Ketika Angkutan Pelajar Menghidupkan Kembali Angkutan Desa

Oleh: Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

beritabernas.com – Setiap pagi, jalan raya di sekitar sekolah dipenuhi sepeda motor. Sebagian dikendarai orangtua yang mengantar anak, sebagian lainnya digunakan pelajar sendiri. Bagi banyak keluarga, sepeda motor menjadi pilihan paling praktis ketika angkutan umum semakin sulit ditemukan.

Namun, kepraktisan tersebut memiliki konsekuensi. Anak-anak usia sekolah menjadi semakin rentan terhadap kecelakaan lalu lintas, sementara angkutan pedesaan perlahan kehilangan penumpang dan sumber pendapatan.

Di tengah persoalan itu, Kabupaten Magelang mencoba menawarkan jalan keluar melalui Angkutan Pelajar Aman (APA). Program APA ini menunjukkan bahwa keselamatan pelajar dan keberlanjutan transportasi publik dapat berjalan beriringan.

Program ini menarik karena tidak membangun sistem transportasi baru dari nol. Pemerintah daerah memanfaatkan armada angkutan pedesaan yang sudah tersedia untuk mengantar dan menjemput siswa SMP secara gratis.

Angkutan pedesaan di Magelang. Foto: Dok Djoko Setijowarno

Di sinilah nilai strategis program tersebut. Satu kebijakan menyelesaikan dua persoalan sekaligus: meningkatkan keselamatan dan aksesibilitas pelajar, sekaligus mempertahankan keberadaan angkutan pedesaan.

Dari keselamatan ke keberlanjutan

Program APA mulai beroperasi pada pertengahan 2025 dengan tiga rute dan 15 armada melalui dukungan CSR Bank Jateng sebesar Rp 98 juta. Program kemudian dilanjutkan menggunakan APBD Kabupaten Magelang dengan sembilan rute dan 59 armada hingga akhir tahun.

Pada 2026, cakupannya diperluas menjadi 12 rute dengan 78 armada dan anggaran sekitar Rp 2,4 miliar. Pemerintah daerah bahkan telah menyusun pengembangan bertahap hingga 2030, dengan target 29 rute dan 178 armada.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa transportasi pelajar mulai ditempatkan sebagai bagian dari kebijakan mobilitas masyarakat, bukan sekadar program bantuan transportasi.

Lebih penting lagi, armada yang digunakan bukan kendaraan khusus yang hanya berfungsi pada jam sekolah. Di luar waktu antar-jemput pelajar, angkutan pedesaan tetap dapat beroperasi mengangkut penumpang umum sesuai trayek.

Model seperti ini memiliki nilai keberlanjutan. Pemerintah tidak sekadar menyediakan layanan gratis, tetapi sekaligus memberikan ruang bagi angkutan pedesaan untuk mempertahankan fungsi ekonominya.

Mengurangi ketergantungan sepeda motor

Persoalan keselamatan menjadi alasan penting program ini perlu dikembangkan. Data Satlantas Polres Kabupaten Magelang yang dikutip dalam evaluasi 2025 menunjukkan kelompok usia pelajar 10–19 tahun menyumbang 19 persen korban kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Magelang, atau 240 korban dari total 1.256 korban. Pada tingkat nasional, kelompok usia tersebut tercatat berkontribusi 23 persen.

Baca juga:

Angka tersebut tidak boleh dibaca sekadar sebagai statistik kecelakaan. Di baliknya terdapat anak-anak yang kehilangan waktu belajar, mengalami cedera, bahkan menghadapi risiko kehilangan masa depan. Karena itu, menyediakan moda transportasi yang lebih aman bagi pelajar merupakan bagian dari investasi keselamatan publik.

Hasil evaluasi Laboratorium Transportasi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata (2026) memperlihatkan bahwa keberadaan APA memang dibutuhkan. Sebanyak 86,67 persen siswa menyatakan bahwa jika layanan dihentikan, mereka harus kembali diantar menggunakan sepeda motor oleh orang tua.

Temuan ini penting. Artinya, angkutan pelajar bukan hanya persoalan kenyamanan. Ia menjadi alternatif nyata untuk mengurangi ketergantungan perjalanan sekolah terhadap kendaraan pribadi.

Dalam perspektif lingkungan, semakin banyak perjalanan yang dapat dialihkan dari kendaraan pribadi ke angkutan umum secara efektif, semakin besar peluang mengurangi penggunaan bahan bakar, emisi, dan kepadatan lalu lintas.

Program APA juga memberikan pelajaran penting mengenai masa depan angkutan pedesaan. Di banyak daerah, angkutan umum menghadapi persoalan klasik: jumlah penumpang menurun, pendapatan tidak pasti, armada menua, dan masyarakat beralih ke sepeda motor. Jika kondisi tersebut dibiarkan, angkutan pedesaan dapat kehilangan fungsi sosialnya. Padahal, angkutan umum bukan sekadar bisnis. Ia merupakan bagian dari pelayanan mobilitas masyarakat.

Melalui APA, pemerintah memberikan kepastian pendapatan kepada pengemudi. Setiap pengemudi memperoleh insentif Rp 135.000 per hari. Para pengemudi bernaung dalam koperasi resmi. Pada 2026, empat koperasi telah menjadi operator angkutan pelajar dari enam koperasi yang mengoperasikan 587 armada angkutan perdesaan dan perbatasan.

Dengan demikian, kebijakan transportasi pelajar sekaligus menjadi instrumen mempertahankan ekosistem transportasi publik.

Namun, keberhasilan program tidak boleh membuat evaluasi berhenti. Hasil evaluasi menunjukkan satu persoalan serius: rata-rata satu angkutan mengangkut 17 anak, sementara kapasitas resminya hanya 12 penumpang. Kondisi kelebihan muatan terjadi pada 83,3 persen operasional armada yang diamati.

Ini merupakan paradoks. Program yang dibangun atas nama keselamatan tidak boleh mengorbankan aspek keselamatan karena keterbatasan kapasitas. Karena itu, penambahan armada harus menjadi prioritas. Aspirasi tersebut juga datang dari pengguna. Sebanyak 50 persen siswa dan 67 persen orang tua menginginkan penambahan armada.

Aspek kenyamanan juga perlu diperbaiki. Sekitar 37 persen siswa mengaku kurang nyaman akibat kondisi kendaraan yang berdesakan dan sikap pengemudi yang kurang ramah. Artinya, ukuran keberhasilan APA tidak cukup hanya berdasarkan jumlah rute, armada, atau besaran anggaran. Keselamatan, kapasitas, ketepatan waktu, kenyamanan, dan kualitas pelayanan harus menjadi indikator utama.

Transportasi publik sebagai investasi lingkungan

Program APA memberikan pelajaran yang lebih luas. Kebijakan transportasi sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari kebijakan lingkungan. Transportasi yang terlalu bergantung pada kendaraan pribadi akan meningkatkan konsumsi energi, emisi, kemacetan, dan tekanan terhadap ruang jalan. Sebaliknya, transportasi publik yang aman, terjangkau, nyaman, dan mudah diakses dapat menjadi salah satu instrumen menuju mobilitas yang lebih berkelanjutan.

Karena itu, keberlanjutan APA perlu dijaga melalui tiga hal. Pertama, keselamatan harus menjadi batas yang tidak boleh ditawar. Tidak boleh ada kelebihan muatan demi mengejar efisiensi.

Para pelajar di Magelang memanfaatkan angkutan pedesaan. Foto: Dok Djoko Setijowarno,

Kedua, pelayanan harus berorientasi pada pengguna. Armada yang layak, pengemudi yang ramah, waktu tunggu yang pendek, dan titik naik-turun yang aman menentukan apakah masyarakat akan terus menggunakan angkutan umum.

Ketiga, integrasi dengan sistem transportasi daerah harus diperkuat. Angkutan pelajar jangan menjadi program yang berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari strategi menghidupkan kembali angkutan pedesaan.

Pada akhirnya, Angkutan Pelajar Aman bukan hanya tentang mengantar anak ke sekolah. Ia adalah tentang bagaimana pemerintah menjaga keselamatan generasi muda sekaligus mempertahankan transportasi publik dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Jika dikelola secara konsisten dan terus dievaluasi, APA dapat menjadi contoh bahwa satu kebijakan publik dapat mempertemukan tiga kepentingan sekaligus: keselamatan manusia, keberlanjutan transportasi, dan perlindungan lingkungan.

Sebab, jalan menuju transportasi yang lebih hijau tidak selalu harus dimulai dengan kendaraan baru dan teknologi mahal. Kadang, langkah pertama adalah memastikan angkutan yang sudah ada tetap hidup, aman, dan kembali dipercaya masyarakat. (*)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *