Oleh: Ben Senang Galus, Esais, tinggal di Yogyakarta
beritabernas.com – Ada sebuah jenis tarian heroik yang paling banyak ditonton oleh orang Manggarai, Flores, NTT, yakni Caci. Tarian Caci dimainkan oleh para lelaki, mengandung makna simbolis melambangkan kejantanan, keberanian, keredahan hati, kemegahan, kejujuran dan sportivitas.
Caci yang memainkan peranan penting sebagai lambang seni budaya Manggarai. Caci dipahami sebagai ritual dengan makna mendalam bagi masyarakat, juga menjadi atraksi pertunjukkan menarik. Dalam tarian Caci ada pekikan yang disebut dengan paci. Paci (Pasi-dialeg Manggarai Barat) adalah sebuah pekikan yang mengandung makna cita-cita.
Orang Manggarai adalah orang yang memiliki cita-cita. Dan cita-cita itu umumnya diungkapkan dalam motto yang tergambar dalam paci/pasi/rait. Paci, asal kata dari bahasa Manggarai yaitu Cipa dan Ci. Cipa berarti menangkis. Dan Ci berati uji (an). Paci berarti sebuah ekspresi (mengekspresikan diri) dalam exorcisme dari suatu tekanan/pembebasan jiwa dari suatu pergulatan kehidupan, termasuk tekanan bencana alam, gempa bumi.
Caci sebagai ungkapan kualitas/keberadaan hidup manusia Manggarai. Cacijuga bisa dimaknaicara mengada (mode of being), cara bereksistensi. Kemengadaan orang Manggarai terwujud dalam bentuk caci.
Manggarai adalah orang yang memiliki harapan agar beraksi cepat dalam menunaikan sesuatu. Harapan ini diungkapkan dalam goet (bahasa sindiran): neka mejeng hese, neka ngonde holes (jangan lambat berdiri, jangan malas bergerak/ menengok/ menoleh). Singkatnya Caci adalah sebuah cara untuk menemukan identitas sebagai manusia Manggarai.
Gempa bumi bukan hanya mengguncang tanah, rumah, jalan, dan bangunan. Ia juga mengguncang rasa aman, ketenangan, ingatan, dan kepercayaan diri manusia. Dalam hitungan detik, kehidupan yang sebelumnya berjalan normal dapat berubah menjadi situasi penuh ketidakpastian. Karena itu, menghadapi gempa tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur yang kuat. Masyarakat juga membutuhkan mentalitas tangguh, yaitu kemampuan untuk tetap tenang, berani, saling membantu, dan bangkit kembali setelah mengalami guncangan.
Bagi masyarakat Manggarai, salah satu sumber refleksi mengenai ketangguhan dapat ditemukan dalam tradisi Caci. Caci tidak sekadar pertunjukan budaya atau permainan tradisional. Di dalamnya terkandung seperangkat nilai sosial yang dapat dibaca sebagai cermin karakter: keberanian, disiplin, ketahanan, pengendalian diri, sportivitas, penghormatan terhadap sesama, dan solidaritas. Caci mempertemukan manusia dalam sebuah arena yang memiliki aturan. Setiap orang boleh menunjukkan keberanian, tetapi keberanian itu tidak boleh kehilangan kendali.
- Prof Sarwidi: Gempa Bumi Tektonik NTT jadi Pengingat Keras bagi Indonesia
- Langit Biru Tak Selalu Berarti Udara Bersih
- Pertobatan Ekologis: Jalan Baru Mengatasi Krisis Sampah di Indonesia
Di sinilah hubungan antara gempa dan mentalitas Caci menjadi menarik. Gempa adalah “arena” yang tidak dipilih manusia. Ia datang tanpa selalu dapat diprediksi secara tepat. Manusia tidak mungkin melawan gempa dengan kekuatan fisik. Yang dapat dilakukan adalah mempersiapkan diri, memahami risiko, menyelamatkan kehidupan, dan membangun kembali kehidupan setelah bencana. Dengan demikian, mentalitas Caci dapat ditafsirkan sebagai sebuah metafora tentang bagaimana masyarakat menghadapi tekanan dan ketidakpastian.
Pertama adalah keberanian. Dalam Caci, keberanian menjadi bagian penting dari seseorang yang memasuki arena. Namun keberanian bukan berarti bertindak sembarangan. Keberanian selalu membutuhkan kesadaran, keterampilan, dan pengendalian diri. Dalam konteks gempa, keberanian berarti tidak membiarkan kepanikan menguasai seluruh tindakan. Masyarakat harus mampu mengambil keputusan yang tepat, menyelamatkan diri, membantu keluarga, dan memperhatikan keselamatan orang lain.
Kedua adalah ketangguhan. Caci mengandung simbol manusia yang bersedia menghadapi tantangan. Ia tidak selalu berada dalam posisi unggul. Ada kemungkinan mengalami tekanan dan harus menerima hasil pertandingan. Nilai ini dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan masyarakat pascabencana. Ketika rumah rusak, fasilitas publik terganggu, aktivitas ekonomi terhenti, atau proses pendidikan mengalami hambatan, masyarakat membutuhkan daya tahan untuk memulai kembali kehidupan.
Ketangguhan bukan berarti menolak kesedihan. Masyarakat yang terkena bencana tetap memiliki hak untuk berduka, takut, dan merasa kehilangan. Mentalitas tangguh justru berarti mampu melewati pengalaman tersebut secara bersama-sama tanpa kehilangan harapan. Karena itu, ketangguhan harus dipahami sebagai proses sosial, bukan tuntutan agar setiap individu selalu terlihat kuat.
Ketiga adalah disiplin. Caci memiliki aturan. Keberanian yang tidak disertai aturan dapat berubah menjadi tindakan yang membahayakan. Prinsip ini sangat penting dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan membutuhkan disiplin: mengetahui jalur evakuasi, mengenali tempat aman, memahami prosedur keselamatan, mengikuti informasi resmi, serta tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
Di sinilah kebudayaan lokal dapat bertemu dengan ilmu pengetahuan modern. Tradisi tidak perlu diposisikan sebagai lawan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, nilai budaya dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran kebencanaan. Pendidikan mitigasi gempa akan lebih bermakna apabila dikaitkan dengan bahasa, simbol, cerita, dan nilai yang dikenal masyarakat setempat.
Keempat adalah pengendalian diri. Salah satu pelajaran penting dari Caci adalah bahwa keberanian tidak sama dengan kemarahan. Seseorang dapat berhadapan dengan lawan tanpa kehilangan penghormatan terhadapnya. Dalam situasi bencana, pengendalian diri menjadi sangat penting. Kepanikan dapat membuat orang mengambil keputusan yang keliru. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk tetap berpikir jernih dalam keadaan darurat.
Kelima adalah solidaritas. Caci memiliki dimensi sosial yang kuat. Ia bukan sekadar pengalaman individual, melainkan bagian dari kehidupan komunitas. Semangat kebersamaan inilah yang sangat diperlukan setelah gempa. Bencana tidak mengenal batas keluarga, pekerjaan, usia, atau status sosial. Karena itu, pemulihan juga tidak boleh berjalan secara individualistis.
Mereka yang memiliki kemampuan harus membantu mereka yang lebih rentan. Anak-anak, orang lanjut usia, penyandang disabilitas, dan kelompok lain yang membutuhkan perhatian khusus harus menjadi bagian penting dari perencanaan evakuasi dan pemulihan. Dalam konteks ini, mentalitas Caci dapat diterjemahkan menjadi prinsip sederhana: tidak seorang pun dibiarkan menghadapi bencana sendirian.
Keenam adalah sportivitas dan penerimaan terhadap kenyataan. Dalam Caci terdapat kemungkinan menang dan kalah. Kehidupan setelah gempa juga mengajarkan manusia bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Ada kerusakan yang membutuhkan waktu untuk dipulihkan. Ada rencana yang harus diubah. Ada kehidupan yang harus disusun kembali dari awal. Ketangguhan berarti menerima kenyataan tanpa menyerah kepada keadaan.
Mentalitas Caci dengan demikian tidak boleh disalahartikan sebagai mentalitas kekerasan. Caci bukan alasan untuk mengagungkan pertarungan fisik dalam kehidupan sosial. Yang perlu diwarisi adalah roh kebudayaannya: keberanian, kehormatan, kedisiplinan, pengendalian diri, solidaritas, dan penghargaan terhadap martabat manusia.
Dalam konteks kebencanaan, filosofi tersebut bahkan dapat dikembangkan menjadi pendidikan kebencanaan berbasis budaya Manggarai. Sekolah, keluarga, pemerintah, tokoh adat, dan komunitas dapat bersama-sama mengembangkan cara belajar mitigasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Anak-anak tidak hanya diajarkan apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, tetapi juga mengapa keberanian, solidaritas, dan disiplin diperlukan dalam menghadapi bencana.
Caci dapat menjadi metafora pendidikan karakter kebencanaan: berani menghadapi, cerdas membaca situasi, disiplin mengikuti aturan, mampu mengendalikan diri, dan tidak meninggalkan sesama. Dengan cara ini, kebudayaan tidak berhenti sebagai tontonan seremonial. Kebudayaan menjadi sumber pengetahuan dan kekuatan sosial.
Gempa juga seharusnya mengingatkan masyarakat bahwa ketangguhan bukan hanya persoalan mental individu. Ia berkaitan dengan kualitas bangunan, tata ruang, pelayanan publik, sistem peringatan, pendidikan, akses informasi, dan kebijakan pemerintah. Mentalitas tangguh harus didukung oleh sistem yang tangguh. Tidak adil jika masyarakat hanya diminta “kuat” sementara infrastruktur dan perlindungan publik tidak dipersiapkan dengan baik.
Karena itu, mentalitas Caci harus dipertemukan dengan tanggung jawab negara dan pengetahuan ilmiah. Keberanian masyarakat perlu didukung oleh kebijakan kebencanaan yang serius. Solidaritas warga perlu diperkuat dengan sistem penanggulangan bencana yang efektif. Pendidikan budaya perlu berjalan bersama pendidikan sains. Dengan demikian, ketangguhan menjadi milik seluruh masyarakat, bukan sekadar slogan.
Pada akhirnya, hubungan antara gempa dan mentalitas Caci membawa kita kepada sebuah refleksi yang lebih dalam. Gempa mengingatkan manusia bahwa bumi tidak selalu diam. Caci mengingatkan manusia bahwa menghadapi tantangan membutuhkan keberanian sekaligus pengendalian diri. Keduanya bertemu dalam satu pesan: manusia mungkin tidak mampu mengendalikan alam, tetapi manusia dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan bermartabat.
Ketika gempa mengguncang Flores dan Manggarai, yang diuji bukan hanya kekuatan bangunan, tetapi juga kekuatan sosial masyarakat. Rumah mungkin rusak dan jalan mungkin terputus, tetapi solidaritas harus tetap tersambung. Kehidupan mungkin terguncang, tetapi harapan tidak boleh ikut runtuh.
Tanah boleh berguncang, tetapi mentalitas tidak boleh roboh. Rumah boleh retak, tetapi persaudaraan tidak boleh pecah. Kehidupan boleh terluka, tetapi semangat untuk bangkit harus tetap menyala.
Itulah makna paling dalam dari mentalitas Caci dalam menghadapi gempa: bukan melawan alam dengan kekerasan, melainkan menghadapi ketidakpastian dengan keberanian, ilmu pengetahuan, disiplin, solidaritas, dan martabat.
Mentalitas Caci adalah keberanian untuk berdiri kembali setelah guncangan atau tekanan. Nupung ata nganceng heur tana, landing toe nganceng heur ci’ang ditet mensia (Gempa yang bisa mengguncang tanah tidak boleh mengguncang semangat kita). (*)
There is no ads to display, Please add some