beritabernas.com – Pada hari Jumat 3 Juli 2026 Perguruan Nasional Persatuan Tamansiswa genap berusia 104 tahun atau lebih dari satu abad. Pada peringatan hari bersejarah itu, Rektorat UST (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa) melakukan bedah buku berjudul Mengolah Cipta Rasa Karsa karya Ki Prijo Mustiko, seorang budayawan dan tokoh Tamansiswa yang kini menjadi Ketua Dewan Pengawas PKBTS (Persatuan Keluarga Besar Tamansiswa), di Ruang Senat UST Jalan Batikan Yogyakarta.
Selain menghadirkan Ki Prijo Mustiko sebagai penulis sekaligus narasumber, bedah buku Mengolah Cipta Rasa Karsa ini juga menghadirkan Prof Slamet PH M.Ed MA, MLHR PhD, Guru Besar UNY, sebagai pembahas dengan moderator Dr Yuli Prihatni MPd, Wakil Rektor I UST.
Baca juga:
- Ki Priyo Mustiko: Strategi Budaya Yogya Semesta Fokus Menjaga, Merawat dan Mengamalkan Keistimewaan DIY
- 20 Tahun Yogya Semesta Sebagai Gerakan Kebudayaan yang Hidup
Menurut Dr Yuli Prihatni, selain untuk memperingati ulang tahun ke-104 Peguruan Nasional Persatuan Taman, kegiatan bedah buku Mengolah Cipta Rasa Karsa karya Ki Prijo Mustiko ini juga sebagai rangkaian kegiatan memperingati Dies Natalis ke-71 UST dengan tema Awit Pitulungan Gusti, Warga UST Guyub, Nyawiji Amrih UST Aji Lan Migunani.
Kegiatan bedah buku ini, menrut Dr Yuli Prihatni, bertujuan untuk mengembangkan budaya literasi, memperluas wawasan keilmuan dan membangun ruang dialog akademik di kalangan civitas akademika UST.

Menurut pandangan Ki Prijo Mustiko seperti tertuang dalam buku tersebut, pemikiran dan ajaran Ki Hadjar Dewantara, Pendiri Perguruan Nasional Persatuan Tamansiswa, yang masih banyak tersimpan di perpustakaan, semestinya perlu upaya untuk digali secara ilmiah maupun akademik agar bisa diimplementasikan sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masa kini, terutama di ranah pendidikan, kebudayaan dan kebangsaan.
Seperti halnya dengan ajaran Ki Hadjar tentang Cipta, Rasa, Karsa atau dikenal dengan Trisakti Jiwa, semestinya bisa diolah secara akademik untuk memecahkan persoalan bangsa dan negara dewasa ini yang dianggap dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Melalui bedah buku ini diharapkan bisa menggugah para kawula muda atau generasi muda agar lebih bergairah untuk menggali dan merekonseptualisasi warisan ilmu dari para pendahulu bangsa, khususnya mutiara pemikiran Ki Hadjar Dewantara, sesuai dengan tantangan zaman terkini. (phj)
There is no ads to display, Please add some