Secara Administratif dan de Facto, Herman Yoseph Fernandez Layak jadi Pahlawan Nasional

beritabernas.com – Secara administratif maupun de facto atau sesuai kenyataan yang sesungguhnya, Herman Yoseph Fernandez sudah sangat layak diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Sebab, secara de facto jenasah tentara pelajar yang gugur ditembak tentara Belanda itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta. Sementara secara administratif, semua dokumen sejarah yang diperlukan sudah dipenuhi.

“Kami sebagai keluarga tidak asal mengusulkan almarhum Herman Yoseph Fernandez untuk diangkat menjadi Pahlawan Nasional, tapi berdasarkan fakta sejarah, data administrasi yang lengkap dan akurat. Karena itu, dengan data tersebut kami berharap pemerintah bisa menerima usulan kami agar Herman Yoseph Fernandez segera diangkat menjadi Pahlawan Nasional,” kata Grace Siahaan Njo, keponakan kandung Herman Yoseph Fernandez, kepada wartawan di Yogyakarta, Sabtu 7 Pebruari 2026.

Hal yang sama juga ditegaskan Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, salah satu Anggota Panitia Usulan Pahlawan Nasional Herman Yoseph Fernandez. Ia mengatakan, tidak mungkin keluarga menyampaikan usulan kepada pemerintah agar Herman Yoseph Fernandez diangkat menjadi Pahlawan Nasional tanpa dukungan data dan bukti yang lengkap dan akurat. Karena berdasarkan bukti-bukti yang ada, jenasah Herman Yoseph Fernandez dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta.

Selain itu, nama Herman Yoseph Fernandez diabadikan sebagai nama jalan dan patung di berbagai daerah, termasuk di Monumen Jogja Kembali (Monjali). Bukti-bukti tersebut juga didukung dengan sejarah perjuangan Herman Yoseph Fernandez saat bergabung dalam tentara pelajar melawan tentara Belanda yang kemudian gugur akibat tertembak tentara Belanda di Sidobunder, Kebumen, Jawa Tengah pada tahun 1947.

Grace Siahaan Njo (kanan) bersama Prof Yoseph Yapi Taum. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Hal yang sama juga disampaikan Prof Dr Yoseph Yapi Taum M.Hum, Dosen Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) yang juga menjadi Ketua Tim Penulis Naskah Akademik Herman Yoseph Fernandez. “Secara de facto Herman Yoseph Fernandez sudah menjadi Pahlawan Nasional karena faktanya jenasah almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta. Namun, secara de jure sampai sekarang pemerintah belum memberikan gelar pahlawan kepada almarhum. Karena itu, keluarga sudah menyiapkan syarat administatif sesuai data dan fakta sejarah maupun naska akademis untuk segera mengajukan atau mengusulkan Herman Yoseph Fernandez untuk segera diangkat menjadi Pahlawan Nasional,” kata Prof Yoseph Yapi Taum.

Menurut Prof Yoseph Yapi Taum, Herman Yoseph Fernandez, putera kelahiran Lamaholot, Flores Timur, NTT pada 3 Juni 1925 merupakan suluh dari Timur. Ia merupan simbol kesetiaan kepada bangsa dan patriotisme remaja dalam membela negara dengan mengobankan jiwa dan raga.

Nama Herman Yoseph Fernandez terukir jelas di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta dan di Monumen Jogja Kembali (Monjali) serta menjadi nama jalan di berbagai daerah terutama di Flores Timur. Bahkan patung Herman Yoseph berdiri tegak di daerah asalnya di Lamaholot, Flores Timur. Ia adalah manifestasi dari keberanian tanpa pamrih yang gugur di usia muda, 23 tahun demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Jejak heroisme Herman Yoseph

Menurut Prof Yoseph Yapi Taum, jejak heroisme Herman Fernandez ditempa di Kolese Xaverius (Van Lith) Muntilan, Jawa Tengaj, sebuah tempat “persemaian” tokoh nasional yang mengajarkan disiplin baja dan kecintaan mendalam pada nusa-bangsa.

Kualitas wataknya teruji dalam beberapa momen krusial. Ia menunjukkan solidaritas tanpa batas. Ketika menjadi romusha di tambang batu bara Bayah, Herman menyisihkan upah yang sangat terbatas untuk membiayai studi sahabatnya, Frans Seda, agar pendidikan generasi bangsa tidak terputus meski dalam tekanan penjajah.

Baca juga:

Ia juga memiliki keberanian di medan laga. Sesuai fakta sejarah, dalam Pertempuran Sidobunder 2 September 1947, Herman tetap maju mencari sahabatnya, Alex Rumambi, yang terluka di tengah desingan peluru musuh. Ia akhirnya tertangkap setelah tertembak di kaki saat membopong sahabatnya tersebut.

Di pengadilan militer Belanda, Herman secara sadar mengakui sebagai penembak Kapten Nex guna menyelamatkan nyawa rekannya, La Sinrang. Ia memilih dieksekusi mati pada 31 Desember 1948 dari pada melihat sahabatnya gugur atau mengkhianati NKRI.

Herman Yoseph Fernandez memiliki profil yang setara dengan pahlawan remaja lainnya yang lahir di tahun yang sama (1925), seperti Yos Sudarso dan Robert Wolter Monginsidi. Sebagaimana Yos Sudarso, teman sekelasnya di Muntilan, Herman memiliki dedikasi militer yang tinggi hingga titik darah penghabisan.

Sama seperti Robert Wolter Monginsidi, Herman juga menghadapi pengadilan militer Belanda dengan kepala tegak, menolak mengkhianati Republik dan akhirnya gugur di ujung senapan musuh pada usia remaja.

Prof Dr Yoseph Yapi Taum M.Hum, Dosen Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) yang juga menjadi Ketua Tim Penulis Naskah Akademik Herman Yoseph Fernandez. Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

“Jika Yos Sudarso dan Monginsidi telah diakui secara de jure sebagai Pahlawan Nasional, Herman Fernandez, yang memiliki kualitas heroisme serupa, sudah sepatutnya mendapatkan pengakuan formal yang sama dari negara yakni menjadi Pahlawan Nasional,” kata Prof Yoseph Yapi Taum.

Menurut Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, Herman Fernandez adalah bukti nyata bahwa api revolusi membakar semangat pemuda dari seluruh pelosok Nusantara. Meskipun berasal dari Pulau Flores yang terpencil, ia melintasi batas etnis dan agama untuk membela satu identitas yakni Negara Republik Indonesia.

Hingga saat ini, belum ada gelar Pahlawan Nasional yang disematkan kepada putra-putri terbaik dari Pulau Flores. Pengusulan Herman Fernandez bukan sekadar soal sentimen daerah, melainkan penegasan prinsip geopolitis dan historiografis. Ia merepresentasikan kontribusi besar wilayah Timur Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan NKRI di masa revolusi fisik 1945-1949.

Menurut Grace, kisah Herman Fernandez adalah pengingat bagi generasi muda saat ini untuk melawan “buta sejarah” dan memudarnya patriotisme. Ia mengajarkan bahwa “mati ditembak musuh jauh lebih baik daripada mati konyol”. Pengakuan resmi terhadapnya sebagai Pahlawan Nasional akan menjadi suluh yang terus menerangi semangat kebangsaan kita. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *