beritabernas.com – Yustinus Prastowo, mantan Staf Ahli Menteri Keuangan RI era Sri Mulyani Indrawati menjawab berbagi cemoohan terkait keikutsertaannya dalam Aksi 1.000 Lilin di depan Kedubes Vatikan, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Melalui akun media sosial Facebook, Yustinus Prastowo secara panjang lebar menjelaskan alasan mengapa ia ikut dalam aksi yang memicu tanggapan beragam, pro dan kontra, dari kalangan Gereja dan umat Katolik itu.
“Saya hanya ingin Gereja Katolik memanfaatkan momen ini untuk berkaca, berbenah, membuka dialog yang terbuka dan rekonsiliasi. Tak akan ada pengampunan tanpa penyingkapan kebenaran. Juga tak perlu saling menyalahkan,” kata Yustinus Prastowo yang dikutip beritabernas.com dari akun facebooknya.
Yustinus Prastowo yang selama 5 tahun menjadi Staf Ahli Menteri Keuangan Sri Mulyani mengaku dirinya hanya umat biasa yang ingin terlibat. Di kerja sunyi dan tak populer ini, ia senantiasa merunduk untuk mendapat terang Roh Kudus dan dengan rendah hati hormat dan taat pada Bapa Suci dan para Uskup sebagai gembala.
Setelah ini, ia berharap Gereja Katolik Indonesia sanggup kembali menjadi kompas moral bagi banyak urusan bangsa yang sedang dilanda masalah korupsi, kerusakan lingkungan, kemiskinan dan ketimpangan ekstrem, hedonisme akut yang jangan-jangan iblis saja sudah gagal memahami.
Menjawab banyak pertanyaan dan pro kontra
Yustinus Prastowo mengaku, sejak melakukan Aksi 1.000 Lilin di depan Kedubes Vatikan, Jakarta, banyak pertanyaan dan pro kontra berdatangan. Dari yang sungguh-sungguh ingin tahu dan mendalami hingga yang sekadar mendukung atau mencela.
Ia pun berterima kasih atas semua bentuk respon tersebut karena itu sebagai pertanda Gereja masih hidup, berdenyut. Bukan fosil atau monumen tua tak berguna. “Di titik ini kita patut bersyukur,” katanya.
Ada pula gugatan dengan bertanya mengapa mesti mengumbar urusan internal Gereja ke publik, khususnya di jalanan. Selain itu, ada yang mengatakan bahwa Gereja bukan entitas politik dan tidak menganut demokrasi, tetapi hierarki yang punya cara tersendiri dalam menyelesaikan persoalan.
Baca juga:–
- Ini Alasan Mgr Paskalis B Syukur Mundur dari Uskup Bogor dan Klarifikasi Terkait Sejumlah Isu
- Ini 3 Alasan Mgr Paskalis Bruno Syukur untuk Tidak Bersedia Diangkat sebagai Kardinal
- Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM Diangkat jadi Kardinal, Doa Forkoma PMKRI Terkabul
Atas pertanyaan dan penilaian itu, Yustinus menjelaskan bahwa ruang publik kini tak dibatasi yang fisik. Justru belakangan ini media sosial menjadi ruang publik yang paling aktif dan berpengaruh. Warganet berjejaring, bertukar informasi, saling kritik, bahkan tak jarang saling serang. Kini advokasi pun kerap dilakukan via medsos dan efektif mulai dari menggugat jalanan rusak, tak setuju dengan perilaku pejabat, mendukung penindakan pada perusak lingkungan, hingga menolak kenaikan tunjangan pejabat negara. Bahkan gerakan yang cukup besar pada bulan Agustus 2025 dimulai dari medsos.
Karena itu, menurut Yustinus, mempartisi jalanan vs medsos itu kurang tepat. Keduanya sudah menjadi lokus perbuatan hukum yang diatur dan punya implikasi. Bisa sama-sama memalukan atau memuliakan.
Menjawab pertanyaan kenapa tak berkomunikasi dengan hierarki, Yustinus mengaku bingung. Silang sengkarut soal pengunduran diri Mgr Paskalis Bruno Syukur terkesan dibiarkan. Begitu banyak informasi membanjiri medsos tanpa penjelasan otoritas yang memadai. Bahkan ada beberapa tudingan yang dijadikan rujukan banyak orang dan terkesan valid. Implisit mendaku bersumber dari otoritas. Makian, hujatan dan serangan ke pribadi Mgr Paskalis, yang didahului surat dua pastor Keuskupan Bogor, menambah kebingungan.
“Jika ekspresi jalanan disayangkan dan dihujat, kenapa ada surat dua pastor yang sangat telanjang dan mengumbar aib uskupnya, dibiarkan terjadi. Lagi-lagi dijadikan rujukan. Apakah mereka yang secara formal belajar hukum gereja dan teologi itu pantas melakukan itu? Dan kenapa ini tak dianggap sebagai pelanggaran dan hal aneh? Kami bahkan buru-buru dihardik dengan hukum kanonik, tanpa kesediaan membaca substansi seruan dan ajakan refleksi kami,” katanya.
Yustinus mengaku sengaja posting dan diserang di Threads, platform medsos yang sengaja ia pilih untuk menguji arus opini umat Katolik. “Saya sudah kebal dengan serangan begini. Lima tahun membantu Bu Sri Mulyani, saya terbiasa menghadapi urusan yang lebih berat dan keras, dan biasa saya hadapi sendiri,” tulis Yustinus dalam akun facebook pribadinya.
Ia mengaky punya prinsip tak gegabah bersikap sebelum mendengarkan dan mendapatkan cukup informasi dan mengujinya. Begitu yakin ia melakukan sesuatu yang benar, urusan selanjutnya tinggal sanggup sediakan energi untuk bertarung opini. “Saya sungguh merasakan Roh Kudus bekerja. Begitu banyak yang berempati, berbagi informasi dan perasaan, bahwa kami sedang berjuang demi cinta tulus pada Gereja,” katanya.
Di trotoar depan gerbang Kedutaan Vatikan, menurut Yustinus, peserta aksia tak memaki, tak ada hujatan atau tuntutan. Mereka sepenuhnya menerima keputusan Paus. Tak ada desakan Mgr Paskalis diangkat kembali menjadi Uskup Bogor. Mereka hanya ingin ada terang pada kabut pertanyaan yang menyelimuti. Pernyataan Mgr Paskalis bahwa ada tekanan dan di sisi lain ada orang yang dengan percaya diri mendaku punya informasi akurat tentang kesalahan Mgr Paskalis.
Menurut Yustinus, sangat mudah merekonstruksi ini. Jika klaim orang tersebut benar, bahwa informasi yang dia terima akurat, maka hanya ada kemungkinan: hasil visitasi apostolik bocor. Sementara sebagai orang awam, ia beranggapan semua ini rahasia dan hanya boleh diketahui hierarki sangat terbatas guna pengambilan keputusan Bapa Suci. Jika klaim itu keliru, bersamaan dengan surat terbuka dua pastor Keuskupan Bogor yang diumbar ke publik dan memantik perpecahan: dibiarkan tanpa penjelasan apapun.
“Apakah dalih Gereja tak menganut demokrasi lantas bisa dimaknai anti pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tanpa prasangka seperti yang kami ajukan? Dan apakah otoritas sudah berhitung cermat jika ini berlarut maka akan menggerus trust? Kenapa beberapa pihak begitu mudah bersikap formal-legalistik, sikap yang oleh Paus Fransiskus ditentang dengan pendekatan pastoral yang lebih humanis,” kata Yustinus.
Yustinus menyebut ada pula kritik seolah mereka hanya fokus dan militan ke isu Mgr Paskalis dan abai pada isu lain seperti Papua, Maumere dan lainnya. “Sama sekali tidak. Di tempat dan kesempatan lain kami turut mengadvokasi dengan cara kami. Tapi lebih mendasar, isu-isu besar itu hanya akan tersentuh dan tuntas diadvokasi jika kita bisa menyelesaikan isu internal ini secara terang. Mestinya tak sulit memahami korelasi ini. Kita hanya sanggup menuntaskan perkara besar saat sudah teruji pada perkara-perkara kecil,” katanya.
Ia pun mengingatkan bahwa kita mesti menyadari ada yang salah dan masalah di internal Gereja. Barangkali kita ini hipokrit, menjalankan hidup-ganda dengan menyembah Tuhan dan Mammon sekaligus. Dalam situasi seperti ini menjadi tak penting berapa orang yang mendukung kita. Ini jika sepakat, kita tak sedang menang-menangan. Bahkan ia mendapat kabar banyak pastor yang mestinya bisa dengan mudah mengambil sikap hitam-putih, tetiba menjadi abu-abu.
Ia mengaku tak pesimis karena kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. “Saya secara sadar dan bertanggung jawab telah memilih jalan saya. Barangkali berisiko, tapi hidup ini cuma sekali, dan saya ingin sesekali berarti. Martin Luther banyak dihujat dan baru memperoleh pengakuan baik dan tulus dari Vatikan, 500 tahun kemudian.
Yustinus pun berjanji bahwa sesuai bidang keilmuannya, ia akan fokus pada pemeriksaan aspek keuangan saja. Karena kebetulan ia sudah membaca dan sedang mempelajari dengan cermat dan mendalam laporan keuangan dan dokumen-dokumen otentik lain terkait RS Misi Lebak. Ini pintu masuk polemik dan titik tengkar awal. “Saya tidak mau berdebat teologis dan dogmatis, termasuk masuk ke sensasi isu perempuan. Bagi saya semua ini urusan moral publik yang seharusnya tak rumit,” katanya.
Ia pun meminta siapa pun untuk menunggu dalam beberapa hari ke depan bahwa ia akan merilis analisis terhadap hal ini. Kebetulan ia pernah belajar akuntansi dan pernah menjadi auditor. Sehingga rasanya tak akan ada yang abu-abu lagi, semestinya hitam-putih dan benderang.
Langkah ini ia tempuh sebagai kontribusinya untuk penyelesaian yang lebih objektif dan fair: menguji tuduhan soal keuangan dengan standard keilmuan yang teruji. Hal ini dilakukan agar tak jatuh pada suka atau tak suka yang subyektif, temasuk menangkal kemungkinan para Sengkuni pecundang merasa jadi pemenang.
“Seorang sahabat berusaha meyakinkan saya bahwa Mgr Paskalis bukan orang baik. Saya pun bukan orang baik. Dan yang merasa lebih baik, silakan melemparkan batu pertama kali! Di sini kita tak hendak membuktikan baik-buruk tetapi benar-salah. Dasarnya adalah tuduhan yang telah diumbar dan tersebar,” kata Yustinus Prastowo. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some