Harmoni Umat Hindu dan Umat Beragama Lain di Kota Pekalongan

beritabernas.com – Pura Lingga Buana Ksira Arnawa, satu-satunya pura Hindu di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Pura ini terletak di tepi pantai utara Kota Pekalongan, berbatas tanggul laut dan jalan selebar 5 meter. Di saat air laut pasang, permukaan air melampaui ketinggian tanggul, meluberlah air laut ke jalan itu.

Baca juga:

Minggu pagi, beberapa waktu yang lalu, penulis bertemu dengan I Wayan Nitawan. Pensiuan Polri ini hadir bersama beberapa pengurus, hendak membersihkan pura dan lingkungannya. Menurut Pak Wayan, pada awalnya pura ini berdiri di atas tanah sekitar 650 meter persegi, namun tergerus air dan saat ini tinggal dua ratusan meter persegi. Di sekitarnya masih tampak pepohonan bakau, dan rawa-rawa.

 Pada awal berdiri, kata I Wayan Nitawan, pura Pura Lingga Buana Ksira Arnawa ini masih dalam bentuk sederhana, dan diresmikan pada 21 Maret 1980. Makin ke sini, pengurus dan umat Hindu Kota Pekalongan menyempurnakan bentuknya hingga sebagus sekarang ini. Pura ini dibagi menjadi dua area, yaitu area Madya Mandala dan area Utama Mandala.

Pura Lingga Buana Ksira Arnawa, tempat ibadat umat Hindu di Kota Pekalongan. Foto: Anton Sumarjana

Madya Mandala merupakan area tempat dilakukan upacara Tawur menjelang Hari Raya Nyepi. Sedangkan Utama Mandala merupakan area suci tempat umat Hindu melakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi. 

Tri Hita Karana

I Wayan Nitawan menuturkan, umat Hindu di Pekalongan  memiliki kehidupan keagamaan yang harmonis dan rukun dengan umat beragama lainnya. Ada dua ajaran Hindu yang sempat I Wayan jelaskan dalam rangka keharmonisan dengan penganut agama lain.

Konsep Tri Hita Karana, kata I Wayan Nitawan, ajaran ini mendasari hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan. “Hubungan manusia dengan Tuhan jelas itu mutlak, tapi manusia dengan manusia atau pawongan juga harus baik, dan ketiga hubungan manusia dengan lingkungan,” tutur I Wayan.

Pura Lingga Buana Ksira Arnawa, tempat ibadat umat Hindu di Kota Pekalongan. Foto: Anton Sumarjana

Juga soal konsep Tat Twam Asi , yang berarti “Kamu adalah itu”. Ini merupakan ajaran paling mendasar dalam Agama Hindu, yang menyatakan kesatuan spiritual semua makhluk hidup, bahwa setiap jiwa (Atman) adalah bagian dari Tuhan (Brahman). “Ajaran ini menekankan pentingnya tidak menyakiti sesama, karena menyakiti orang lain berarti menyakiti Tuhan,” jelas I Wayan Nitawan.

I Wayan Nitawan mengatakan bahwa umat Hindu di Pekalongan sangat aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial. Mereka juga memiliki hubungan yang baik dengan umat beragama lainnya, terutama melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Contoh, umat Hindu Kota Pekalongan menyumbang atraksi tari ‘Dadong Rerot” sebagai bentuk kebersamaan dengan umat Katolik dalam perayaan ulang tahun Paroki Santo Petrus Pekalongan ke-95, pada 2025 lalu. “Ini menunjukkan bahwa umat Hindu di Pekalongan sangat mendukung kerukunan dan harmoni antarumat beragama,” ujar I Wayan Nitawan. (Anton Sumarjana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *