Misa Pesta Nama Wilayah Santa Clara, Gereja Katolik Diajak untuk Menjadi dan Membangun “Jembatan”

beritabernas.com – Sebagai bagian dari Gereja Katolik se-dunia dan Asia, umat Wilayah Santa Clara, Paroki St Petrus dan Paulus Babadan diajak untuk menjadi “jembatan” dan membangun “jembatan”. Menjadi dan membangun jembatan dalam arti membangun relasi atau hubungan dengan siapa pun, baik dengan sesama umat Katolik maupun dengan umat agama lain.

“Gereja Katolik, termasuk umat Wilayah Santa Clara, diundang untuk menjadi jembatan dan membangun jembatan. Menjadi dan membangun jembatan bukan dalam pengertian fisik, tapi menjadi relasi dan membangun relasi dengan sesama,” kata kata Romo Antonius Saptana Hadi Pr, Pastor Paroki St Petrus dan Paulus Babadan, dalam misa pesta nama Wilayah Santa Clara di Rumah Keluarga Alfonsus Tri Sularso Grenjeng, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Jumat 14 Agustus 2026 malam.

Misa perdana pesta nama Wilayah Santa Clara yang baru terbentuk Juni 2026 lalu itu dihadiri Wakil Ketua DPPH Agustinus Sudi Mungkasi, Koordinator Ketua Wilayah/Lingkungan se-Paroki St Petrus dan Paulus Babadan Tarsisius Sutaryono, Kawil St Agatha Gregorius Setyo Darto, Kawil St Theresia Petrus Ida Sutopo, Kawil Yakobus Erlando Alfridus Henriquez, para ketua lingkungan se-Wilayah St Clara dan 150 lebih umat dari keitiga lingkungan se-Wilayah St Clara. Misa dimeriahkan oleh kelompok koor Wilayah Santa Clara (Santa Clara Choir) yang dipimpin Theresia.

Menurut Romo Antonius Saptana Hadi Pr yang biasa disapa Romo Sapto, syarat untuk menjadi dan membangun relasi adalah lincah, gesit yang arahnya adalah banyak ide. Keharusan Gereja Katolik menjadi dan membangun relasi ini, menurut Romo Sapto, merupakan hasil keputusan para Uskup Asia dalam pertemuan di Jakarta beberapa waktu lalu. Umat Katolik Santa Clara juga diharapkan mengetahui sekaligus melaksanakan hasil keputusan para Uskup Asia tersebut.

Sebagian umat dan kelompok koor Wilayah Santa Clara mengiringi misa pesta nama pada Jumat 15 Agustus 2026. Foto: Panitia

Pemekaran Wilayah Santa Agatha menjadi dua, yakni Wilayah Santa Agatha dan Wilayah Santa Clara juga bertujuan agar umat di wilayah tersebut bisa menjadi dan membangun relasi agar saling mengenal satu sama lain. “Saya yakin belum 100 persen umat di wilayah ini saling mengenal. Dengan saling mengenal maka akan menambah sedulur (saudara, red). Mari kita membangun relasi, membangun persaudaraan baik internal gereja maupun dengan masyarakat lainnya (eksternal),” ajak Romo Sapto.

​Selain menjadi dan membangun jembaran seperti keputusan para Uskup Asia, menurut Romo Sapto, Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko ​mengajak umat Katolik untuk menjadi terang bagi sesama atau dengan ungkapan sederhana urip iku urup. Umat diajak untuk menjadi terang, bermanfaat bagi orang lain.

Hal ini juga menjadi semangat dan spirit Santa Clara, seorang keturunan bangsawan yang kaya lalu terpikat dengan keteladanan Santo Fransiskus Asisi dan akhirnya meninggalkan seluruh harta kekayaan hanya untuk menjadi hidup miskin, melayani orang-orang miskin. “Ini hidupnya adalah urup, memberi manfaat,” kata Romo Sapto.

Baca juga:

Karena itu, menurut Romo Sapto, semangat dan spirit Santa Clara harus tetap hidup dalam diri umat Wilayah Santa Clara. Artinya, setelah misa pesta nama pertama semangatnya tetap sama, tidak malah mati, blereng/redup atau padam, tapi terus berkobar-kobar.

“Inilah urup kita, bukan hanya pertama lalu mati, blereng (redup/padam), tapi terus berkobar-kobar. Kita menjaga semangat Santa Clara yakni keberanian berkarya, pelayanan, keterlibatan dengan kerendahan hati serta berdampak atau bermanfaat bagi orang-orang sekitar,” kata Romo Sapto.

Sementara Agustinus Sudi Mungkasi, Wakil Ketua DPPH Paroki St Petrus dan Paulus Babadan, mengatakan, misa perdana pesta nama Wilayah Santa Clara merupakan momen yang spesial, istimewa.
​”Misa pesta nama ini merupakan salah satu momen spesial dimana kita diundang untuk melihat kembali teladan dari pelindung wilayah ini, yakni Santa Clara. Ia berasal dari keluarga bangsawan, keluarga yang kaya, namun ia terpanggil untuk melayani kaum miskin,” kata Agustinus Sudi Mungkasi seraya mengajak umat Wilayah Santa Klara agar terusl meneladani semangat dan spirit Santa Klara.

Ketua Wilayah Santa Clara Yohanes Hari Purwanto dalam laporannya mengungkapkan, sampai saat ini umat Wilayah Santa Clara sebanyak 107 KK dengan total 315 jiwa/umat, dengan rincian Lingkungan St Maria Ratu Rosari berjumlah 42 KK dengan 128 jiwa, termasuk 2 KK dengan 8 jiwa yang baru bergabung dalam dua minggu terakhir, Lingkungan Sisilia ada 44 KK dengan 137 jiwa/umat dan Lingkungan Robertus ada 19 KK dengan 50 jiwa/umat.

Agustinus Sudi Mungkasi, Wakil Ketua DPPH Paroki St Petrus dan Paulus Babadan, saat menyampaikan sambutan. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Tentang Santa Clara

Prodiakon Tri Sularso menjelaskan, Santa Clara, yang memilih hidup sederhana, adalah seorang perempuan Italia yang lahir sekitar tahun 1194 di Kota Assisi, Italia. Ia berasal dari keluarga bangsawan, tetapi sejak muda Clara memilih jalan hidup yang sederhana dan mengabdikan diria kepada Tuhan.

Pada usia sekitar 18 tahun, Clara terinspirasi oleh kehidupan Santo Fransiskus dari Assisi. Ia kemudian meninggalkan kehidupan mewah dan memilih hidup dalam kemiskinan, doa, pelayanan dan kasih kepada sesama. Clara mendirikan komunitas perempuan yang kemudian dikenal sebagai Ordo Santa Clara atau para Poor Clares.

Ia menjadi teladan bagi banyak perempuan dalam menjalani hidup yang penuh iman, kesederhanaan, dan kepedulian kepada orang lain. Salah satu hal yang menarik dari kehidupan Santa Clara adalah keberanian mempertahankan keyakinan dan prinsip hidupnya. Walaupun hidup sederhana, ia memiliki hati yang kuat dan penuh kasih. Santa Clara wafat pada 11 Agustus 1253 di Assisi.

Ia kemudian dinyatakan sebagai santa oleh Gereja Katolik. Pesta Santa Clara diperingati setiap 11 Agustus. Pesan Santa Clara untuk kita: “Hidup sederhana bukan berarti hidup tanpa kebahagiaan. Kebahagiaan sejati lahir ketika kita mampu mengasihi Tuhan dan sesama dengan tulus.”

Kisah Santa Clara mengajarkan kita bahwa usia, kekayaan ataupun keadaan hidup bukanlah ukuran utama untuk menjadi berarti. Yang terpenting adalah iman, kasih, ketulusan dan kesediaan untuk berbagi dengan sesama. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *