beritabernas.com – Gabungan elemen masyarakat yang berada dalam ekosistem kawasan Tugu–Malioboro–Titik 0 Yogyakarta menggagas sebuah kampanye publik dan gerakan moral bertajuk Sego-Gudangan atau Semangat Gotong Royong Guyub Damai Anggone Ngupakara Sandang Pangan.
Gerakan ini berangkat dari pandangan bahwa keberlanjutan industri pariwisata Yogyakarta tidak cukup hanya ditopang oleh destinasi yang menarik dan aktivitas ekonomi yang hidup. Pariwisata juga membutuhkan daya dukung sosial yang aman, nyaman, guyub, dan damai.
“Sego Gudangan hendak menjadi narasi sederhana tentang ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada keguyuban, kedamaian, kebudayaan, keamanan, kenyamanan, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat,” kata Y Sri Susilo, salah satu warga Yogyakarta yang tinggal kawasan Keraton Yogyakarta.
Pemilihan nama Sego Gudangan bukan tanpa makna. Gudangan terdiri atas beragam unsur dengan rasa, bentuk, dan karakter yang berbeda, tetapi ketika diracik dan disajikan bersama, justru menjadi satu sajian yang utuh.
Baca juga:
- Soal Penurunan Foto Gibran di DPRD DIY, Dr Raden Stevanus Sepakat dengan Sultan HB X: Tidak Pantas
- Dr Yudi Prayudi: Penyadapan di Luar Kewenangan dapat Menimbulkan Dampak Berat
Filosofi tersebut menjadi simbol semangat golong-gilig: berbeda peran, berbeda latar belakang, dan berbeda kepentingan, tetapi tetap dapat menyatukan langkah untuk menjaga Malioboro sebagai ruang ekonomi rakyat yang hidup, aman, nyaman, guyub, dan damai.
Melalui Sego Gudangan, warga dan para pemangku kepentingan kawasan Tugu–Malioboro–Titik 0 diajak membangun kesadaran bersama bahwa menjaga suasana sosial yang kondusif merupakan bagian dari menjaga keberlanjutan ekonomi dan pariwisata Yogyakarta.
Sebagai langkah awal, gagasan tersebut dikonsolidasikan melalui seruan bersama warga Jogja yang digelar pada Minggu Wage, 8 November 2026 pukul 16.00 WIB di depan Teras Malioboro I Yogyakarta
Menurut Y Sri Susilo, forum ini menjadi ruang bertemunya berbagai elemen masyarakat untuk merumuskan langkah bersama yang sederhana, nyata, dan bermartabat dalam menjaga keberlanjutan ekonomi, pariwisata, serta kehidupan sosial di Yogyakarta.
Sego Gudang tidak dimaksudkan sebagai gerakan eksklusif milik kelompok tertentu. Sebaliknya, ia merupakan ajakan terbuka kepada seluruh warga dan elemen masyarakat untuk merawat ruang bersama dengan semangat saling menghargai, gotong royong, dan menjaga kedamaian.
Sebab, ketika warga guyub, kota menjadi tenteram; ketika suasana aman dan nyaman, usaha dapat berjalan; dan ketika ekonomi terus bergerak, penghidupan masyarakat dapat terjaga.
Y Sri Susilo yang juga sebagai Pengurus Kadin DIY mengatakan, Malioboro bukan sekadar destinasi wisata. Kawasan ini merupakan ruang bersama tempat bertemunya berbagai aktivitas ekonomi, sosial, budaya, dan kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Di kawasan ini, pelaku usaha, pedagang, pekerja, seniman, komunitas, wisatawan, dan masyarakat dari berbagai latar belakang bertemu dan sama-sama menggantungkan penghidupan serta harapan pada denyut ekonomi kawasan Malioboro. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some