beritabernas.com – Fakultas Teknik Desain Inovasi (FTDI) UII melalui Center for Earthquake and Volcano Disaster Risk Studies (CEV-DRS) bersama Bentara Campus (Politeknik Bentara Citra Bangsa) dan Vrije Universiteit (VU) Amsterdam berkolaborasi untuk memperkuat risiliensi atau ketangguhan untuk bangkit kembali pascabencana, termasuk bencana alam erupsi Gunung Merapi.
Hal ini penting agar masyarakat mampu bangkit kembali, beradaptasi dan tetap kuat dan tangguh saat menghadapi masa sulit, tekanan, kegagalan atau trauma pascabencana. Kolaborasi FTDI UII melalui Center for Earthquake and Volcano Disaster Risk Studies (CEV-DRS) bersama Bentara Campus dan Vrije Universiteit (VU) Amsterdam antara lain dilakukan dalam kunjungan kebencanaan, Focus Group Discussion (FGD) Kebencanaan, pengembangan UMKM, penanganan dan pemberdayaan penyandang disabilitas di wilayah Merapi, Sabtu 15 Agustus 2026 di Balai Kelurahan Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, DIY.
Dekan FTDI UII Ir Miftahul Fauziah ST MT PhD, mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketangguhan bencana berbasis masyarakat sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi lokal dan resiliensi penyandang disabilitas di kawasan Merapi.
Hal ini sekaligus untuk menegaskan komitmen FTDI UII dalam membangun ketangguhan masyarakat di kawasan rawan bencana melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, pelaku UMKM dan kelompok penyandang disabilitas.

Sementara Heri Suprapto, Lurah Kepuharjo, menyambut hangat inisiatif kolaboratif ini dan mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat. Ia mengatakan bahwa pemerintah kelurahan berkomitmen untuk mendukung penuh keberlanjutan program ini demi memastikan masyarakat Kepuharjo memiliki ketangguhan ekonomi dan kesiapsiagaan yang matang dalam menghadapi potensi risiko kebencanaan di kawasan Merapi.
Dalam FGD tersebut berbagai pemangku kepentingan dengan pengalaman dan perspektif yang saling melengkapi. Wiyono, Ketua Pembina Kebencanaan dan Komunitas Disabilitas Kelurahan Kepuharjo, menyampaikan pengalaman terkait kebencanaan dan penanganan penyandang disabilitas di kawasan Merapi. Sementara Saryono, Ketua Paguyuban UMKM Kelurahan Kepuharjo, memaparkan pengembangan UMKM di wilayah Merapi.
Perspektif internasional diperkuat melalui paparan Prof Dr Paula Sterkenburg, President of the European Association for Mental Health in Intellectual Disability (EAMHID) dari Vrije Universiteit Amsterdam, dengan topik Working with Persons with Visual Disabilities: Experiences and Lessons Learned.
Materi yang disampaikan Prof Paula memperkaya diskusi mengenai pentingnya membangun sistem kesiapsiagaan dan penanganan bencana yang mempertimbangkan kebutuhan penyandang disabilitas.
Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset dan Rekognisi FTDI UII Ir Yunalia Muntafi ST MT PhD (Eng) IPM ASEAN Eng menilai pertemuan ini sebagai momentum untuk membuka ruang kolaborasi akademik dan riset yang lebih luas antara FTDI UII, Bentara Campus dan VU Amsterdam.
- Transformasi FTSP Menjadi FTDI UII Harus Diikuti dengan Pembukaan Prodi Baru yang Kekinian
- FTDI UII Melepas Mahasiswa yang Mengikuti Berbagai Program Mobilitas Internasional 2026
- Studium Generale di UII: Penyimpangan Sosial Dipengaruhi oleh Tiga Faktor Ini
“Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan FGD dan kunjungan lapangan, tetapi dapat dikembangkan menuju kerja sama yang berkelanjutan melalui riset bersama, publikasi ilmiah, pertukaran pengetahuan dan kepakaran, pelibatan dosen dan mahasiswa dalam aktivitas akademik serta program pengabdian kepada masyarakat,” kata Yunalia Muntafi.
Ia menilai isu kebencanaan, pengembangan UMKM dan pemberdayaan penyandang disabilitas memberikan ruang yang luas bagi pendekatan multidisiplin sekaligus riset berbasis persoalan nyata di masyarakat.
Dr Ir Kuncoro Cahyo Aji MSi, Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan. Kehadirannya memperkaya diskusi dengan melihat keterkaitan antara penguatan ketangguhan bencana, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam pengembangan kawasan Merapi.
Setelah berdiskusi di Balai Desa Kepuharjo, para narasumber dan peserta melakukan field visit ke Bunker Kaliadem dan kawasan sekitarnya. Peninjauan lapangan ini menjadi bagian penting untuk memahami secara langsung karakter kawasan terdampak Merapi dan berbagai aspek kesiapsiagaan yang dikembangkan di tingkat masyarakat.
“Melalui kunjungan ini, pengetahuan akademik diharapkan dapat dipertemukan dengan pengalaman empiris masyarakat. Pendekatan ini penting agar pengembangan riset, inovasi, maupun program pemberdayaan yang dirancang ke depan benar-benar berangkat dari kebutuhan dan konteks masyarakat di kawasan rawan bencana,” kata Yunalia Muntafi.

Rangkaian kegiatan di Kepuharjo sekaligus menjadi momentum untuk menginisiasi kerja sama jangka panjang antara FTDI UII melalui CEV-DRS, Bentara Campus, VU Amsterdam, pemerintah setempat, komunitas masyarakat, pelaku UMKM dan kelompok penyandang disabilitas.
Kolaborasi lintas institusi ini diharapkan dapat menghubungkan tiga aspek penting dalam membangun resiliensi kawasan, yakni ketangguhan menghadapi bencana, keberlanjutan ekonomi masyarakat, dan inklusivitas terhadap penyandang disabilitas.
Dengan pendekatan tersebut, menurut Yunalia Muntafi, ketangguhan kawasan tidak hanya dipahami dari aspek fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga keberlanjutan sosial ekonomi dan memastikan kelompok rentan memperoleh akses yang setara dalam kesiapsiagaan, perlindungan, maupun pemulihan pascabencana.
“Melalui sinergi akademisi, masyarakat, pemerintah, pelaku UMKM, komunitas disabilitas, mitra nasional dan internasional, kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya berbagai program konkret dan berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat Kepuharjo dan kawasan Merapi secara lebih luas,” tambah Yunalia Muntafi. (phj)
There is no ads to display, Please add some