beritabernas.com – Sebelas murid MTsN 3 Bantul yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) Pengelolaan Sampah menunjukkan kreativitas dengan menyulap kaos dan handuk bekas menjadi pot tanaman unik. Kegiatan pemanfaatan barang bekas tersebut berlangsung di halaman madrasah, Kamis 15 Oktober 2026, dengan bimbingan Slamet, pimpinan Bank Sampah Alam Lestari, Ceme, Srigading, Sanden, Bantul.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya madrasah menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mengenalkan cara mengolah barang tak terpakai menjadi benda yang memiliki nilai guna.
Koordinator Pokja Pengelolaan Sampah MTsN 3 Bantul, Sutanto, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kreativitas murid sekaligus mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak kita latih agar lebih kreatif dan peduli terhadap lingkungan. Kaos dan handuk bekas tidak harus berakhir sebagai sampah, tetapi bisa diolah menjadi barang yang bermanfaat,” jelasnya.
Baca juga:
- Bukan Sekadar Tontonan, RUMAKET 2026 jadi Ruang Belajar Budaya untuk Anak
- Kwarcab Bantul 2026–2031 Dikukuhkan, Bupati Minta Pramuka Perkuat Karakter Generasi Muda
- Sekjen IKASATA Dorong Lulusan UST Perluas Jejaring dan Koneksi untuk Menjawab Tantangan Dunia Profesional
Kegiatan diawali dengan pengarahan dan demonstrasi pembuatan pot oleh Slamet. Murid-murid belajar mencampur semen di dalam ember besar, kemudian mencelupkan kaos atau handuk bekas hingga seluruh permukaannya terlumuri adonan semen.
Kain yang telah dilapisi semen selanjutnya diangkat dan dibentuk di atas ember yang digunakan sebagai cetakan. Ember tersebut diletakkan pada penyangga bambu atau kayu agar kain dapat menjuntai dan membentuk pot sesuai desain yang diinginkan.
Slamet memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk berkreasi dalam membentuk pot. Agar hasilnya lebih baik dan kokoh, permukaan kain perlu dilapisi adonan semen secara merata. “Untuk mendapatkan hasil terbaik, kaos atau handuk bisa dibentuk sesuai kreasi masing-masing. Setelah itu, lumuri kembali dengan adonan semen agar seluruh permukaannya tertutup merata,” ungkapnya.

Selain praktik pembuatan pot, kegiatan dilanjutkan dengan pengenceran eco-enzyme yang telah dipanen beberapa waktu sebelumnya. Dengan arahan Slamet, murid menyiapkan botol berisi eco-enzyme, botol kosong, dan air mineral. Cairan tersebut kemudian dicampurkan dengan air menggunakan perbandingan 1:1.
Kepala MTsN 3 Bantul, Surini, mengapresiasi kegiatan yang melibatkan pihak luar tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan praktisi pengelolaan sampah memberikan pengalaman belajar langsung kepada murid sekaligus membuktikan bahwa kegiatan edukatif tidak selalu membutuhkan sarana dan prasarana yang mahal.
“Ketika sejak usia remaja anak-anak dibiasakan peduli terhadap lingkungan, insyaallah kepedulian itu akan tumbuh menjadi karakter hingga mereka dewasa,” kata Surini.
Melalui kegiatan ini, MTsN 3 Bantul berharap budaya memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali sampah semakin tumbuh di kalangan murid. Kreativitas sederhana tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam mewujudkan lingkungan madrasah yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (phj)
There is no ads to display, Please add some