beritabernas.com – Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Ki Prof Drs H Pardimin MPd PhD mengatakan, sebagai perguruan tinggi yang lahir dari Perguruan Tamansiswa, UST memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk terus melestarikan, mengembangkan dan mengaktualisasikan ajaran Ki Hadjar Dewantara melalui berbagai kegiatan ilmiah.
Kegiatan bedah buku Mengolah Cipta Rasa Karsa karya Ki Pirjo Mustiko, seorang budayawan dan salah satu tokoh Persatuan Tamansiswa, merupakan salah satu bentuk nyata budaya akademik yang tidak hanya mengembangkan literasi, tetapi juga menjadi ruang refleksi terhadap nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa.
“Kegiatan bedah buku ini menjadi wadah bagi sivitas akademika, pendidik, mahasiswa, pegiat budaya, dan masyarakat untuk mendiskusikan relevansi pemikiran kebudayaan dalam menghadapi tantangan pendidikan dan kehidupan masyarakat pada era modern,” kata Prof Pardimin menyambut kegiatan bedah buku Mengolah Cipta Rasa Karsa karya Ki Pirjo Mustiko yang digelar di Ruang Senat Lantai I Kampus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa(UST) Jalan Batikan Yogyakarta, Jumat 3 Juli 2026.
Baca juga:
- Bedah Buku “Mengolah Cipta Rasa Karsa” Mewarnai Peringatan 104 Tahun Persatuan Tamansiswa
- Ki Priyo Mustiko: Strategi Budaya Yogya Semesta Fokus Menjaga, Merawat dan Mengamalkan Keistimewaan DIY
Kegiatan bedah buku untuk memperingati Dies Natalis ke-71 UST dan ulang tahun ke-104 Persatuan Tamansiswa tepat pada 3 Juli 2026 ini juga untuk menghidupkan kembali spirit Kebudayaan dan Ketamansiswaan Yogyakarta.
Menurut Rektor UST Prof Pardimin, kegiatan bedah buku ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan memperingati Dies Natalis ke-71 UST guna memperkuat tradisi akademik sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Tamansiswa melalui dialog ilmiah.
Dikatakan, bedah buku Mengolah Cipta Rasa Karsa setebal 386 halaman merupakan karya reflektif yang mendokumentasikan perjalanan panjang Ki Prijo Mustiko selama lebih dari 75 tahun berkarya dan mengabdi dalam bidang kebudayaan.
Buku ini mengulas perkembangan kebudayaan melalui perpaduan antara cipta (daya pikir), rasa (kehalusan budi) dan karsa (kemauan untuk berkarya), yang menjadi fondasi kehidupan manusia berbudaya.
Melalui pengalaman panjangnya dalam berbagai organisasi kebudayaan, pendidikan dan kepramukaan, Ki Prijo Mustiko menghadirkan catatan perjalanan perkembangan peradaban Yogyakarta dan Indonesia. Buku ini tidak hanya menyajikan dokumentasi sejarah, tetapi juga menawarkan refleksi mendalam mengenai bagaimana pengalaman hidup dapat menjadi sumber kebijaksanaan dalam membangun masa depan masyarakat yang lebih baik.

“Kita harus memanfaatkan pengalaman-pengalaman kita menjadi perenungan dan merealisasikannya menjadi sebuah aktivitas untuk masyarakat,” kata Ki Prijo Mustiko dalam buku tersebut yang dikutip Prof Pardimin.
Menurut Prof Pardimin, pesan tersebut menjadi ruh dari buku ini, bahwa pengalaman tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus diolah menjadi pengetahuan, kebijaksanaan dan tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.
Relevansi dengan Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, pemilihan buku Mengolah Cipta Rasa Karsa sebagai materi bedah buku memiliki makna yang sangat erat dengan filosofi pendidikan Tamansiswa. Dalam ajaran Ki Hadjar Dewantara, pendidikan bertujuan menuntun tumbuhnya manusia secara utuh melalui keseimbangan Tri Sakti Jiwa cipta, rasa, dan karsa.
Cipta mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan ilmiah; rasa membentuk kehalusan budi, empati dan karakter; sedangkan karsa menumbuhkan kemauan untuk berkarya, mengabdi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk manusia yang merdeka lahir dan batin. Nilai-nilai tersebut hingga kini tetap menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST).
Oleh karena itu, bedah buku ini diharapkan mampu memperkaya pemahaman sivitas akademika mengenai pentingnya mengintegrasikan kecerdasan intelektual, emosional, sosial, moral, dan spiritual dalam proses pendidikan. Selain membahas aspek kebudayaan, buku ini juga memberikan perhatian terhadap nilainilai Ketamansiswaan dan Kepramukaan. Kedua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter, kepemimpinan, semangat gotong royong, nasionalisme dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui pembahasan buku ini, peserta diharapkan memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai hubungan antara kebudayaan, pendidikan dan pembangunan karakter bangsa. Kegiatan bedah buku ini menghadirkan langsung Ki Prijo Mustiko sebagai penulis yang akan berbagi pengalaman dan pemikiran mengenai proses kreatif penyusunan buku dan perjalanan panjangnya dalam dunia kebudayaan.
Sebagai pembahas, hadir Prof Slamet PH M.Ed MA MLHR PhD, akademisi sekaligus pakar pendidikan yang memberikan telaah kritis mengenai substansi buku, relevansinya dengan pendidikan nasional dan implementasi nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat dan dunia pendidikan saat ini.
Diskusi akan dipandu oleh Dr Yuli Prihatini MPd, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, yang mengarahkan jalannya dialog sehingga mampu menghadirkan ruang diskusi yang konstruktif, inspiratif dan mencerahkan.
Menurut Dr Yuli Prihatni, melalui penyelenggaraan bedah buku ini, UST berharap dapat memperkuat budaya literasi di lingkungan perguruan tinggi sekaligus mendorong tumbuhnya tradisi dialog akademik yang terbuka, kritis dan berlandaskan nilai-nilai kebudayaan Indonesia.

Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mengajak generasi muda, pendidik dan masyarakat luas agar tidak hanya membaca buku sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga menjadikannya sebagai sarana refleksi dalam membangun karakter, memperkuat identitas budaya dan meningkatkan kepedulian terhadap kehidupan sosial.
Lebih dari itu, bedah buku ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, budayawan, praktisi pendidikan dan masyarakat dalam mengembangkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara sebagai landasan membangun pendidikan Indonesia yang berkarakter, berbudaya dan relevan dengan perkembangan zaman.
Kegiatan ini terbuka untuk umum dan seluruh sivitas akademika UST, guru, mahasiswa, pegiat budaya, anggota Gerakan Pramuka, alumni Tamansiswa, pemerhati pendidikan dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan dan kebudayaan Indonesia.
“Melalui cipta kita berpikir, melalui rasa kita memanusiakan dan melalui karsa kita mengabdi,” kata Dr Yuli Prihatni seraya mengatakan bahwa semangat itulah yang terus dihidupkan UST membangun pendidikan yang memerdekakan dan berakar pada kebudayaan bangsa. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some