Oleh: Arief Yuwono, Sekretaris Kementerian Lingkungan Hidup 2002–2010; Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Perubahan Iklim dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan 2010–2014 dan Peneliti Senior I-SER Universitas Indonesia
beritabernas.com – Setiap tanggal 5 Juni, dunia kembali diingatkan bahwa bumi bukanlah warisan yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan titipan yang harus dijaga keberlanjutannya. Peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia tahun 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali perjalanan panjang gerakan lingkungan sekaligus memperkuat aksi nyata menghadapi berbagai krisis ekologis yang semakin kompleks.
Tema global Hari Lingkungan Hidup se-Dunia dalam beberapa tahun terakhir terus menyoroti ancaman polusi plastik sebagai salah satu persoalan lingkungan paling mendesak. Plastik telah menjadi simbol paradoks pembangunan modern: memudahkan kehidupan manusia, tetapi pada saat yang sama meninggalkan jejak pencemaran yang sulit diatasi. Dari sungai hingga lautan, dari kawasan perkotaan hingga pedesaan, sampah plastik telah hadir hampir di setiap sudut kehidupan.
Namun sesungguhnya, persoalan lingkungan yang kita hadapi saat ini bukan sekadar masalah sampah plastik. Dunia sedang menghadapi apa yang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) disebut sebagai triple planetary crisis: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati dan pencemaran lingkungan. Ketiganya saling terkait dan mengancam keberlanjutan kehidupan manusia.
Kesadaran global terhadap persoalan lingkungan sebenarnya telah tumbuh sejak lebih dari setengah abad lalu. Pada dekade 1960-an, dunia mulai menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi yang tidak terkendali membawa konsekuensi serius terhadap lingkungan hidup. Buku Silent Spring karya Rachel Carson yang terbit pada tahun 1962 menjadi tonggak penting yang membangkitkan kesadaran dunia terhadap bahaya pencemaran akibat penggunaan bahan kimia secara berlebihan.
Baca juga:
- Bank Sampah Go Green Cupuwatu Mengolah Sampah Plastik Menjadi BBM
- Bank Sampah Go Green Cupuwatu Berhasil Mengolah 787 Kg Sampah Plastik jadi 699 Liter BBM
- Bank Sampah Go Green Cupuwatu Siap Terima Donasi 10 Jenis Sampah Plastik
Kesadaran tersebut kemudian melahirkan Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia di Stockholm tahun 1972. Konferensi ini menjadi titik balik sejarah lingkungan global dan menetapkan tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup se-Dunia. Dari sinilah lahir Program Lingkungan PBB (UNEP) yang hingga kini menjadi motor penggerak berbagai agenda lingkungan dunia.
Indonesia tidak tinggal diam. Bahkan sebelum Konferensi Stockholm berlangsung, berbagai kalangan di Indonesia telah mulai membicarakan pentingnya perlindungan lingkungan hidup. Seminar nasional lingkungan yang diselenggarakan pada tahun 1972 menjadi awal lahirnya kesadaran kolektif tentang pentingnya pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Perjalanan tersebut mencapai tonggak penting ketika Presiden Soeharto menunjuk Prof Dr Emil Salim sebagai Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup pada tahun 1978. Sejak saat itu, isu lingkungan mulai memperoleh tempat dalam kebijakan pembangunan nasional.
Yang menarik, pembangunan lingkungan di Indonesia tidak dibangun melalui pendekatan yang semata-mata mengandalkan regulasi dan penegakan hukum. Lingkungan hidup tumbuh sebagai gerakan sosial yang melibatkan masyarakat, perguruan tinggi, media massa, organisasi masyarakat sipil, dan dunia usaha. Pendekatan kolaboratif inilah yang kemudian melahirkan berbagai inovasi kebijakan, mulai dari Undang-Undang Lingkungan Hidup, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), hingga berbagai program pengendalian pencemaran.
Salah satu simbol penting dari pendekatan tersebut adalah Kalpataru. Sejak pertama kali diberikan pada tahun 1980, Kalpataru tidak sekadar menjadi penghargaan lingkungan tertinggi di Indonesia. Kalpataru adalah pengakuan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil yang dilakukan dengan ketekunan dan keteladanan.
Para penerima Kalpataru adalah bukti bahwa solusi lingkungan tidak selalu lahir dari ruang rapat atau laboratorium, tetapi sering kali muncul dari desa-desa, komunitas lokal, kelompok masyarakat adat, sekolah, hingga individu yang bekerja dalam senyap menjaga alam sekitarnya. Mereka adalah wajah nyata dari gerakan lingkungan Indonesia.
Di tengah tantangan lingkungan yang semakin berat, semangat Kalpataru menjadi semakin relevan. Ketika dunia menghadapi krisis plastik, perubahan iklim, pencemaran air dan udara serta degradasi ekosistem, kita membutuhkan lebih banyak pelopor lingkungan yang mampu menggerakkan masyarakat dari tingkat lokal.
Pengalaman menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah, rehabilitasi sungai, konservasi hutan hingga pengembangan ekonomi sirkular hampir selalu dimulai dari inisiatif masyarakat yang kemudian diperkuat oleh kebijakan pemerintah dan dukungan berbagai pihak.
Baca juga tulisan lainnya:
- Mesin Pirolisis, Mengolah Sampah Plastik Menjadi Bensin dan Solar
- Sebuah Aksi Laudato ‘Si, Mengubah Krisis Sampah Plastik Menjadi Potensi Waste to Energy
Karena itu, tema Hari Lingkungan Hidup se-Dunia 2026 seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kampanye sesaat, tetapi menjadi pengingat bahwa perubahan lingkungan memerlukan gerakan kolektif yang berkelanjutan. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah dari sumbernya, mengembangkan ekonomi sirkular, menghemat energi, dan melestarikan keanekaragaman hayati harus menjadi bagian dari budaya sehari-hari.
Dalam konteks Indonesia, upaya tersebut sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai salah satu fondasi penting pembangunan. Harmoni antara manusia dan alam bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjamin ketahanan pangan, ketahanan air, ketahanan energi, serta kualitas hidup generasi mendatang.
Hari Lingkungan Hidup se-Ddunia 2026 hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat semangat act locally, think globally. Krisis lingkungan global hanya dapat diatasi apabila lahir jutaan aksi nyata di tingkat lokal. Dari pengurangan sampah plastik di rumah tangga, pengelolaan sampah di hotel, restoran dan kafe, rehabilitasi sungai oleh komunitas, hingga perlindungan hutan oleh masyarakat adat.
Dari akar rumput itulah harapan tumbuh. Dari aksi kecil itulah perubahan besar bermula. Dan dari semangat yang diwariskan Kalpataru, Indonesia dapat terus menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan gerakan bersama seluruh bangsa.
Selamat Hari Lingkungan Hidup se-Dunia 2026. Saatnya mengubah kepedulian menjadi tindakan, dan tindakan menjadi gerakan yang menjaga bumi untuk generasi mendatang. (*)
There is no ads to display, Please add some