beritabernas.com – Menjelang peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia pada 5 Juni 2026, persoalan lingkungan di Pulau Jawa masih menjadi pekerjaan rumah besar. Tumpukan sampah yang terus membesar, tempat pemrosesan akhir (TPA) yang kelebihan kapasitas, sungai yang tercemar, kualitas udara yang menurun hingga banjir dan longsor yang berulang menunjukkan bahwa tekanan terhadap lingkungan belum mereda.
Momentum tahunan yang diprakarsai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu tahun ini mengusung tema global, Inspired by Nature. For Climate. For Our Future. Tema tersebut mengingatkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang dihadapi dunia saat ini. Bagi Pulau Jawa, yang dihuni lebih dari separuh penduduk Indonesia dan menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional, pesan tersebut terasa semakin mendesak.
Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa Eduward Hutapea menilai persoalan sampah, pencemaran sungai, kerusakan daerah aliran sungai (DAS), pencemaran udara dan meningkatnya bencana hidrometeorologi sesungguhnya merupakan satu rangkaian krisis ekologis yang saling terkait.

Dalam wawancara khusus di Kantor Pusdal LH Jawa seusai upacara Hari Lahir Pancasila, Senin 1 Juni 2026, ia memaparkan tantangan lingkungan yang dihadapi Jawa sekaligus langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk memastikan pulau terpadat di Indonesia ini tetap memiliki daya dukung bagi generasi mendatang. Berikut petikan wawancara Yustinus Ade dengan Eduward Hutapea, Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa :
Hari Lingkungan Hidup se-Dunia diperingati pada 5 Juni 2026 dengan tema Inspired by Nature. For Climate. For Our Future. Bagaimana Anda melihat kondisi lingkungan hidup di Pulau Jawa saat ini?
Kalau melihat kondisi lingkungan hidup di Pulau Jawa saat ini, tantangannya memang sangat kompleks. Jawa merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbesar dan aktivitas ekonomi paling tinggi di Indonesia. Konsekuensinya, tekanan terhadap lingkungan juga jauh lebih besar dibandingkan wilayah lain.
Jika harus diprioritaskan, ada tiga persoalan utama yang perlu mendapat perhatian serius. Pertama, persoalan sampah yang masih menjadi masalah di hampir seluruh daerah. Kedua, meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan kekeringan yang semakin sering terjadi. Ketiga, pencemaran sungai, waduk dan badan air lainnya yang terus menurunkan kualitas lingkungan dan mengancam ketersediaan air bersih.
Selain itu, kita juga menghadapi persoalan pencemaran udara, abrasi pantai, berkurangnya kawasan mangrove dan meningkatnya emisi karbon. Berbagai persoalan tersebut saling berkaitan dan menunjukkan bahwa daya dukung lingkungan di Pulau Jawa sedang menghadapi tekanan yang cukup berat. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara terintegrasi dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.
Apa makna tema tersebut bagi Indonesia, khususnya Pulau Jawa?
Tema ini mengandung pesan yang sangat penting, yaitu bahwa alam bukan hanya objek yang harus dilindungi, tetapi juga sumber solusi bagi berbagai persoalan lingkungan dan perubahan iklim yang kita hadapi saat ini.

Bagi Indonesia, khususnya Pulau Jawa, tema ini mengingatkan bahwa upaya menghadapi krisis iklim tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan pembangunan infrastruktur. Kita juga perlu memulihkan dan menjaga fungsi ekosistem alam seperti hutan, daerah aliran sungai, mangrove, ruang terbuka hijau, serta kawasan resapan air yang selama ini menjadi penyangga kehidupan masyarakat.
Ketika sungai dijaga tetap bersih, hutan direhabilitasi, mangrove dilestarikan, dan timbulan sampah dapat dikurangi, maka kita tidak hanya memperbaiki kualitas lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat terhadap banjir, kekeringan, gelombang panas, dan berbagai dampak perubahan iklim lainnya.
Karena itu, Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini harus menjadi momentum untuk mengubah cara pandang kita. Lingkungan hidup tidak boleh diposisikan sebagai isu sektoral semata, melainkan sebagai fondasi pembangunan dan masa depan bangsa. Melindungi alam berarti melindungi iklim, dan pada akhirnya melindungi masa depan generasi yang akan datang
Sebelum membahas lebih jauh, sebenarnya apa peran Pusdal LH Jawa dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan tersebut?
Pusdal LH Jawa merupakan instansi vertikal di bawah Kementerian Lingkungan Hidup. Tugas utama kami memastikan berbagai instrumen perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup berjalan dengan baik, baik yang dilaksanakan pemerintah daerah maupun pelaku usaha.
Baca juga:
- Dari Krisis Plastik ke Kalpataru: Membangun Gerakan Lingkungan dari Akar Rumput
- Peringati Hari Lingkungan Hidup 2025, Pusdal LH Jawa Gelar Aksi Kebersihan di Pantai Selatan
- Peringati HLH 2025: Pusdal LH Jawa Edukasi Pedagang Pasar Pilah Sampah Bernilai Ekonomi
Kami juga mengukur tingkat kepatuhan terhadap berbagai regulasi, pedoman teknis, dan kebijakan lingkungan hidup. Selain itu, kami memberikan layanan laboratorium lingkungan, menerima pengaduan masyarakat, serta melakukan pendidikan dan sosialisasi lingkungan hidup.
Saat ini kami memiliki kantor operasional di Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung untuk melayani masyarakat di Pulau Jawa.
Bagaimana koordinasi Pusdal LH Jawa dengan pemerintah daerah?
Koordinasi dengan pemerintah daerah menjadi bagian penting dari tugas kami. Kami melakukan pembinaan, pendampingan teknis, evaluasi kepatuhan, dan membantu penyelesaian berbagai persoalan lingkungan secara kolaboratif.
Persoalan lingkungan terlalu besar jika hanya ditangani satu institusi. Karena itu sinergi pusat dan daerah menjadi sangat penting.
Sampah masih menjadi persoalan utama di banyak daerah. Seberapa serius kondisi yang Anda lihat saat ini?
Persoalan sampah hampir terjadi di seluruh Indonesia, tetapi di Jawa dampaknya lebih besar karena jumlah penduduk dan volume sampah sangat tinggi.Persoalan TPA hampir terjadi di seluruh Indonesia, tetapi di Jawa dampaknya lebih besar karena jumlah penduduk dan volume sampah sangat tinggi.
Banyak TPA di Jawa mengalami kelebihan kapasitas dan masih menggunakan sistem open dumping. Apa langkah strategis yang dilakukan Pusdal LH Jawa?
Saat ini terdapat sekitar 139 TPA resmi di Pulau Jawa. Sebagian besar sebenarnya dirancang menggunakan sistem controlled landfill, tetapi dalam praktiknya masih banyak yang dikelola secara open dumping.
Karena itu kami mendorong dua langkah utama. Pertama, menutup timbunan lama yang selama ini dikelola secara terbuka sesuai ketentuan teknis. Kedua, memastikan sampah baru dikelola minimal dengan sistem controlled landfill, yakni dilakukan penutupan berkala paling sedikit satu minggu sekali.
Apa tantangan terbesar dalam menghentikan praktik open dumping?
Tantangan utamanya bukan hanya pemerintah daerah, tetapi seluruh masyarakat. Sampai sekarang pemilahan sampah dari sumber masih sangat rendah. Akibatnya hampir semua sampah masuk ke TPA. Padahal idealnya yang masuk ke TPA hanya residu sekitar 30 persen.
Karena volume sampah yang sangat besar, pemerintah daerah menghadapi keterbatasan lahan, anggaran, dan tenaga pengelola. Jadi, persoalan sampah sesungguhnya adalah persoalan bersama.
Selain sampah, persoalan DAS Brantas, Bengawan Solo, dan sejumlah sungai besar lainnya terus berulang. Bagaimana pandangan Anda?
Persoalan DAS di Jawa sangat berkaitan dengan meningkatnya berbagai bencana yang terjadi belakangan ini.
Banyak kawasan yang seharusnya menjadi daerah tangkapan air berubah menjadi kawasan pertanian, permukiman, atau industri. Akibatnya fungsi ekologis DAS mengalami penurunan. Ke depan, kawasan-kawasan tersebut harus ditata kembali sesuai kondisi alamnya.
Menurut Anda, di mana titik lemah pengelolaan DAS selama ini?
Masalah utamanya ada pada penataan lanskap.Sering terjadi benturan antara kepentingan pembangunan dengan fungsi ekologis kawasan. Akibatnya wilayah yang seharusnya menjadi kawasan lindung berubah fungsi. Padahal jika suatu wilayah memang berfungsi sebagai daerah resapan atau kawasan hutan, maka fungsi tersebut harus dipulihkan kembali.
Seberapa serius persoalan pencemaran udara di Pulau Jawa saat ini?
Pencemaran udara menjadi isu yang sangat penting karena menyangkut kesehatan seluruh masyarakat. Sumbernya berasal dari berbagai aktivitas, mulai dari transportasi, industri, hingga pengelolaan sampah yang tidak benar.Berbeda dengan air yang masih bisa dipilih sumbernya, udara tidak bisa kita pilih. Semua orang menghirup udara yang sama. Karena itu pengendalian pencemaran udara harus menjadi prioritas bersama.
Apa yang telah dilakukan Pusdal LH Jawa untuk mengendalikan pencemaran udara?
Kami aktif melakukan sosialisasi regulasi, pembinaan industri, pemantauan kualitas udara, serta pengujian emisi. Kami juga melakukan identifikasi sumber pencemar udara sehingga langkah perbaikannya dapat dilakukan secara tepat sasaran.
Banjir, longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Seberapa besar kaitannya dengan kerusakan lingkungan dan perubahan iklim?
Keterkaitannya sangat kuat. Perubahan tutupan lahan menyebabkan meningkatnya limpasan air dan menurunkan kemampuan alam menyerap air hujan.Dari berbagai kejadian bencana hidrometeorologi yang kami amati, hampir semuanya berkaitan dengan perubahan fungsi lahan dan berkurangnya benteng-benteng alami lingkungan.
Di sisi lain, kita juga menghadapi perubahan iklim yang menyebabkan cuaca menjadi semakin ekstrem. Karena itu mitigasi dan adaptasi harus menjadi prioritas.
Saat ini Kementerian Lingkungan Hidup memberi perhatian khusus pada sektor Horeka. Mengapa sektor ini menjadi prioritas?
Karena sektor Horeka merupakan salah satu penghasil sampah yang cukup besar. Masih banyak pelaku usaha yang menganggap pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab pemerintah. Padahal berdasarkan regulasi, tanggung jawab pengelolaan sampah melekat pada penghasilnya. Mereka wajib mengelola sampahnya sendiri atau bekerja sama dengan pihak ketiga.
Apa target yang ingin dicapai dari program tersebut?
Kami menargetkan seluruh hotel dan restoran besar di Pulau Jawa mulai menerapkan pengelolaan sampah sesuai ketentuan. Tahap awalnya adalah penyusunan dokumen rencana pengelolaan sampah yang kami targetkan selesai pada triwulan ketiga 2026. Setelah itu kami akan melakukan pendampingan agar rencana tersebut benar-benar dijalankan.
Masih banyak masyarakat yang menganggap persoalan lingkungan adalah urusan pemerintah. Bagaimana mengubah cara pandang tersebut?
Kami terus melakukan edukasi melalui sekolah, madrasah, komunitas, dunia usaha, dan berbagai kelompok masyarakat. Pusdal LH Jawa memiliki tenaga penyuluh lingkungan yang aktif melakukan pendidikan dan kampanye lingkungan. Kami ingin membangun kesadaran bahwa lingkungan hidup adalah tanggung jawab bersama.

Apa pesan Anda kepada pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat pada momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026?
Saya mengajak pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dan aksi nyata dalam menjaga lingkungan hidup.
Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, daerah aliran sungai harus dipulihkan, ruang terbuka hijau harus dijaga, emisi dari transportasi dan industri harus dikendalikan, serta pola konsumsi masyarakat harus semakin ramah lingkungan.
Kita tidak bisa terus bergantung pada kemampuan alam untuk memulihkan dirinya sendiri. Sungai, danau, udara, hutan, dan berbagai ekosistem lainnya memiliki keterbatasan daya dukung dan daya tampung. Karena itu, setiap pihak harus mengambil bagian sesuai peran dan tanggung jawabnya.
Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 harus menjadi momentum membangun budaya baru: budaya peduli lingkungan, budaya mengurangi sampah, budaya hemat energi, dan budaya menghormati daya dukung alam.
Menjaga lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bersama untuk memastikan Jawa tetap layak dihuni dan mampu memberikan kehidupan yang baik bagi generasi mendatang.
“Jika ingin melihat masa depan Jawa yang aman, sehat dan sejahtera, maka investasi terbesar yang harus kita lakukan hari ini adalah investasi untuk lingkungan hidup.”-Eduward Hutapea, Kepala Pusdal LH Jawa. (Yustinus Ade, Staf Pusdal LH Jawa)
There is no ads to display, Please add some