Ki Priyo Mustiko: Strategi Budaya Yogya Semesta Fokus Menjaga, Merawat dan Mengamalkan Keistimewaan DIY

beritabernas.com – Budayawan Ki Priyo Mustiko mengatakan, strategi budaya Yogya Semesta perlu lebih fokus untuk menjaga, merawat sekaligus mengamalkan keistimewaan DIY. Yang dimaksud dengan strategis budaya adalah serangkaian pedoman, rencana dan tindakan yang disengaja untuk mengelola dan memanfaatkan nilai-nilai budaya maupun keyakinan dan perilaku budaya masyarakat.

Selama 20 tahun Yogya Semesta telah menunjukkan sebagai gerakan kebudayaan yang tidak hanya berkutat di ranah konsep tetapi juga dalam aksi nyata/konkrit.

“Guna menatap masa depan DIY yang lebih gumregah, maka saya usulkan strategi budaya Yogya Semesta lebih fokus menjaga, merawat sekaligus mengamalkan keistimewaan DIY dengan cara mengolah cipta, rasa, karsa warga DIY agar bisa menjadi manusia istimewa yang berkarakter, berbudaya dan beradab,” kata Ki Priyo Mustiko dalam acara Dialog Budaya dan Gelar Seni 20 Tahun Yogya Semesta di Pendapa Wiyata Praja Kepatihan, Jumat 29 Mei 2026.

Pada kesempatan itu, Ki Priyo Mustiko yang juga salah satu tokoh Perguruan Tamansiswa ini, mengingatkan bahwa kita perlu hati-hati (eling lan waspada) dengan keistimewaan DIY. Karena ada pepatah yang mengatakan bahwa nila setitik rusak susu sebelanga, dengan adanya kasus-kasus seperti kenakalan jalanan remaja, baby daycare dan sebagainya. Bila tidak diantisipasi secara preventif akan merusak citra keistimewaan DIY.

Para narasumber talkshow. Foto: Istimewa

Mengutip pandangan Ki Hadjar Dewantara (KHD) tentang cipta, rasa dan karsa yang disebut Trisakti Jiwa yaitu tiga kekuatan jiwa manusia yang terdiri dari pikiran, rasa dan kemauan, Ki Priyo Mustiko mengatakan bahwa ketiga kesaktian itu merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan manusia susila atau makhluk yang berbudi dan beradab.

Dengan demikian, diharapkan strategis budaya Yogya Semesta bisa mewujudkan gerakan kebudayaan yang mendorong secara berkesinambungan mengolah “senjata” Trisakti jiwa ini bagi warga DIY seluas-luasnya. Hal ini tentu dengan kerja sama sinergis antara stakeholders keistimewaan DIY yang dikenal dengan 4K.

“Perlu kita yakini bahwa senjata Trisakti Jiwa ini sebagai bekal hidup setiap manusia istimewa DIY yang apabila secara terus menerus diasah pasti akan mempertajam daya cipta, memperhalus daya rasa dan memperkuat/memperteguh daya karsa. Kata orang bijak: kemajuan suatu bangsa/daerah akan tergantung kepada kualitas sumber daya warganya,” kata Ki Priyo Mustiko.

Trilogi Filosofi Keistimewaan DIY

Pada bagian lain, Ki Priyo Mustiko mengatakan, pada awal era keistimewaan DIY sudah pernah diintervensi nilai budaya sebagai fondasi keistimewaan yang terhimpun sekitar 14 nilai budaya, antara lain sepi ing pamrih rame ing gawa, Trilogi Kepemimpinan: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani dan Tri Sakti Jiwa: cipta, rasa, karsa dan sebagainya.

Baca juga:

Namun, setelah melalui pembahasan mendalam dan atas arahan Gubernur DIY, menurut Ki Priyo Mustiko, beberapa nilai budaya keistimewaan DIY tersebut diperas atau diambil sumber pokoknya menjadi 3 nilai utama keistimewaan DIY yaitu Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Kawula Lan Gusti dan Hamemayu Hayuning Bawana.

Hal ini kemudian dikenal sebagai Trilogi Filosofi Keistimewaan DIY yang pada intinya bermakna bahwa manusia atau masyarakat DIY selalu menjaga dan merawat hubungan yang harmonis dan seimbang dalam 3 aspek yakni aspek vertikal: hubungan dengan Tuhan Maha Pencipta; aspek horisontal: hubungan dengan sesama manusia dan aspek fisikal: hubungan dengan alam semesta.

Menurut Ki Priyo Mustiko, dengan dukungan dana keistimewaan (Danais) yang intensif maka hampir setiap hari ada kegiatan budaya di Yogyakarta atau DIY, seperti pertunjukan seni, pameran, dialog budaya, konser, webinar bertema budaya dan seni dan sebagainya.

Para pengurus Yogya Semesta bersama narasumber dan peserta talkshow. Foto: Istimewa

Kemungkinan yang bisa mengalahkan rekor ni hanya Bali karena setiap waktu kegiatan budaya dan ritual keagamaan nampak menyatu, sementara ritual budaya dan keagamaan di DIY berjalan beriringan.

Dari aspek budaya, menurut Ki Priyo Mustiko, satu hal yang perlu fokus dibahas adalah terjadinya anomali atau paradoks yakni sejak lama atau sekitar tahun 1980-an DIY terkenal dengan tingkat harapan hidup tertinggi di Indonesia hingga kini.

Namun, bersamaan dengan prestasi itu, menurut Ki Priyo Mustiko, tercatat juga sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa (data BPS 2026). Angka harapan hidup di DIY mencapai rata-rata 75,64 tahun, sedangkan tingkat kemiskinan di DIY di angkat 10,08 persen. “Artinya, masih ada PR besar di DIY. Apakah kebudayaan sebagai sumber daya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat DIY? Mari kita bedah bersama,” ajak Ki Priyo Mustiko. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *