beritabernas.com – Prof Ir H Sarwidi, Guru Besar UII Pengarah BNPB Periode 2019–2024 dan inovator BARRATAGA dan SIMUTAGA, mengatakan, gempa bumi berkekuatan besar yang mengguncang wilayah Filipina pada 8 Juni 2026 mengingatkan bahwa negara-negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), termasuk Indonesia dan Filipina, menghadapi ancaman kebencanaan yang saling berkaitan.
Dampak gempa dan tsunami, kata Prof Sarwidi, dapat melampaui batas wilayah negara sehingga kesiapsiagaan masyarakat dan kerja sama regional menjadi sangat penting. Gempa Filipina kali ini telah menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas publik, infrastruktur, dan kawasan permukiman. Peristiwa tersebut juga memicu peringatan dini tsunami yang menjangkau sejumlah wilayah Indonesia.
Menurut Prof Sarwidi, ada 3 langkah yang perlu terus diperkuat. Pertama, memastikan sistem peringatan dini tsunami bekerja secara cepat, akurat dan mampu menjangkau masyarakat hingga tingkat komunitas. Kedua, memperkuat penerapan standar bangunan tahan gempa pada rumah masyarakat, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik lainnya. Ketiga, meningkatkan pendidikan kebencanaan dan latihan evakuasi agar masyarakat mampu mengambil keputusan yang tepat saat keadaan darurat terjadi.
Baca juga:
- Prof Sarwidi: Gempa Sulawesi Utara jadi Momentum Penguatan Sistem Peringatan Dini dan Mitigasi Nasional
- Prof Sarwidi Mengidentifikasi Faktor Utama di Balik Skala Bencana Banjir Sumatera 2025
- Ini Pelajaran dari Peristiwa Gempabumi di Bandung dan Garut Menurut Prof Sarwidi
Selain itu, kata Prof Sarwidi, kerja sama pertukaran data kegempaan dan tsunami secara real-time antarnegara perlu terus ditingkatkan. Informasi yang cepat dan akurat terbukti menjadi salah satu faktor penting dalam mengurangi risiko korban jiwa.
Peristiwa di Filipina menunjukkan bahwa mitigasi bukan sekadar urusan pemerintah atau lembaga kebencanaan, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan, kesiapsiagaan, dan budaya keselamatan merupakan investasi yang jauh lebih murah dibandingkan kerugian yang ditimbulkan oleh bencana.
“Kita sering bertanya kapan gempa berikutnya akan terjadi. Sementara pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita sudah siap ketika gempa itu datang?” kata Prof Sarwidi. (phj)
There is no ads to display, Please add some