beritabernas.com – Peluang untuk mengenalkan dunia pendidikan musik kepada murid madrasah terbuka lebar. Sekolah Menengah Musik (SMM), yang kini bernama SMKN 2 Kasihan, Yogyakarta, menyatakan kesiapan menjalin kemitraan dengan berbagai sekolah, termasuk MTsN 3 Bantul.
Hal itu disampaikan Kepala SMKN 2 Kasihan, Turino, S.Pd., M.Sn., saat menerima audiensi Guru Seni Budaya MTsN 3 Bantul, Drs. Sutanto, di ruang kerjanya, Kamis 3 September 2026.
“Sekolah kami terbuka menjalin kemitraan dengan pihak mana pun, termasuk MTsN 3 Bantul. Jika madrasah ingin membawa murid untuk mengenal Sekolah Menengah Musik yang saat ini bernama SMKN 2 Kasihan, dipersilakan. Siapa tahu ada talent tersembunyi yang bisa masuk di sekolah musiknya Indonesia ini,” ujar Turino.
Menurut Turino, SMKN 2 Kasihan juga memiliki program kunjungan ke sejumlah sekolah di wilayah DIY, termasuk Kabupaten Bantul. Dalam kegiatan tersebut, pihak sekolah yang dikunjungi berkesempatan menyaksikan penampilan atau performance dari murid-murid terpilih SMKN 2 Kasihan.
“Untuk kegiatan kunjungan tersebut, syaratnya sekolah yang dikunjungi menyiapkan tempat dan audiens. Jika berminat, sekolah bisa mengajukan surat resmi. Tentunya, pengajuan yang masuk lebih awal akan kami prioritaskan,” jelasnya.
Baca juga:
Tawaran tersebut mendapat sambutan positif dari Sutanto. Ia berencana segera berkonsultasi dengan pihak madrasah agar peluang tersebut dapat ditindaklanjuti. Menurutnya, kesempatan untuk mengenalkan murid secara langsung kepada lingkungan pendidikan musik seperti SMKN 2 Kasihan tentu memiliki banyak manfaat.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan dan keterbukaan yang diberikan. Semoga pihak madrasah dapat menyambut peluang menarik ini sehingga murid-murid memiliki pengalaman baru sekaligus kesempatan mengenali potensi dan bakat mereka di bidang seni musik,” harap Sutanto.
Di sela-sela audiensi, Turino dan Sutanto juga berbincang mengenai dunia persekolahan, pendidikan seni, serta pengembangan bakat dan kreativitas peserta didik. Dalam kesempatan tersebut, Sutanto turut memberikan cinderamata berupa buku karya ke-30 berjudul “Untaian Kata Hati”, yang diterbitkan oleh Komunitas Yuk Menulis (KYM).
Buku setebal 95 halaman tersebut berisi 91 puisi akrostik. Keunikan buku ini terletak pada konsep akrostiknya. Jika pada umumnya akrostik dibentuk dari huruf awal setiap baris puisi, Sutanto mencoba menghadirkan konsep berbeda dengan menyusun akrostik melalui keseluruhan rangkaian judul puisi dalam satu buku.
Menariknya, huruf awal dari setiap judul puisi tersebut secara keseluruhan membentuk identitas diri Sutanto dan anggota keluarganya. Buku tersebut juga mendapat sentuhan dari motivator nasional asal Magelang, Fuzna Marzuqoh, S.H., yang memberikan kata pengantar.
“Kalau biasanya akrostik ada di setiap awal baris puisi, kali ini saya mencoba membuat akrostik untuk seluruh rangkaian judul puisi dalam satu buku,” kata Sutanto.
Audiensi tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan berbagi pengalaman dalam dunia pendidikan seni, tetapi juga membuka peluang kolaborasi baru. Melalui kerja sama tersebut, diharapkan semakin banyak murid yang mendapatkan kesempatan mengenali, mengembangkan, dan mengoptimalkan bakat seni yang dimilikinya sejak dini. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some