beritabernas.com – Di tengah ketidakpastian ekonomi global/dunia, perekonomian DIY pada tahun 2026 diperkirakan tetap kuat dan bertumbuh positif seperti tahun 2025 lalu. Hal ini terjadi seiring dengan perkiraan terkendalinya inflasi DIY pada tahun 2025 dan 2026 sesuai pada rentang sasaran.
“Pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2025 diproyeksi antara 4,8 (yoy) hingga 5,6 persen (yoy), sementara proyeksi pertumbuhan tahun 2026 antara 4,9 persen (yoy) hingga 5,7 persen (yoy). Sedangkan inflasi DIY tahun 2025 sebesar 3,11 persen (yoy) dan tahun 2026 diperkirakan sebesar 2,5 persen (yoy),” kata Sri Darmadi Sudibyo, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) DIY, dalam dialog Ekonomi dan Bisnis sebagai rangkaian kegiatan pelantikan Pengurus Kadin DIY di Hotel Alana Yogyakarta, Sabtu 2026.
Baca juga:
- Kadin DIY Dorong Direct Flight Bangkok -Yogyakarta dan Kerja Sama Ekonomi Baru
- Di Bawah Kepemimpinan GKR Mangkubumi, Ini Visi, Misi dan Strategi Kadin DIY Periode 2025-2030
Menurut Darmadi Sudibyo, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi DIY yang positif antara lain karena adanya interkoneksi antarwilayah, aktivitas domestik yang terjaga, kenaikan UMP dan adanya potensi pasar ekspor baru. Sedangkan faktor penahan pertumbuhan antara lain karena belum optimalnya daya saing investasi, potensi kenaikan harga akibat ketidakpastian geopolitik.
Sementara itu, menurut Darmadi Sudibyo, faktor penahan inflasi DIY tahun 2026 adalah infrastruktur tol beroperasi penuh, subsidi listrik, BBM dan LPG, optimalisasi KAD dan efisiensi biaya produksi pertanian. Sedangkan faktor inflasi di DIY antara lain karena volatilitas komoditas global dan hortikultura, kenaikan UMP DIY sebesar 6,78 persen dan kenaikan biaya pendidikan 10 persen.

Di sisi lain, menurut Darmadi Sudibyo, kinerja ekspor DIY terutama ditopang oleh performa ekspor luar negeri. Per triwulan IV 2025, kinerja ekspor DIY tumbuh 91,29% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, dengan AS sebagai mitra dagang utama.
Menurut Darmadi Sudibyo, tantangan ekspor di DIY pada tahun 2026 adalah adanya persaingan yang cukup ketat dengan negara peer yang sudah lebih dulu berada di pasar Eropa, Vietnam dan India). Selain itu, adanya tantangan pemenuhan persyaratan mutu (keamanan produk, lingkungan, dan sustainability) untuk masuk pasar Eropa.
Sedangkan peluang ekspor DIY tahun 2026 adalah dengan membuka akses pasar Eropa yang besar dengan potensi konsumen premium, sehingga mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional. Selain itu, poduk utama ekspor DIY (furnitur, kerajinan, batik, tekstil, makanan olahan) termasuk kategori yang berpeluang besar masuk pasar Eropa dengan biaya lebih kompetitif. (phj)
There is no ads to display, Please add some