beritabernas.com – Ruang Masyarakat Ketemu (RUMAKET) kembali hadir. Tahun ini memasuki tahun ke-6 dengan tema “Hageganti” dan digelar di Taman Pintar Yogyakarta pada 4–10 Oktober 2026. Acara ini diselenggarakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta bersama PEPADI Kota Yogyakarta sebagai bagian dari rangkaian HUT Kota Yogyakarta ke-270.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menjelaskan RUMAKET memang dikhususkan untuk merayakan Warisan Budaya Takbenda yang ada di Kota Yogyakarta. Karena itu formatnya dibuat lebih dekat dan mudah diakses, terutama untuk anak-anak.
“Ini sudah ke-6 kalinya. Rumaket ini merupakan perayaan warisan budaya tak benda khususnya. Kami ingin menghadirkan melalui berbagai aktivasi di Taman Pintar. Konteks pewarisan budaya itu dimaknai dengan aktivasi yang tentu saja konteks dengan hari ini, bagaimana anak-anak dengan mudah mengakses,” ujar Yetti dalam jumpa pers sehari sebelum pembukaan RUMAKET di Taman Pintar Yogyakarta, Sabtu 2 Oktober 2026.
Baca juga:
- Pertama Kali di Keuskupan Agung Semarang, Pameran Lukisan Rohani Digelar di Gereja Katolik Babadan
- OHD Museum Magelang Gelar Pameran Seni Rupa pada 14 Maret – 14 September 2026
- Gunawan Rahardjo Gelar Pameran Tunggal dan Lelang 100 Lukisan untuk Korban Bencana Alam Sumatera
Rangkaian kegiatannya meliputi pembuatan buku, pameran “Hageganti: Transformasi Wayang Jogja”, kolaborasi wayang, bazar kuliner WBTb, hingga pertunjukan seni yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.
Pada acara pembukaannya 4 Oktober menampilkan konsep yang tidak biasa. Bukan dalang senior, tapi 50 anak yang akan naik panggung dalam pertunjukan “Wayang Playground: Menyusun Puzzle Menuju Alengka”.
Ketua PEPADI Kota Yogyakarta, Faizal Nur Singgih mengatakan, 50 anak tersebut adalah peserta latihan rutin setiap minggu di Pendopo Dinas Kebudayaan pukul 13.00-17.00 WIB. Antusiasmenya sangat tinggi.
“Terhitung ada 50 anak yang sinau dalang. Linier dengan Hageganti, kami istilahkan dengan lumintu yang berkelanjutan. Konsepnya wayang playground. Bermain wayang, wayang bermain. Bagaimana anak-anak dekat dengan wayang, memerankan wayang dalam permainan,” kata Faizal.
Pembukaan juga diisi peluncuran buku “Panggung Publik: Wayang, Simbol, dan Budaya Urban” dan tinjauan pameran bersama kurator.
Kurator pameran, Fajar Wijanarko menyebut pameran tahun ini sengaja dibuat lebih to the point agar langsung bisa didiskusikan pengunjung.
“Pameran ini kami upayakan untuk memberikan ruang diskusi secara langsung kepada publik dengan menyampaikan informasi yang cukup prominen tanpa harus melalui tahapan pemaknaan yang bertele-tele. Wayang sendiri sudah melampaui zaman dan ketika bertumbuh di Yogya dimaknai lebih casual,” ujarnya.

Secara garis besar, tema “Hageganti” ingin menyampaikan bahwa warisan budaya bisa berubah bentuk dan cara penyampaiannya tanpa kehilangan nilai dan jati diri. Wayang tidak hanya ditempatkan sebagai seni pertunjukan, tapi sebagai ruang membaca kembali nilai, cerita, simbol, dan pengetahuan budaya.
Itu sebabnya RUMAKET tidak hanya soal panggung. Selama sepekan masyarakat bisa menikmati pameran dan bazar kuliner setiap hari, pertunjukan tari WBTb, pemutaran film animasi wayang, aktivasi dan sinau dolanan anak, serta deretan talkshow seperti “Bahu Dhanyang”, “Dolanan Anak”, “Merawat Sanggul Gelung Ukel Tekuk”, “Kicak: Dari Warisan Rasa Menuju Kreativitas Ekonomi”, “Membaca Mitos”, hingga diskusi tentang kekayaan intelektual dan pelindungan budaya.
Salah satu program yang ditekankan adalah kedekatan dengan anak. Ada RUMAKET Bercerita “Srikandi Hari Ini” yang mengenalkan tokoh Srikandi lewat storytelling interaktif tentang keberanian dan ketekunan, serta workshop “Merawat Kain Batik, Menjaga Warisan” yang mengajarkan cara merawat batik secara berkelanjutan.
Di akhir rangkaian ada talkshow “Menemukan Indonesia dalam Warisan Budaya Yogyakarta” yang menempatkan warisan Yogya sebagai bagian dari keberagaman Indonesia. Seluruh rangkaian akan ditutup pada 10 Oktober dengan closing pameran, hasil kuratorial, dan pertunjukan Jathilan Klasik Satrio Mudho Budoyo. (Clementine Roesiani)
There is no ads to display, Please add some