beritabernas.com – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan HB X) mengatakan, saat ini dunia sedang bergerak sangat cepat. Rantai pasok bergeser, pola konsumsi berubah, teknologi berkembang tanpa jeda dan persaingan tidak lagi mengenal batas wilayah.
Namun di tengah perubahan sebesar apa pun, menurut Gubernur DIY Sultan HB X, satu hal tetap konstan yakni kemajuan akan ditentukan oleh kepemimpinan, termasuk peran leadership/kepemimpinan di dunia industri. Bukan semata-mata mesin, bukan sekadar modal, tetapi ketajaman rasa, kejernihan akal dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Hal itu disampaikan Gubernur DIY Sultan HB X pada acara pelantikan Pengurus Kadin DIY periode 2025-2030 di Hotel Alana Yogyakarta, Sabtu 31 Januari 2026. Pengurus yang dilantik antara Ketua Umum Kadin DIY GKR Mangkubumi yang juga putri sulung Sultan HB X.
Menurut Gubernur DIY, sejarah selalu mengajarkan kepada kita satu pelajaran sederhana namun mendalam bahwa peradaban yang bertahan bukanlah yang paling besar, melainkan yang paling lentur menghadapi perubahan. Pohon yang kaku, misalnya, akan patah diterpa angin, tetapi bambu yang luwes justru tetap tegak berdiri. “Keluwesan itulah yang hari ini menjadi kunci bagi dunia usaha,” kata Sultan HB X.
Baca juga:
- Perekonomian DIY Tahun 2026 Diperkirakan Tetap Kuat dan Bertumbuh Positif
- Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY Dian Ari Ani: Prospek Perbankan DIY Tahun 2026 Masih Positif
Ia mengatakan, sejumlah pemikiran manajemen global bahkan menegaskan bahwa kegagalan organisasi memetik manfaat inovasi jarang disebabkan oleh teknologinya, melainkan oleh ketidakmampuan pemimpin menata ulang proses kerja, budaya dan kapasitas sumber daya manusia. Dengan kata lain, perubahan kerap dimulai dari kepemimpinan.
Menurut Sultan HB X, bila menengok praktik dunia, kita belajar dari Mittelstand di Jerman, jejaring usaha kecil dan menengah yang tekun, bersifat spesialis dan berakar kuat di daerahnya. Kita juga belajar dari Jepang, di mana koperasi industri dan rantai pemasok, saling menopang seperti anyaman bambu. Toyota, menjadi besar bukan karena satu pabrik raksasa, tetapi karena ribuan pelaku usaha kecil, yang bekerja disiplin dan presisi.
“Mereka membangun kekuatan melalui kebersamaan. Melalui ekosistem, bukan “ego-sistem”. Dan sesungguhnya, karakter seperti itulah yang sejak lama hidup di Daerah Istimewa Yogyakarta,” kata Gubernur DIY.
Dikatakan, ekonomi kita tumbuh bukan dari gedung-gedung tinggi, tetapi dari denyut kehidupan rakyat. Dari sawah yang menumbuhkan padi, dari dapur-dapur UMKM yang mengolah hasil bumi, dari bengkel kerajinan yang menatah kayu, perak dan kulit, dari sanggar seni, studio kreatif dan ruang-ruang gagasan yang melahirkan inovasi dan dari kampung wisata, yang menyambut tamu dengan keramahan budaya.
Pangan sebagai akar
Gubernur DIY mengatakan, sektor pangan adalah akar. Ia menopang kehidupan, menjaga ketahanan dan memberi makan generasi demi generasi. Sementara pariwisata adalah wajah. Ia memperkenalkan jati diri kita kepada dunia, bukan sekadar sebagai destinasi, tetapi sebagai peradaban. Kemudian, ekonomi kreatif adalah jiwa. Dari sanalah lahir imajinasi, identitas dan kebanggaan.
Sedangkan manufaktur dan industri kecil adalah otot, yang bekerja tekun setiap hari, mengubah bahan mentah menjadi nilai tambah dan menggerakkan kesejahteraan demi keluarga. “Akar, wajah, jiwa dan otot bila bergerak bersama, itulah tubuh ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang utuh dan tangguh,” kata Sultan HB X.
Karena itu, menurut Sultan HB X, pemberdayaan UMKM bukan sekadar program ekonomi. Ia adalah strategi kebudayaan, strategi kemandirian, strategi masa depan. Inilah makna falsafah Hamemayu Hayuning Bawana yang terjabar dalam kewajiban Tri Satya Brata.
“Kita wajib Hamangku Bumi: menjaga tanah, air dan lingkungan. Maka pembangunan ekonomi harus lestari. Kita wajib Hamêngku Nagârâ: menjaga negara. Maka dunia usaha harus menjadi mitra strategis pemerintah, menciptakan kerja, memperkuat kedaulatan ekonomi, serta menghadirkan stabilitas. Dan kita wajib memuliakan manusia: rahayuning manungsa dumadi karana kamanungsane. Bahwa, keselamatan manusia lahir dari kemanusiaannya itu sendiri. Maka ekonomi harus inklusif, tidak meninggalkan siapa pun,” kata Sultan mengingatkan.

Menurut Sultan, di tengah perubahan global, kepemimpinan dunia usaha dituntut adaptif, kolaboratif, dan menjadi eskosistem pembelajar sepanjang hayat. Menempatkan teknologi sebagai penguat, dan manusia tetap sebagai pengarah strategi. Pemimpin bukan lagi sekadar pengawas, melainkan mentor, pelatih dan penggerak bersama.
Kita juga belajar bahwa terlalu lama menunggu kepastian, justru membuat organisasi tertinggal. Banyak perubahan besar, lahir dari keberanian melangkah di tengah ketidakpastia. Dalam dunia usaha, status quo atau memilih diam, akan jauh lebih beresiko daripada menempuh perubahan.
Dalam kerangka itulah, Kadin memiliki peran yang sangat strategis sebagai simpul antara pengusaha kecil dan besar, antara kebijakan dan pelaku usaha maupun antara lokal dan global. Dari simpul inilah lahir kolaborasi, kepercayaan dan gotong royong. Melalui Kadin, kita berharap semakin banyak local champion tumbuh. Pengusaha pangan, yang menembus pasar nasional. Perajin yang menembus ekspor. Pelaku kreatif yang mendunia. Industri kecil yang naik kelas menjadi tulang punggung ekonomi.
Sultan HB X pun mengucapkan selamat kepada jajaran pengurus Kadin DIY yang dilantik dan dikukuhkan. Amanah ini adalah panggilan agar dunia usaha DIY semakin tangguh, inklusif dan berdaya saing. Sultan pun mengapresiasi jajaran pengurus lama atas segala dedikasi dan kerja terbaik yang dikontribusikan.
“Mari jaga Yogyakarta, bukan hanya sebagai entitas budaya, tetapi juga sebagai pusat kewirausahaan. Bukan hanya tempat berwisata, tetapi tempat bertumbuhnya gagasan dan usaha. Bukan hanya ruang nostalgia, tetapi ruang masa depan,” ajak Sultan HB X.
Ia menambahkan bahwa ketika dunia usaha tumbuh bersama nilai kemanusiaan, ketika kemajuan berjalan seiring kelestarian dan ketika kesejahteraan dirasakan bersama, maka kita sejatinya sedang menapaki satu laku besar yakni memperindah dan menyejahterakan dunia. (phj)
There is no ads to display, Please add some