Teresa Amelia Hertada dan Godeliva Belinda Putri Kembangkan BatikLens Padmanaba, Aplikasi Belajar Budaya Batik

beritabernas.com – Teresa Amelia Hertada dan Godeliva Belinda Putri, siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta, mengembangkan aplikasi BatikLens Padmanaba. Aplikasi ini dikembangkan sebagai upaya menghadirkan cara belajar budaya yang lebih dekat dengan kebiasaan pelajar saat ini.

Aplikasi BatikLens Padmanaba ini juga dikembangkan sebagai jawaban atas kekhawatiran terhadap semakin jauhnya generasi muda dari pengetahuan mengenai motif dan makna batik. Teresa Amelia Hertada dan Godeliva Belinda Putri melihat bahwa batik sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui seragam, pakaian resmi maupun berbagai kegiatan budaya.

Namun, kedekatan tersebut belum selalu diikuti pemahaman tentang nama motif, daerah asal, sejarah dan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Banyak pelajar mengenal batik sebatas sebagai kain bermotif tanpa mengetahui cerita budaya di balik motif yang mereka lihat.

Dari keprihatinan itu, BatikLens Padmanaba dirancang sebagai media edukasi budaya yang memanfaatkan telepon pintar yang sudah akrab dengan keseharian siswa. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat mengarahkan kamera pada motif batik dan memperoleh informasi mengenai motif yang dikenali. Informasi tersebut kemudian menjadi pintu masuk bagi siswa untuk mengenal asal, sejarah, serta makna filosofis batik dengan cara yang lebih interaktif.

Baca juga:

Menurut Teresa, proses penelitian dan pengembangan BatikLens Padmanaba berlangsung sekitar enam bulan, dari Maret hingga Agustus 2026. Selama proses tersebut, mereka dibimbing oleh guru pembimbing Devy Estu Anna Putri ST MPd.

“Pengembangan dilakukan secara bertahap, mulai dari pengumpulan dan pengelompokan gambar motif, pengembangan model sistem pengenalan, penyusunan informasi budaya dari sumber pustaka, pembuatan aplikasi yang dapat digunakan melalui telepon pintar, hingga pengujian langsung kepada pengguna,” ujar Godeliva.

Dalam proses tersebut, guru pembimbing berperan mengarahkan tahapan penelitian, ketepatan pelaksanaan dan keterkaitan aplikasi dengan tujuan edukasi budaya bagi siswa. Teresa dan Godeliva saling support dengan berbagi tugas dalam melakukan tahapan riset yang telah di siapkan dengan matang.

Pada tahap pengembangan, tim tidak hanya berupaya membuat aplikasi yang mampu mengenali motif, tetapi juga memastikan bahwa hasil pemindaian memiliki nilai edukatif. Karena itu, aplikasi tidak berhenti pada penyebutan nama motif. Pengguna juga diarahkan untuk membaca informasi budaya yang menyertainya. Motif yang saat ini dikenali antara lain Kawung, Truntum, Mega Mendung, Sidomukti, Parang, Dayak dan Maluku.

Kepala SMAN 3 Yogyakarta Fadiyah Suryani SPd MPd.Si mengapresiasi BatikLens Padmanaba, karena dapat menjadi contoh bahwa penelitian siswa dapat menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya dalam satu karya yang kontekstual.

Fadiyah juga mengatakan bahwa aplikasi ini dapat digunakan sebagai media pendamping pembelajaran, terutama pada kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan, sejarah, seni, maupun proyek lintas mata pelajaran. “Penggunaan telepon pintar membuat proses pengenalan budaya dapat dilakukan secara lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari siswa,” kata Fadiyah.

“Bagi pembelajaran, keberadaan BatikLens menawarkan pendekatan yang berbeda dari pembelajaran satu arah. Siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi dapat melakukan eksplorasi terhadap motif yang mereka temui,” imbuh Fadiyah yang pernah jadi Kepala SMAN 5 dan SMAN 8 Yogyakarta ini.

Dengan demikian, batik dapat dipelajari melalui pengalaman langsung, mulai dari mengamati motif, melakukan pemindaian, hingga membaca informasi budaya yang muncul dari aplikasi.

Manfaatnya juga dapat dilihat dalam konteks yang lebih luas. Bagi pemerintah dan lembaga yang bergerak dalam pelestarian budaya, aplikasi semacam BatikLens menunjukkan peluang pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas edukasi budaya kepada generasi muda. Pelestarian tidak hanya dilakukan melalui penyimpanan artefak atau dokumentasi, tetapi juga melalui media yang mampu membawa pengetahuan budaya ke ruang digital yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Kepala SMAN 3 Yogyakarta Fadiyah Suryani (kedua dari kiri) bersama guru pembimbing Devy Estu (kedua dari kanan) bersama Teresa (kiri) dan Godeliva. Foto: Ari Rheno Prakosa

Setelah tahap pengembangan, BatikLens Padmanaba kemudian diujicobakan kepada 70 siswa kelas XI. Pelaksanaan uji coba dilakukan setelah penelitian memperoleh persetujuan etik (ethical clearance) untuk memastikan proses penelitian yang melibatkan siswa dilaksanakan sesuai dengan prinsip etika penelitian. Para siswa menggunakan aplikasi untuk mengenali motif batik sekaligus membaca informasi budaya yang tersedia.

Uji coba tersebut menjadi tahap penting karena aplikasi tidak lagi hanya dinilai sebagai prototipe, tetapi digunakan langsung oleh siswa sebagai media belajar. Proses ini juga memberikan gambaran tentang bagaimana BatikLens Padmanaba dapat membantu siswa berinteraksi dengan materi budaya secara lebih praktis dan menarik.

Rampungnya uji coba menjadi salah satu tonggak penting dalam penelitian ini. Data yang diperoleh digunakan untuk mengevaluasi pengalaman penggunaan dan kebermanfaatan aplikasi sebagai media edukasi budaya. ” Kehadiran BatikLens Padmanaba menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan bukan hanya untuk kebutuhan praktis, tetapi juga untuk membantu menjaga hubungan generasi muda dengan kekayaan budaya Indonesia,” ujar Devy Estu.

Pengembangan BatikLens Padmanaba belum berhenti pada tujuh kelompok motif yang tersedia saat ini. Ke depan, aplikasi masih dapat diperluas dengan menambahkan lebih banyak motif batik dari berbagai daerah di Nusantara, memperkaya informasi budaya, dan meningkatkan kemampuan pengenalan pada variasi motif yang semakin beragam.

“Dengan pengembangan berkelanjutan, BatikLens Padmanaba diharapkan dapat menjadi salah satu media yang mempertemukan teknologi, pendidikan, dan pelestarian budaya dalam pengalaman belajar yang mudah diakses generasi muda,” imbuh Devy Estu menutup wawancara. (Ari Rheno Prakosa)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *