Wartawan Diingatkan untuk Kembali pada Jati Diri sebagai Penjaga Kebenaran

beritabernas.com – Wartawan diingatkan untuk kembali pada jati diri yakni menjadi penjaga kebenaran sekaligus pembawa harapan dan perdamaian. Hal ini penting di tengah derasnya arus informasi, maraknya hoaks dan polarisasi yang kian tajam.

Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup Surabaya yang juga Ketua Komisi Komnikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI) mengingatkan hal itu ketika menerima kunjungan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Wisma Uskup Keuskupan Surabaya Jalan Darmo, Kota Surabaya, Kamis 30 April 2026.

Menurut Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, tugas wartawan bukan sekadar menyampaikan kabar, tetapi memastikan dan menjamin bahwa cahaya kebenaran tetap bersinar di tengah derasnya disinformasi. “Jadilah saksi kebenaran yang membawa damai,” ujar Mgr Didik.

Dikatakan, kembalinya wartawan ke jati dirinya sebagai pewarta kebenaran dan perdamaian menegaskan juga bahwa kerja jurnalistik tidak hanya berhenti di ruang redaksi. Ia juga hadir dalam diplomasi budaya, jembatan komunikasi lintas bangsa dan penguatan identitas Indonesia di panggung global,” kata Mgr Didik.

Baca juga:

Menurut Mgr Didik, platform media dalam berbagai bentuk komunikasinya, seharusnya tidak menjadi sekat melainkan harus menjadi kekuatan dan saling mengisi kekosongan dalam mewujudkan kebenaran serta perdamaian serta jurnalisme yang berintegritas, humanis, dan berpihak pada kebenaran.

“Jurnalisme bukan sekadar profesi. Ia adalah panggilan untuk melayani masyarakat, menjaga nurani publik, suara hati masyarakat dan menghadirkan damai lewat kata-kata yang bertanggung jawab. Kebenaran itu satu dan tidak mendua. Pertemuan di Surabaya ini membuat nurani para wartawan, reporter, praktisi media terketuk untuk kembali ke jati dirinya,“ tegas Mgr Didik.

Etika jurnalistik

Sementara Asni Ovier Dengen Paluin, Ketua PWKI, menambahkan, di era media digital saat ini peran wartawan dalam menegakkan etika jurnalistik justru semakin diperlukan. Peran wartawan sangat penting dan dibutuhkan di tengah bertaburnya informasi hoaks, sepihak, tanpa cover both sides yang jauh dari kebenaran dan bahkan suara damai.

“Saat ini semakin banyak informasi yang tidak benar, sepihak dan bahkan bersifat tendensius tanpa ada konfirmasi apa pun di media sosial. Di sini, peran wartawan dan medianya sangat penting untuk menjadi gatekeeper atau penyaring dan verifikator informasi tersebut. Bahkan di beberapa institusi ada gejala pembatasan gerak wartawan dalam melaksanakan tugasnya,” ujar Ovier.

Di era digital ini, tandas Ovier, para jurnalis wajib ikut bertanggung jawab untuk meluruskan informasi dengan menyajikan laporan berdasarkan data-data yang valid. Kehadiran wartawan dibutuhkan masyarakat sebagai penjaga moral dan standar kebenaran. Dengan demikian, masyarakat akan terus diisi dengan informasi-informasi yang sehat dan mencerahkan.

“Wartawan jangan ikut-ikutan bergaya medsos. Hanya demi mendapatkan keuntungan pribadi lantas menyebarkan fitnah, berita bohong, dan menebar informasi sepihak,” ujarnya.

Pengurus PWKI foto bersama Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup Surabaya yang juga Ketua Komisi Komnikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI), di Wisma Uskup Keuskupan Surabaya Jalan Darmo, Kota Surabaya, Kamis 30 April 2026. Foto: Dok PWKI

Dalam pertemuan itu, rombongan PWKI terdiri dari AM Putut Prabantoro (Founder), Mayong Suryo Laksono (Penasihat), Asni Ovier Dengen Paluin (Ketua), Lucius Gora Kunjana dan Stanislaus Jumar Sudiyana (Sekretaris), Bonfilio Mahendra Wahanaputra (Bidang Hubungan Antar Lembaga), Yophiandi Kurniawan dan Algooth Putranto (Bidang Hubungan Luar Negeri).

Hadir juga dalam pertemuan tersebut pengurus PWKI Surabaya yakni Adrianus Adhi, Ambrosius Harto Manumoyoso, Petrus Riski, serta pegiat Dokumen Abudhabi Rm Fadjar Tedjo Soekarno Pr, yang juga pastor Paroki St Paulus Kraksaan, Probolinggo.

Pertemuan di Surabaya ini menindaklanjuti penandatanganan MoU tentang penggunaan secara resmi Bahasa Indonesia oleh pemerintah Vatikan. Penandatanganan dilakukan antara Ketua Komisi Komsos KWI, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo dan Prefek Dikasteri (Kementerian) Komunikasi Vatikan Dr Paolo Ruffini pada Rabu (25/03/2026) di Vatikan. PWKI, yang merupakan pengusul pertama penggunaan bahasa Indonesia oleh pemerintah Vatikan, hadir juga dalam acara tersebit. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *