Prof Sarwidi: Gempa Bumi Tektonik NTT jadi Pengingat Keras bagi Indonesia

beritabernas.com – Prof Ir H Sarwidi MSCE PhD IP-U ASEAN Eng APEC Eng, Guru Besar Rekayasa Kegempaan/Kebencanaan UII mengatakan bahwa gempa bumi tektonik kuat yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sekitarnya pada Sabtu 15 Agustus 2026 kembali menjadi pengingat keras bahwa Indonesia berada di kawasan cincin api (ring of fire) dengan aktivitas seismik yang tinggi.

“Peristiwa gempa bumi tektonik di NTT ni harus dilihat sebagai momentum krusial untuk mengevaluasi kembali pemahaman kita tentang bangunan tahan gempa,” kata Prof Sarwidi menanggapi peristiwa gempa bumi dahsyat di NTT, Sabtu pagi.

Menurut Prof Sarwidi yang juga Pengarah BNPB RI periode 2009–2025 dan Inovator BARRATAGA (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa), untuk bangunan gedung teknis selama ini kita cenderung hanya berfokus pada elemen struktur yakni komponen utama penahan beban keseluruhan bangunan seperti fondasi, kolom, balok, dan lantai.

Baca juga:

“Kita sering melupakan elemen non-struktur, yakni bagian yang harus menahan dirinya sendiri tetapi bukan bagian dari penahan gaya utama, seperti tembok pengisi, lisplank, plafon, penutup atap, hingga elemen pelengkap seperti baliho,” kata Prof Sarwidi.

Pada gempa NTT, menurut Pof Sarwidi, kita masih melihat fenomena memprihatinkan yakni banyak bangunan yang elemen strukturnya tetap utuh dan tidak roboh, namun menyebabkan korban. Hal ini terjadi karena elemen non-struktur mengalami kegagalan.

“Keruntuhan tembok, jatuhnya plafon dan penutup atap, atau robohnya bagian non-struktural lainnya terbukti sangat membahayakan keamanan penghuni, meskipun kerangka bangunan utamanya masih berdiri cukup kokoh, tahan gempa,” kata Prof Sarwidi.

Karena itu, Prof Sarwidi menyerukan percepatan pergeseran paradigma dari sekadar “bangunan tahan gempa” menjadi “bangunan aman gempa.” Konsep ini menuntut agar pertimbangan pokok dalam konstruksi tidak lagi hanya berfokus pada kekuatan struktur, tetapi juga pada pengamanan elemen non-struktur.

Prof Sarwidi saat memberikan tutorial Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia di MUGESA. Foto: Dok pribadi

Menurut Prof Sarwidi, langkah strategis yang harus ditempuh adalah, pertama, integrasi keamanan menyeluruh untuk memastikan bahwa tidak hanya struktur utama yang diperkuat, tetapi elemen non-struktur juga terpasang dengan sambungan yang mampu bertahan dari guncangan.

Kedua, penerapan konstruksi aman gempa dengan membangun atau memperkuat fasilitas dengan memperhatikan detail teknis pada pengisi (tembok) dan elemen arsitektural lainnya agar tidak runtuh dan mencederai penghuni saat terjadi gempa. Ketiga, penguatan kapasitas komunitas dengan meningkatkan edukasi mitigasi agar masyarakat memahami bahaya tersembunyi dari elemen non-struktur.

    “Keselamatan adalah hasil dari perencanaan dan pelaksanaan yang komprehensif. Mari kita jadikan musibah ini sebagai pelajaran untuk memperketat standar keamanan, baik pada elemen struktur maupun non-struktur, demi meminimalisir risiko jatuhnya korban dan kerugian harta-benda di masa depan,” kata Prof Sarwidi. (phj)


    There is no ads to display, Please add some

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *