja Babadan, baik menggunakan shuttle berupa bus mini, kendaaan pribadi atau ojek online (motor/mobil). (phj)
There is no ads to display, Please add some