Oleh: Irianto dan Yustinus Ade, Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa
beritabernas.com – Ketika pemerintah membangun jalan tol, bendungan, pelabuhan atau kawasan industri, kita segera menyebutnya investasi. Namun, ketika anggaran digunakan untuk memulihkan hutan, merehabilitasi mangrove, menjaga daerah aliran sungai, atau melindungi habitat satwa, konservasi masih sering dianggap sebagai beban. Padahal, tanpa alam yang sehat, hampir semua investasi pembangunan pada akhirnya kehilangan fondasinya.
Cara pandang ini perlu diubah. Kerusakan alam bukan biaya yang hilang dari neraca pembangunan. Ia adalah utang ekologis yang suatu saat harus dibayar masyarakat.
Banjir, kekeringan, abrasi, pencemaran sungai, krisis air, konflik sumber daya, hingga menurunnya produktivitas pertanian merupakan konsekuensi ketika fungsi ekosistem terus terdegradasi. Ketika hutan kehilangan kemampuan menyimpan air, mangrove gagal melindungi pesisir, atau sungai kehilangan daya dukungnya, biaya pemulihan dan kerugian sosial-ekonomi akhirnya harus ditanggung masyarakat. Karena itu, konservasi seharusnya ditempatkan sebagai investasi pembangunan, bukan beban.
Alam adalah modal ekonomi
Konservasi bukan sekadar menjaga pohon, hutan, atau satwa. Konservasi sesungguhnya menjaga modal alam (natural capital) yang menopang kehidupan dan aktivitas ekonomi.
Hutan menyediakan air, menyimpan karbon, menjaga kesuburan tanah, dan mengurangi risiko bencana. Mangrove melindungi pesisir sekaligus menjadi tempat berkembang biaknya berbagai jenis ikan. Lahan gambut menyimpan karbon dan mengatur tata air. Keanekaragaman hayati mendukung pertanian melalui penyerbukan dan pengendalian hama alami. Berbagai fungsi tersebut menghasilkan manfaat ekonomi, meskipun sering tidak tercermin dalam harga pasar.

The Economics of Biodiversity: The Dasgupta Review mengingatkan bahwa perekonomian sesungguhnya tertanam di dalam alam. Ketika modal alam terus dikuras tanpa dipulihkan, yang dikorbankan bukan hanya lingkungan, melainkan fondasi kehidupan dan pertumbuhan ekonomi itu sendiri.
Persoalannya, pembangunan masih sering diukur melalui manfaat ekonomi jangka pendek. Keuntungan dari eksploitasi sumber daya dapat terlihat segera, sementara biaya ekologis muncul secara perlahan dan sering kali baru terasa ketika kerusakan sudah sulit dipulihkan.
Akibatnya, keuntungan dinikmati hari ini, sedangkan sebagian biaya ekologis diwariskan kepada masyarakat dan generasi mendatang. Di sinilah paradigma pembangunan perlu bergeser: dari eksploitasi menuju investasi alam.
DAS Brantas memberikan gambaran nyata mengenai hubungan antara kesehatan ekosistem dan keberlanjutan ekonomi. Sungai sepanjang sekitar 320 kilometer tersebut menjadi sumber air baku, irigasi, pembangkit listrik, kebutuhan industri, dan menopang kehidupan lebih dari 20 juta penduduk di Jawa Timur.
Namun, tekanan terhadap kawasan hulu, pencemaran, sedimentasi, dan perubahan penggunaan lahan dapat mengurangi kemampuan DAS dalam menjalankan fungsi ekologisnya.
Ketika fungsi DAS menurun, dampaknya tidak berhenti pada kualitas air. Risiko banjir dan erosi meningkat, biaya pengolahan air bertambah, produktivitas pertanian dapat terganggu, dan kebutuhan rehabilitasi infrastruktur menjadi lebih besar.
Sebaliknya, investasi pada restorasi ekosistem memberikan manfaat berantai. Kajian Sustainable Asset Valuation Initiative (SAVi) dari International Institute for Sustainable Development memperkirakan restorasi hutan di DAS Brantas dapat menghasilkan manfaat ekonomi bersih sekitar USD 104–132 juta selama 20 tahun.
Manfaat tersebut antara lain berasal dari pengurangan risiko banjir dan erosi, peningkatan kualitas air, penyerapan karbon, peningkatan produktivitas lahan, serta terciptanya kesempatan kerja. Pesannya jelas: menjaga ekosistem bukan berarti menghambat ekonomi. Ekosistem yang sehat justru merupakan prasyarat bagi ekonomi yang tangguh.
Konservasi harus menghasilkan nilai
Konservasi memang membutuhkan pembiayaan. Namun, pembiayaan tidak harus semata-mata bergantung pada APBN dan APBD. Instrumen pembiayaan hijau, Nilai Ekonomi Karbon, dan pembayaran jasa lingkungan dapat dikembangkan untuk memberikan insentif terhadap upaya perlindungan ekosistem.
Pendekatan tersebut penting karena masyarakat yang selama ini menjaga hutan, sumber air, pesisir, atau kawasan penyangga sering kali justru menjadi kelompok yang memperoleh manfaat ekonomi paling kecil dari jasa lingkungan yang mereka pertahankan.
Konservasi karena itu harus memberikan nilai ekonomi yang adil bagi masyarakat. Peluangnya terbuka melalui perhutanan sosial, agroforestri, ekowisata, hasil hutan bukan kayu, pertanian regeneratif, ekonomi sirkular, hingga ekonomi karbon.
Namun, pembiayaan bukan tujuan akhir. Investasi konservasi harus menghasilkan perubahan nyata di lapangan. Karena itu, tata kelola yang transparan, berbasis ilmu pengetahuan, terukur, dan melibatkan masyarakat menjadi syarat penting.
Konservasi yang baik bukan hanya menghasilkan pohon yang ditanam, tetapi ekosistem yang pulih dan masyarakat yang memperoleh manfaat.
Tantangan terbesar konservasi bukan semata kekurangan regulasi atau anggaran. Tantangan yang lebih mendasar adalah cara kita menghitung nilai pembangunan. Hutan jangan hanya dihitung dari kayunya. Sungai jangan hanya dinilai dari air yang dapat dieksploitasi. Mangrove jangan hanya dilihat sebagai kawasan yang belum dibangun.
Baca juga:
- Hari Lingkungan Hidup 2026: Saatnya Jawa Berbenah dari Sampah hingga DAS
- Membumikan Laudato Si’: Dari Seruan Pastoral Menuju Gerakan Nyata Merawat Bumi
- Dari Laudato Si’ ke Praksis Pastoral: Dasar Teologis Pertobatan Ekologis
Kita perlu menghitung air yang disimpan, karbon yang diserap, banjir yang dicegah, tanah yang dilindungi, keanekaragaman hayati yang dipertahankan, pangan yang dihasilkan, serta kehidupan yang diselamatkan.
Dengan cara pandang tersebut, keputusan pembangunan dapat mempertimbangkan biaya ekologis sejak awal. Konservasi tidak ditempatkan sebagai koreksi setelah kerusakan terjadi, tetapi menjadi bagian dari desain pembangunan.
Pertanyaannya pun perlu diubah. Bukan lagi:“Berapa biaya yang diperlukan untuk menjaga alam?” Melainkan:“Berapa besar biaya yang harus dibayar jika kita gagal menjaganya?”Jawabannya akan menentukan bagaimana kita merancang pembangunan hari ini.
Konservasi bukan beban pembangunan. Konservasi adalah investasi untuk memastikan pembangunan tetap memiliki masa depan. Sebab, menjaga hutan berarti menjaga air. Menjaga sungai berarti menjaga kesehatan dan ekonomi. Menjaga mangrove berarti menjaga pesisir dan mata pencaharian. Menjaga keanekaragaman hayati berarti menjaga ketahanan pangan.
Pada akhirnya, investasi terbesar dari konservasi bukan hanya alam yang tetap lestari, tetapi masyarakat yang tetap memiliki ruang untuk hidup, bekerja, dan berkembang. Menjaga alam hari ini bukan mengurangi manfaat pembangunan. Kita sedang memastikan manfaat pembangunan tidak berhenti pada generasi kita. (*)
There is no ads to display, Please add some