beritabernas.com – Waktu sudah menunjukkan pukul 19.10 WIB, Sabtu 5 September 2026 malam itu. Satu per satu 80 peziarah melangkah meninggalkan halaman Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten menuju Gua Maria Wahyu Ibuku Giri Wening di Dukuh Sengonkerep, Desa Gedangsari, Kecamatan Gedang Sari, Kabupaten Gunung Kidul.
Di bawah remang-remang lampu penerangan jalan disertai tiupan angin semilir di area persawahan, hanya terdengar suara langkah kaki para peserta yang berziarah malam hari ke Gua Maria Wahyu Ibuku Giri Wening. Mereka datang dari berbagai kota, seperti dari Jogja, Solo, Klaten dan sebagainya.
Perjalanan sejauh sekitar 10 kilometer dalam waktu hampir 3,5 jam itu terasa indah. Jalan agak sepi, hanya sedikit penerangan di kiri kanan jalan. Suasana semakin sepi dan benar-benar hening sejak mulai jalan salib dari perhentian pertama. Setelah doa bersama di setiap perhentian jalan salib, semua tenang. Hening.

Begitulah gambaran suasana selama kegiatan Margiem (Margi Dalem/Jalan Tuhan) yang diadakan Komunitas Margiem Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten di bawah pimpinan/koordinasi Antonius Yunianto.
Margiem bukan perjalanan ziarah biasa. Ada olah batin, olah rasa dan olah rohani. Dalam olah rasa, peserta saling menunggu, tidak cepat-cepatan meninggalkan yang lain. Mereka benar-benar menunjukkan empati pada sesama. Sehingga meski jalan yang menanjak tajam, mereka tidak merasa lelah.
Dengan mengikuti jalan salib, dalam jarak tertentu mereka harus berhenti di setiap stasi atau titik tempat pemberhentian yang menandai momen-momen penting dalam kisah sengsara dan penderitaan Yesus Kristus. Di setiap titik pemberhentian itu, peziarah merenungkan momen kisah sengsara/penderitaan Yesus sambil beristirahat melepas lelah di jalan yang menanjak tajam.
Menurut Antonius Yunianto, minat umat Katolik mengikuti Margiem cukup tinggi. Ini terbukti, peserta kegiatan yang sudah berlangsung dua tahun sejak Minggul Palma tahun 2024 itu selalu banyak dengan rekor terbanyak 150 orang pas acara peringatan hari panggilan.
Baca juga:
- Gua Maria Bunda Penolong Abadi di Pojok V, Tempat yang Sejuk, Tenang dan Nyaman untuk Bedoa
- Gua Maria Bunda Gereja Jurang Metes, Salah Satu Tujuan Favorit Komunitas Mlampah Ziarah
- Tangisan Si Miskin jadi Sorotan dalam Novena Laudato Si di Gua Maria Sendang Jatiningsih
Pada Sabtu 5 September 2026 malam, peserta lumayan banyak, mencapai 80 orang lebih. Setelah mengikuti jalan salib di perhentian 14, peserta berjalan bebas. Mereka menikmati pemandangan alam yang indah di malam hari, seperti cahaya lampu seperti kunang-kunang dari kota Klaten dan kota Wonosari, Gunungkidul.
Setelah sampai di Gua Maria Wahyu Ibuku Giri Wening, mereka berdoa bersama lalu membakar kertas berisi ujub-ujub dari beberapa peserta. Setelah itu, diadakan sharing pengalaman dan masukkan sebelum kemudian foto bersama lalu berkumpul makan malam bersama di rumah Ibu Maria Gito Suwarno, pemilik lahan yang digunakan untuk taman doa Gua Maria Ibuku Giri Wening. Setelah makan bersama, para peserta pulang ke Gereja Wedi dengan menumpang 2 truk besar.

Meski naik truk, para peziarah tetap merasa bahagia. Terbukti, di sepanjang perjalanan suara gelak tawa selalu terdengar dari atas truk, lebih-lebih saat truk melewati tanjakan tajam maupun turunan tajam. Mereka benar-benar tidak takut bahaya karena mereka percaya Tuhan selalu bersama dan menyertai mereka dalam perjalanan. Mereka pun tiba dengan selamat di halaman Gereja Wedi sekitar pukul 00.30 dinihari WIB dalam suasana tetap ceria dan bahagia.
Sekilas tentang Gua Maria Giri Wening
Gua Maria Ibuku Giri Wening terletak di Dukuh Sengon Kerep, Sampang, Kecamatan Gedang Sari, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Meski terletak di wilayah Gunung Kidul, namun Gua Maria ini dikelola oleh Paroki Santa Perawan Mari Bunda Kristus Wedi, salah satu paroki yang berada di Kabupaten Klaten.
Peletakan batu pertama Gua Maria Wahyu Ibuku Giri Wening dilakukan pada 6 November 2009 dan pembangunannya dilakukan secara bertahap. Tahun 2010, Taman Doa Gua Maria Wahyu Ibuku Giri Wening diresmikan oleh Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi.
Maria Gito Suwarno, pemilik lahan, seperti dikutip beritabernas.com dari Katolikana, menceritakan bagaimana tempat yang sebelumnya hanya merupakan lahan biasa hingga menjadi Gua Maria itu. Suatu hari, anak Ibu Gito bermimpi bertemu dengan Yesus. Setelah mendapat mimpi, dia mengalami pengalaman religius.
Dia menceritakan hal ini kepada dua saudaranya yang kebetulan adalah Pastor dan Bruder. Pengalaman religius yang dialaminya dipercaya merupakan hasil dari doa yang diujubkan dalam mencari jodoh. Doa itu sudah terkabul.
Setelah keluarga Ibu Gito melakukan pertimbangan, tanah miliknya diwakafkan untuk dikelola menjadi Gua Maria. Pertimbangan memilih untuk menyumbangkan tanah daripada menjualnya adalah rasa memiliki, dapat terus melihatnya secara dekat, hingga supaya menjadi sejarah bagi anak-cucu.

Sementara jalan menuju Gua Maria bisa dikatakan cukup sulit. Bagi orang yang tidak terbiasa dengan jalanan terjal, akses jalan menuju Gua Maria bisa dibilang menyeramkan. Jalanan menuju lokasi Gua Maria cukup ekstrem. Menurut Romo Paroki Wedi Luhur Prihadi Pr, sudah ada jalan yang lebih mudah diakses oleh kendaraan seperti mobil bahkan bus kecil. Pembuatan jalan dilakukan secara swadaya, tidak hanya melibatkan orang Katolik melainkan masyarakat sekitar Gua Maria Wahyu Ibuku Giri Wening.
Ciri Khas
Patung di Gua Maria Wahyu Ibuku Giri Wening merupakan patung Bunda Maria yang menggendong bayi Yesus Kristus. Bunda Maria menunjukkan hati kudus yang ada pada bayi Yesus Kristus. Patung ini merupakan terjemahan dari pesan awal Yesus yang semakin dikenal dengan perantaraan Bunda Maria.
Nama Giri Wening diambil dari Giri yang berarti gunung dan wening yang berarti hening. Giri Wening berarti gunung yang memiliki keheningan. Dengan adanya keheningan, suasana ini menjadi harapan untuk dukungan dalam berdoa.
Keberadaan rute Jalan Salib yang ada di Gua Maria Wahyu Ibuku juga memiliki kesan yang beragam bagi setiap orang. Dalam perjalanan yang dilalui peziarah dalam doa Jalan Salib, peziarah akan disuguhi pemandangan alam yang didominasi pohon. Selain pemandangan alam yang didapat peziarah, rute Jalan Salib juga dihiasi oleh tembok batu yang mengiringi tiap langkah yang dilalui peziarah. (phj)
There is no ads to display, Please add some